Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menimbulkan sejumlah keluhan kesehatan pada masyarakat di Lampung. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung menyebut gangguan pernapasan hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu keluhan yang perlu diwaspadai.
Plt Kepala Dinkes Lampung, dr. Djohan Lius mengatakan pihaknya terus memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik. Petugas di kabupaten/kota juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak kesehatan.
"Keluhan-keluhan yang dirasakan adalah kaitan dengan gangguan pernapasan, infeksi saluran pernapasan, kemudian juga iritasi pada mata, serta ada laporan paparan debu di kulit yang menimbulkan reaksi gatal-gatal," kata dia.
Untuk mempercepat penanganan, Dinkes Lampung telah menginstruksikan pengaktifan Tim Reaksi Cepat (TRC) di kabupaten/kota terdampak. Tim tersebut bertugas memantau kondisi warga sekaligus melakukan kajian cepat apabila ditemukan masyarakat yang membutuhkan penanganan medis.
Dinkes juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, termasuk lansia. Laporan mengenai warga kelompok rentan yang terdampak abu vulkanik telah diterima, meski belum seluruh masyarakat mengalami dampak yang sama.
"Ada laporan-laporan seperti itu, tapi tidak juga secara keseluruhan semuanya terdampak. Situasi secara umum masih dapat terkendali," ujarnya.
Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diminta mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak diperlukan. Warga juga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Selain itu, pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup ketika abu vulkanik masih berpotensi masuk ke permukiman. Dinkes mengingatkan masyarakat agar memperhatikan cara membersihkan abu karena karakteristiknya berbeda dengan debu biasa.
Dinkes Lampung juga berkoordinasi dengan BPBD, TNI, Polri, Basarnas serta pemerintah di tingkat kecamatan dan desa untuk memastikan penanganan berjalan terpadu.
Sementara itu, berdasarkan laporan yang diterima Dinkes, sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah Lampung pada Minggu (6/9/2026) pagi hingga siang mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya.
Meski demikian, Dinkes meminta masyarakat tetap waspada terhadap perubahan arah angin yang dapat kembali membawa abu vulkanik ke wilayah Lampung.
"Keadaan kita di Lampung lebih membaik, tapi tetap kita waspadai kalau-kalau arah angin berubah dan kita juga terdampak," pungkasnya.
Simak Video "Video: Karhutla Meluas, Kasus ISPA di Palangka Raya Sentuh Rekor Tertinggi di Kalteng"
(dai/dai)