Mengenal Tradisi Pantauan Bunting, Adat Pernikahan Suku Besemah di Lahat

Mengenal Tradisi Pantauan Bunting, Adat Pernikahan Suku Besemah di Lahat

Bagus Rahmat Nugroho - detikSumbagsel
Sabtu, 03 Jan 2026 09:30 WIB
Mengenal Tradisi Pantauan Bunting, Adat Pernikahan Suku Besemah di Lahat
Suasana tradisi pantauan bunting di Lahat. (Foto: Dok. Pariwisata Lahat)
Palembang -

Pantauan bunting merupakan tradisi pernikahan yang berasal dari Suku Besemah, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tradisi ini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat sebagai simbol kebersamaan dan tali silaturahmi.

Kata pantauan bunting berasal dari bahasa Besemah "cek" yang berarti undangan dan "ammer" yang berarti pengantin. Tradisi ini telah dikenal oleh masyarakat Besemah sejak kecil.

Penasaran dengan tradisi Pantauan Bunting? Berikut detikSumbagsel sajikan informasi lengkapnya mulai dari pengertian, waktu pelaksanaan, hingga pergeseran tradisinya. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Tradisi Pantauan Bunting

Tradisi pantauan bunting merupakan adat pernikahan khas Suku Besemah yang berasal dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dilansir dari jurnal berjudul Keterkaitan Jarak Geografis Terhadap Eksistensi Tradisi Pantauan Bunting (Konstruksi Sosial Suku Besemah, Lahat, Indonesia), tradisi ini dilakukan dengan cara masyarakat sekitar akan memanggil sepasang pengantin untuk datang ke rumah mereka dan menyiapkan berbagai hidangan makanan ringan hingga berat.

Waktu Pelaksanaan Tradisi Pantauan Bunting

Tradisi ini biasa dilaksanakan setelah akad nikah atau sehari sebelum pesta pernikahan dilangsungkan. Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang melaksanakan tradisi ini pada saat melangsungkan pernikahan baik pada pagi hari sebelum pesta dimulai atau sore hari setelah pesta dilangsungkan. Hal ini tergantung dengan kesepakatan antara masyarakat dan calon pengantin.

ADVERTISEMENT

Prosesi Tradisi Pantauan Bunting

Dilansir dari jurnal berjudul Pertukaran Sosial Dalam Tradisi Pantauan Bunting Pada Suku Bangsa Besemah di Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan, berikut ini prosesinya:

  • Diawali dengan bunting betine (pengantin wanita) menjemput bunting lanang (pengantian pria) untuk mengajak bunting lanang pergi ke rumah kerabat pengantin wanita.
  • Setiba di rumah yang dituju, tuan rumah telah menunggu di depan rumah atau ketika melihat pengantin menuju rumahnya.
  • Kemudian pengantin akan mengucapkan salam secara Islam yang dibalas tuan rumah lalu bersalaman.
  • Selanjutnya tuan rumah mempersilahkan pengantin dan rombongan masuk untuk mencicipi hidangan, sementara tuan rumah di luar atau masuk sebentar lalu keluar setelah hidangan disediakan. Hal ini dilakukan agar pengantin yang dipantau tidak sungkan saat makan.
  • Proses ini dianggap selesai jika seluruh rumah yang mantau telah dikunjungi.

Nilai dan Tujuan Tradisi Pantauan Bunting

Tradisi ini bertujuan memperkuat ikatan antar warga. Dengan berkeliling, pengantin menunjukkan rasa terima kasih pada orang-orang yang telah mendukung perjalanan hidup mereka, sekaligus menegaskan ikatan keluarga yang lebih luas.

Pergeseran Tradisi Pantauan Bunting

Seiring dengan berjalannya waktu tradisi ini mulai mengalami beberapa pergeseran, sebagai berikut.

1. Makanan

Terdapat beberapa makanan yang harus ada pada saat pantauan dulu, yaitu dodol, ikan pepes dan lemang yang merupakan makanan khas suku Besemah. Seiring berkembangnya zaman, makanan yang dihidangkan pun semakin beragam, bahkan ketiga makanan itu sudah sangat jarang ditemukan.

2. Pakaian

Jika dahulu pengantin laki-laki menggunakan jas dan perempuan menggunakan baju khas Besemah yaitu baju kutu baru atau bisa menggunakan kebaya serta bawahannya menggunakan kain yang disebut dengan kain kincong. Akan tetapi di zaman sekarang pengantin pria dapat menggunakan baju batik atau kokoh sedangkan perempuannya mengenakan dress atau gamis.

3. Pelaksanaan tradisi

Dahulu apabila ada yang melangsungkan pernikahan, semua masyarakat akan melaksanakan tradisi Pantauan Bunting tanpa terkecuali. Tetapi kini, hanya pihak keluarga dan tetangga yang dirasa cukup dekat dengan calon pengantin.

4. Biaya

Tradisi ini memerlukan biaya yang tak sedikit karena perlu untuk membeli makanan yang akan dihidangkan pada saat pelaksanaan tradisi. Sedangkan tak semua ekonomi masyarakat cukup dan memilih tidak melakukannya.

Itulah dia, rangkuman seputar tradisi Pantauan Bunting di Lahat, semoga rasa penasaran detikers terjawab ya!

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(mep/mep)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads