Helikopter Water Bombing Sumsel Dialihkan ke TPA Jatiwaringin

Sumatera Selatan

Helikopter Water Bombing Sumsel Dialihkan ke TPA Jatiwaringin

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Jumat, 10 Jul 2026 15:01 WIB
Helikopter jenis UR-VBC/MI8-MSBT reposisi ke TPA Jatiwaringin.
Foto: Helikopter jenis UR-VBC/MI8-MSBT reposisi ke TPA Jatiwaringin. (Dok. BPBD Sumsel)
Palembang -

Helikopter water bombing yang disiagakan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) dialihkan untuk membantu pemadaman di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang. Kini tersisa empat helikopter water bombing yang bersiaga di Sumsel.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman membenarkan reposisi satu helikopter tersebut. Meski dialihkan, kekuatan armada udara untuk penanganan karhutla di Sumsel dinilai masih mencukupi.

"Iya, seharusnya di Sumsel ada lima helikopter water bombing namun satu digeser ke Tangerang untuk pemadaman di TPA Jatiwaringin. Saat ini di Sumsel ada empat yang disiagakan untuk penanganan karhutla," ujarnya, Jumat (10/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Helikopter yang dialihkan itu adalah jenis UR-VBC/MI8-MSBT. Armada itu melakukan penugasan di Sumsel sejak 6 Juni 2026. Block time helikopter itu tercatat selama 19 jam lebih dengan melakukan 6 sorti dan 121 kali water bombing atau menyiramkan 484 ribu liter.

Selain armada pemadaman dari udara, BPBD Sumsel juga tetap mengoperasikan dua unit helikopter patroli untuk memantau perkembangan titik panas (hotspot) dan mendeteksi secara dini potensi kebakaran di wilayah rawan karhutla.

ADVERTISEMENT

"Untuk helikopter patroli tetap dua unit. Operasionalnya tidak berubah dan terus digunakan untuk melakukan pemantauan wilayah-wilayah yang rawan terjadi karhutla," katanya.

Sudirman menjelaskan, patroli udara dilakukan rutin, terutama di daerah yang terdeteksi adanya hotspot. Informasi hasil patroli kemudian diteruskan kepada tim darat dan udara agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin jika ditemukan titik api.

Katanya, meski satu armada dialihkan, kesiapsiagaan penanganan karhutla di Sumsel tetap menjadi prioritas. Pihaknya juga masih menunggu instruksi dari BNPB terkait penambahan armada helikopter water bombing menghadapi puncak kemarau pada Agustus-September.

"Saat ini total ada enam armada yang standby di Sumsel. Terkait kesiapan puncak kemarau dan peningkatan kejadian karhutla di Sumsel, kita masih menunggu instruksi BNPB," tukasnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads