Jejak Budaya Tionghoa di Kampung Kapitan Palembang

Sumatera Selatan

Jejak Budaya Tionghoa di Kampung Kapitan Palembang

Widia Ardhana - detikSumbagsel
Sabtu, 28 Mar 2026 21:00 WIB
Kampung Kapitan Palembang
Foto: Kampung Kapitan Palembang (Widia Ardhana)
Palembang -

Kampung Kapitan di Palembang menjadi salah satu jejak sejarah keberadaan etnis Tionghoa yang masih bertahan hingga kini. Kawasan berusia ratusan tahun ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga tetap dihuni oleh keturunan langsung pendirinya hingga generasi ke-14.

Kawasan yang berada di tepi Sungai Musi, tepatnya di Jalan KH Abdullah Azhari, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-17.

Penerus pemilik Kampung Kapitan generasi ke-14, Suriyanto, mengatakan leluhur mereka datang ke Palembang sekitar tahun 1600-an dengan tujuan berdagang, sebelum akhirnya menetap dan membangun hunian di kawasan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya leluhur kami datang dari Tiongkok sekitar abad ke-17 atau sekitar tahun 1644 untuk berdagang. Setelah beberapa waktu menetap, barulah dibangun rumah ini," ujarnya.

Ia menyebut, bangunan utama di Kampung Kapitan telah berusia ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun. Namun, tidak semua catatan sejarah keluarga masih tersimpan lengkap.

ADVERTISEMENT

"Kami ini sudah generasi ke-14, tetapi silsilah dari generasi awal sampai ke-9 sudah tidak ada. Yang masih bisa kami telusuri lebih jelas mulai dari generasi ke-11," katanya.

Menurut Suriyanto, sebutan 'Kapitan' merujuk pada jabatan yang pernah disandang leluhurnya pada masa kolonial. Saat itu, Kapitan berperan sebagai pemimpin komunitas Tionghoa di Palembang.

"Kapitan itu semacam kepala komunitas Tionghoa pada masa itu, lebih ke peran mengatur masyarakat," jelasnya.

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, perawatan rumah-rumah tua di kawasan tersebut hingga kini masih dilakukan secara mandiri oleh keluarga. Suriyanto mengatakan belum ada pengelolaan langsung dari pemerintah terhadap kawasan tersebut.

Untuk perawatan rumah-rumah tua ini kami lakukan sendiri. Belum ada bantuan khusus, jadi kami rawat secara mandiri," ujarnya.

Ia juga mengaku memiliki kekhawatiran apabila pengelolaan kawasan sepenuhnya diambil alih, karena dapat berdampak pada kehidupan keluarga yang masih menetap di sana.

"Kalau semuanya dikelola pihak luar, kami khawatir harus meninggalkan tempat ini. Padahal di sini bukan hanya rumah, tapi juga ada tempat sembahyang dan pusaka keluarga," katanya.

Menurutnya, keberadaan tempat ibadah dan nilai budaya yang masih dijaga menjadi alasan utama keluarga tetap mempertahankan kawasan tersebut.

"Di sini kami masih beraktivitas dan beribadah. Itu yang ingin tetap kami jaga," tambahnya.

Hingga kini, Kampung Kapitan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga destinasi wisata sejarah yang menarik perhatian masyarakat. Kawasan ini kerap dikunjungi wisatawan, komunitas, hingga pelajar yang ingin mengenal lebih dekat jejak sejarah Tionghoa di Palembang.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads