Selain terkenal dengan tempat wisatanya, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan juga memiliki banyak bangunan bersejarah yang tak kalah menariknya. Salah satunya yakni masjid agung di Kota Lubuklinggau.
Menariknya, Kota Lubuklinggau ini memiliki dua masjid agung. Yang pertama yakni Masjid Agung Al-Baari dan Masjid Agung As-Salam. Lokasi kedua masjid ini juga tidak terlalu jauh antara satu sama lain.
Masjid Agung Al-Baari sendiri berada di seberang Polres Lubuklinggau tepatnya di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Jawa Kanan SS, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
Sementara Masjid Agung As-Salam berada hanya sekitar 800 meter dari Masjid Agung Al-Baari yakni di Jalan Garuda, Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
Masjid Agung Al-Baari
Pemandu Museum Subkoss Lubuklinggau Berlian Susetyo mengatakan pemberian nama Masjid Agung Al-Baari sendiri merupakan hasil dari musyawarah para pengelola masjid dan akhirnya disepakati nama 'Bari' sebagai nama masjid tersebut.
"Nama Bari yang diusulkan oleh bapak Kms. H.M. Hanan itu diambil dari Bahasa Palembang yang berarti lama. Kemudian kata tersebut disempurnakan menjadi Al-Baari yang merupakan salah satu nama Asmaul Husna yang berarti yang maha membentuk, membuat, atau mengembangkan," katanya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Senin (26/1/2026).
Berlian mengatakan tujuan yang diharapkan dari nama tersebut yaitu masjid ini dapat membentuk atau membuat jemaahnya agar memiliki keimanan dan ketaqwaan yang benar sesuai dengan pemahaman salafush shaleh atau ahlus sunah wal jama'ah, sehingga terciptalah keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat.
"Hasil musyawarah tersebut disampaikan kepada Pemerintah Kota Lubuklinggau sehingga pada 12 Juni 2008, masjid agung lama ini berganti nama menjadi Masjid Agung Al-Baari Kota Lubuklinggau," ungkapnya.
Masjid Agung Al-Baari sendiri pertama kali didirikan pada tahun 1925 yang mana pada saat itu pemerintah kolonial sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan di Lubuklinggau.
"Pada masa itu juga bangunan-bangunan lainnya di sekitaran masjid perlahan dibangun, seperti rute kereta api (sekarang menjadi stasiun kereta api), kantor pos, dan penjara (sekarang menjadi kantor bank pelat merah)," ujarnya.
Pada awal berdirinya, Berlian menjelaskan bahan utama yang digunakan untuk membangun masjid ini yakni bahan dari kayu yang dijadikan dinding serta pondasinya. Sementara untuk pembuatan lantainya mengunakan bahan semen.
"Meskipun sudah lama dibangun, kepengurusan Masjid Agung Al-Baari baru dibentuk pada tahun 1999 dikarenakan sebelum masyarakat belum banyak yang tahu tentang struktur kepengurusan. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan dibidang pengelolaan masjid, terbentuklah Yayasan Masjid Agung pada periode kepengurusan tahun 2008 - 2011," jelasnya.
Baca juga: Asal-usul dan Sejarah Nama Kota Lubuklinggau |
"Namun seiring berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing pengurus pada saat itu, maka rencana tersebut mengalami kendala dan hambatan hingga akhir tahun 2015. Kemudian pada periode tahun 2016-2020 terbentuklah pengelola masjid yakni Yayasan Masjid Agung Al-Baari Kota Lubuklinggau yang resmi berdiri berdasarkan SK Wali Kota pada saat itu," sambungnya.
Berlian berkata, Masjid Agung Al-Baari sendiri beberapa bukti peninggalan sejarah seperti sebuah Al-Qur'an yang bertulisan tangan yang dihadiahkan dari Kesultanan Palembang Darussalam.
"Al-Qur'an tersebut berukuran tebal 8 cm, lebar 22 cm, panjang 32 cm, menggunakan kertas Eropa Abad ke XVII. Al-Qur'an kuno tersebut kini tersimpan di Museum Subkoss Lubuklinggau," bebernya.
Sejak awal berdirinya Masjid Agung Al-Baari di Kota Lubuklinggau oleh para pendahulu dan pemerintah, masjid tersebut telah diberi nama Masjid Agung karena saat itu belum ada masjid besar di wilayah Kabupaten Musi Rawas yang dapat dijadikan pusat kegiatan umat Islam.
Seiring perkembangan otonomi daerah dan dibangunnya, Masjid Agung As-Salam pun kemudian dibangun sehingga menjadikan kota Lubuklinggau mempunyai dua masjid agung.
Simak Video "Video: Lansia di Lubuklinggau Ditemukan Tewas di Rumahnya"
(dai/dai)