Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat ekspor batu bara di Sumsel mengalami penurunan tajam hingga hampir 50 persen secara akumulasi pada periode Januari hingga Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan penurunan ini menjadi salah satu catatan penting dalam perkembangan ekonomi daerah, mengingat batu bara merupakan komoditas unggulan Sumatera Selatan.
"Arus ekspor batu bara mengalami penurunan yang cukup tajam, bahkan secara akumulasi hampir 50 persen dibandingkan tahun lalu," ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, penurunan tersebut diduga dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar luar negeri, serta adanya penyesuaian produksi dari perusahaan tambang yang berkaitan dengan kontrak kerja sama.
Selain faktor eksternal, kebijakan internal perusahaan juga dinilai turut berpengaruh terhadap volume produksi dan ekspor. Namun, BPS menegaskan bahwa pihaknya hanya mencatat pergerakan data, sementara keputusan produksi sepenuhnya berada di masing-masing perusahaan.
Meski ekspor mengalami penurunan, BPS belum dapat memastikan apakah produksi batu bara dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hal ini masih memerlukan kajian lebih lanjut.
"Kami belum melihat apakah ada pergeseran ke pasar dalam negeri. Itu masih perlu didalami lebih lanjut," katanya.
Menurut Wahyu, secara teori, apabila ekspor menurun dan produksi tetap, maka ada kemungkinan distribusi ke pasar domestik meningkat. Namun, hingga saat ini, indikasi tersebut belum terlihat secara signifikan dalam data yang tersedia.
Kondisi ini, lanjutnya, perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi daerah, terutama pada sektor pertambangan yang selama ini menjadi salah satu penopang utama.
Penurunan ekspor batu bara juga dapat berdampak pada penerimaan daerah serta aktivitas ekonomi turunan yang berkaitan dengan sektor tersebut, seperti transportasi dan jasa pendukung lainnya.
Meski demikian, Wahyu menilai diperlukan analisis lanjutan untuk melihat dampak secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya pergeseran kontribusi dari sektor lain yang dapat menutup penurunan tersebut.
"Yang jelas, ini menjadi catatan penting. Kita perlu melihat ke depan bagaimana pergerakannya, apakah akan kembali meningkat atau justru berlanjut," pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(csb/csb)











































