Sejumlah objek wisata yang berada di kawasan Gunung Dempo dan berada di Lahan HGU PTPN Regional VII ditutup sementara. Penutupan tersebut dapat berdampak pada menurunnya jumlah wisatawan yang datang.
Penutupan sejumlah objek wisata di kawasan Gunung Dempo, Kota Pagar Alam, memicu perhatian publik. Tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, kebijakan ini juga menghentikan aktivitas ekonomi warga yang selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan.
Masyarakat berharap tempat wisata tersebut segera dibuka kembali, sebab Kota Pagar Alam merupakan salah satu kawasan destinasi wisata utama di Sumsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun sejumlah objek wisata yang terdampak yakni Bukit Tungguan, Nature High Vila serta Kabelban Reas Area yang ditutup sementara. Sedangkan yang ditutup total yakni kebun Strawberry DS Planting, Homestay Wabisabi Kampung 4, lahan pertanian musiman, hingga rumah yang selama ini difungsikan sebagai tempat registrasi pendakian Gunung Dempo (Brigade).
Ketua Desa Wisata Gunung Dempo, Wawan Alamsyah membenarkan jika saat ini destinasi wisata yang ada di kawasan Gunung Dempo yang menggunakan lahan milik PTPN 7 ditutup sementara, akibat regulasi dan perizinan.
"Dampak utama akibat kebijakan penutupan di kawasan HGU PTPN, kami selaku pihak yang bekerja sama sementara harus melakukan komunikasi secara intens kepada pihak-pihak yang terlibat dalam usaha yang kami rintisian bersama selama ini," katanya saat dikonfirmasi.
Wawan juga mengajak kepada seluruh mitra maupun vendor yang bekerja sama, untuk sementara ini haru menaati kebijakan yang dikeluarkan. Menurutnya, langkah ini diambil untuk memastikan transparansi serta menjaga stabilitas ekosistem bisnis di lingkungan kawasan.
"Pihak pengelola menegaskan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari upaya penataan dan pemenuhan standar regulasi demi keberlangsungan usaha jangka panjang. Meski berdampak pada aktivitas rutin dan jadwal operasional mitra, manajemen berkomitmen untuk membuka ruang dialog guna meminimalkan kerugian ekonomi dan menyusun jadwal penyesuaian kegiatan," ujarnya.
Semenjak informasi penutupan ini viral di media sosial dan dapat berdampak pada miskomunikasi atau simpang siurnya informasi. Ia mengimbau para mitra untuk tetap mengikuti jalur komunikasi resmi, guna mendapatkan pembaruan terkini mengenai prosedur teknis selama masa penutupan berlangsung.
"Prioritas utama kami saat ini adalah memastikan seluruh mitra mendapatkan informasi yang akurat mengenai status operasional kawasan. Kami sedang mengoordinasikan langkah-langkah mitigasi agar kerja sama yang telah terjalin tetap terjaga hingga situasi kembali normal," tuturnya.
Ia berharap permasalahan ini cepat menemui titik terang, sebab kawasan wisata Gunung Dempo menjadi salah satu tujuan destinasi wisata yang ada di Sumsel. Selain itu, dengan adanya beberapa objek wisata yang ditutup akan berdampak pada ekonomi atau pemasukan warga sekitar yang mengelola wisata yang ada.
"Harapan kami penutupan ini segera menemukan titik temu agar kami dapat kembali mencari nafkah," tutupnya.
(dai/dai)











































