Kasus flu Singapura atau Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) di Sumatera Selatan, terus mengalami kenaikan pada tahun ini. Hingga pekan ke-23, jumlah yang terdampak sebanyak 628 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah mengatakan penyakit ini terus mengalami lonjakan setiap pekannya.
"Hingga pekan ke-23, jumlah kasus flu Singapura sebanyak 628 orang. Tren penderitanya masih di kisaran puluhan orang setiap pekannya di Sumsel," ujar Ira, Senin (13/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Dinkes Sumsel, kenaikan signifikan kasus ini mulai terjadi pada pekan ke-16, yang tercatat naik sebanyak 48 kasus hingga pekan ke-23 di kisaran puluhan kasus. Sementara pada pekan 1-15, jumlah kejadian berkisar antara 1 kasus hingga 19 kasus.
Dari jumlah kasus yang ada, Kota Palembang terbanyak laporan dengan 118 kasus flu Singapura. Disusul Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 82 kasus, Musi Banyuasin dan Prabumulih masing-masing 78 kasus, Muara Enim 65 kasus Lahat 62 kasus, dan Lubuklinggau 54 kasus.
"HFMD memang penyakit musiman. Kasus di Sumsel biasanya naik pada dua momen, saat pancaroba atau peralihan musim hujan ke kemarau dan sebaliknya. Penyebaran bisa terjadi dimana saja, seperti ketika anak-anak kumpul di ruang ber-AC atau di taman bermain indoor," katanya.
Sementara itu, daerah lain juga turut melaporkan adanya kasus HFMD meski dengan jumlah yang lebih rendah. Empat Lawang, OKU Timur, dan Muratara menjadi wilayah paling sedikit terdampak, masing-masing hanya 3 orang.
"Flu Singapura atau HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 5-7 tahun. Penyakit ini juga dapat menyerang dewasa, orang rentan terinfeksi saat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tidak diterapkan dengan baik," jelasnya.
Penyakit ini timbul dengan gejala demam, sariawan di mulut yakni di lidah, gusi, atau pipi bagian dalam. Juga muncul ruam dan benjolan kecil di sekitar mulut, telapak tangan, kaki, hingga bokong, dan nyeri tenggorokan.
"Masa inkubasi terjadi 3-6 hari setelah kena virus. Yang bahaya, kalau anak sampai lemas, kejang, susah napas, dan tangan kaki dingin. Bisa jadi komplikasi ensefalitis. Harus langsung dibawa ke IGD RS," ungkapnya.
Penyakit ini menular melalui kontak langsung dengan cairan hidung dan tenggorokan, air liur, cairan lepuhan, dan feses penderita. Penyakit ini dapat menyebar cepat, terutama di lingkungan yang melibatkan banyak anak-anak.
"Orang tua juga diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala HFMD agar mendapat penanganan sedini mungkin," tukasnya.
