Angka kemiskinan di Sumatera Selatan tercatat turun menjadi 10,1 persen dan kembali menjadi perhatian publik seiring upaya pemerintah daerah mengejar target satu digit. Pengamat sosial menilai capaian tersebut realistis untuk dilanjutkan karena ditopang oleh kekuatan struktural pembangunan ekonomi, sosial, dan birokrasi di daerah.
Berdasarkan berita sebelumnya, penurunan angka kemiskinan di Sumatera Selatan menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, keberlanjutan penurunan tersebut dinilai sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan integrasi antar sektor pembangunan.
Pengamat Sosial Sumatera Selatan, Alfitri, menilai target penurunan angka kemiskinan hingga satu digit dapat dicapai karena Sumatera Selatan memiliki sejumlah modal pembangunan yang kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara ekonomi, Sumatera Selatan menjadi pusat pembangunan infrastruktur. Ada pengembangan Tanjung Carat, perluasan jaringan jalan tol, serta sejumlah program strategis nasional yang memberi efek berganda bagi perekonomian daerah," ujar Alfitri, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan.
Selain faktor ekonomi, Alfitri menekankan pentingnya kondisi sosial yang kondusif sebagai syarat keberlanjutan pembangunan. Ia menilai stabilitas sosial dengan tingkat konflik yang rendah menjadi modal utama agar pembangunan terpadu dapat berjalan optimal.
"Situasi sosial yang kondusif dan minim konflik merupakan syarat penting agar pembangunan bisa berkelanjutan dan manfaatnya dirasakan secara luas oleh masyarakat," katanya.
Di sisi lain, pelayanan birokrasi juga dinilai memegang peran strategis. Alfitri menyebut kemudahan perizinan investasi sebagai salah satu faktor kunci dalam meningkatkan minat investor untuk menanamkan modal di Sumatera Selatan.
Ia mendorong agar kebijakan ke depan lebih memberi ruang bagi tumbuhnya investasi serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang digerakkan oleh generasi muda.
"Ruang bagi UMKM, terutama kaum muda, perlu diperluas agar mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menyerap tenaga kerja," ucapnya.
Sebagai pelengkap upaya struktural tersebut, Alfitri menilai program sosial seperti percepatan penurunan stunting, program bedah rumah, serta subsidi perumahan tetap krusial karena berdampak langsung dalam mengurangi beban masyarakat miskin dan menekan angka kemiskinan di Sumatera Selatan.
Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di Detikcom.
(dai/dai)











































