Jambi

Cara Kemendikbud Ajarkan Anak Muda Lestarikan Budaya Jambi Dipuji DPRD

Ferdi Almunanda - detikSumut
Kamis, 11 Agu 2022 12:04 WIB
Peserta BBM saat Belajar alat musik Kelintang Perunggu yang mulai punah di Jambi
Foto: Istimewa
Jakarta -

Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kembali menggelar ajang Belajar Bersama Maestro (BBM) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi. Kegiatan BBM itu dihadirkan juga sesepuh seniman Kelintang Perunggu yakni nenek Aisyah untuk mengajarkan 20 pegiat seni budaya muda.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wahjudin menyampaikan, kegiatan belajar bersama Maestro ini dilaksanakan selama seminggu dalam upaya melestarikan kekayaan seni budaya Jambi.

"Di Tanjabtim ini sejumlah pegiat seni budaya muda atau yang tergolong anak muda masa kini untuk belajar dan bertukar pengetahuan tokoh seni budaya (Maestro) yang memiliki pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang mendalam. Program ini diharapkan menjadi simpul utama dalam penyebaran, pertukaran nilai dan pengetahuan serta ajang pembelajaran bagi sumber daya manusia kebudayaan, sehingga kelak mereka akan menjadi pelopor dalam upaya pemajuan kebudayaan," kata Judi kepada wartawan, Kamis (11/8/2022)


Judi menjelaskan penyelenggaraan BBM kali ini dilaksanakan di Tanjung Jabung Timur dengan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Kelintang Perunggu dengan Maestro nenek Aisyah. Penyelenggaraan BBM di Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan bentuk pendukungan Kegiatan Kenduri Swarnabhumi yang berupaya untuk memajukan kembali budaya dari daerah-daerah aliran Sungai Batanghari.

Selain itu, penyelenggaraan BBM di Tanjung Jabung Timur dengan OPK Kelintang Perunggu itu demi bertujuan untuk melestarikan kesenian kelintang perunggu yang sudah hampir punah.

Penyelenggaraan BBM di Tanjung Jabung Timur dilaksanakan secara luring yang berlangsung dari tanggal 8-14 Agustus 2022 di Gedung Nasional, Tanjung Jabung Timur Jambi. Penyelenggaraan BBM luring ini merupakan lanjutan dari BBM daring yang telah dilaksanakan pada tanggal 1 dan 2 Agustus 2022.

Penyelenggaraan BBM luring secara resmi dibuka oleh Sekretaris Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Nasrul Effendi. Peserta BBM di Tanjung Jabung Timur yang berjumlah 20 orang melibatkan pegiat seni budaya muda dari berbagai sanggar seni budaya yang berasal di beberapa kecamatan di Tanjung Jabung Timur, seperti Sanggar Bukit Menderang dari Kecamatan Muara Sabak Barat, Sanggar Bahtera Kencana dari Kecamatan Mendahara, dan masih banyak sanggar-sanggar yang lainnya.

Untuk diketahui, Kelintang perunggu adalah seni musik khas orang Melayu Timur yang menghuni kawasan sekitar Pantai Timur Sumatera, seperti Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi dan Indragiri Hilir di Provinsi Riau.

Komposisi alat musik Kelintang Perunggu terdiri atas Kelintang Perunggu, dua gendang Panjang, dan gong. Ketika Dimainkan, komposisi alat musik yang dominan adalah Kelintang Perunggu. Oleh karena itu, secara umum instrumen yang dimainkan oleh seni musik ini dinamakan Kelintang Perunggu.

Awal mula seni musik ini tak bisa lepas dari sejarah asal muasal orang Melayu Timur. Orang Melayu Timur mempercayai mereka berasal dari kawasan Tempasuk, daerah Mindanao, Phulipina dan Sabah, Malaysia yang berdatangan ke Pantai Timur Sumatera. Kedatangan orang-orang tersebut tak terlepas dari konflik Sultan Mahmud Syah III, penguasa Kesultanan Johor Pahang Riau dan Lingga dengan Belanda.

Sultan Mahmud Syah III meminta bantuan kepada penguasa Tempasuk untuk menghadapi Belanda. Prajurit dari Tempasuk pun mengalahkan Belanda. Orang-orang dari Tempasuk tersebut ada yang kembali ke daerahnya dan ada yang menetap di Daik Lingga dan berlayar ke Pantai Timur Sumatera, seperti daerah Tanjung Jabung.

Ketika berperang melawan Belanda, orang-orang Tempasuk tak hanya membawa senjata, namun membawa alat kesenian dari daerahnya. Alat musik yang dibawa tersebut adalah Kelintang Perunggu.

Kondisi dari seni musik ini terancam punah. Salah satu penyebabnya adalah sudah tidak banyak yang bisa memainkan. Kelitang Perunggu di Tanjung Jabung memiliki 18 jenis irama atau pukulan. Orang yang bisa memainkan 18 irama tersebut bisa dihitung jari dan rata-rata sudah uzur.

Selama kurang lebih tujuh hari, 20 peserta akan belajar bersama maestro Kelintang Perunggu dengan harapan para pegiat seni budaya muda tersebut dapat menjadi pelopor untuk melestarikan dan memajukan Kelintang Perunggu.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Jambi, Faizal Riza kembali mengapresiasi dan dukungan dalam pelestarian budaya Jambi ini. Menurut Faizal Riza saat ini kebudayaan lokal terutama alat musik tradisional Jambi mulai tergerus oleh arus globalisasi dan digitalisasi.

Maka dari itu, Faizal Riza juga menyebutkan jika kegiatan dalam melestarikan kembali kebudayaan lokal dan alat musik tradisional Jambi terus dilakukan karena sangat bermanfaat bagi penerus anak cucu nantinya.

"Saya sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan pelestarian budaya Jambi ini, di saat kebudayaan lokal terpinggirkan di arus globalisasi dan digitalisasi saat ini tentu kegiatan yang dilakukan ini sangat bermanfaat untuk memperkenalkan ke anak muda dalam mengetahui dan mempertahankan budaya yang ada," kata dia.

Wakil rakyat dari Fraksi Gerindra itu juga mengpresiasi Kemenbudristek atas diselenggarakan kegiatan ini dan berharap kegiatan ini rutin dapat dilakukan bukan hanya di Tanjabtim saja melainkan pula juga Se-kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi.

"Kami anggota DPRD Jambi juga meminta Pemprov, Pemkab maupun Kota untuk berjalan seiring dengan pemerintah pusat dalam rangka pelestarian budaya daerah ini," ujar Faizal Riza.

(akn/ega)