Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menyelamatkan seekor anak gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), yang terjerat seling baja di hutan kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Jambi. Anak gajah tersebut diketahui telah dua pekan berjalan pincang akibat terkena jeratan tersebut.
Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko mengatakan proses penyelamatan itu dilakukan setelah petugas memantau adanya perlambatan pergerakan kelompok gajah dari GPS Collar, pada Minggu (14/6/2026).
Setelah disurvei lapangan, sambungnya, diketahui anak gajah jantan berusia 15 bulan itu mengalami luka jerat, yang berasal dari kelompok gajah bernama Wardani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita monitor lewat GPS Collar dan satelit serta survei lapangan, diketahui ada anak gajah berjalan pincang," kata Himawan, Senin (29/6/2026).
Setelah mengetahui ada anak gajah terluka, petugas BKSDA membentuk tim untuk melakukan penyelamatan dengan memberikan pengobatan terhadap anak dari kelompok mamalia besar itu. Selanjutnya, petugas menjelajahi lokasi anakan gajah yang terluka itu.
Himawan menyebut bahwa anak gajah bernama Sakda itu mengalami luka jerat di kaki depan sebelah kirinya. Seling baja tersebut bahkan masih menempel di kaki tersebut saat berupaya diobati oleh petugas.
Tim medis dan personel BKSDA melakukan penanganan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa tersebut dengan melepas jeratan.
"Lukanya perkiraan sudah dua minggu. Beruntung tulangnya belum luka remuk, baru luka terbuka. Kita upayakan pengobatan dan memberi bius," ujarnya.
Himawan menyebut bahwa saat terpantau terkena jerat kelompok gajah tersebut tengah menjauh dari kawasan konsesi perusahaan. Dia menduga jeratan itu akibat dari interaksi negatif gajah dan manusia.
"Seling baja itu diduga kena di area jelajah. Memang terpantau melewati area berpagar listrik," ujarnya.
Saat ini, kondisi anak gajah tersebut telah membaik setelah diobati petugas dan kembali ke induk dan kelompoknya.
Himawan menambahkan sejauh ini populasi gajah yang berada di Bentang Alam Bukit Tigapuluh mencapai 120 ekor, dari 6 kelompok gajah yang telah dipasang GPS Colar. Dari 120 itu, BKSDA Jambi mencatat ada sekitar 15 anakan gajah yang berusia 5 bulan hingga 2 tahun.
Gajah sumatera di lanskap Bukit Tigapuluh kini berada dalam kondisi kritis mulai dari berkurangnya wilayah jelajah akibat deforestasi hingga ancaman interaksi negatif dengan manusia.
Belum lagi ancaman akibat pemasangan kawat listrik sepanjang 95,88 kilometer berada di wilayah konsesi perusahaan karet PT LAJ, yang merupakan wilayah jelajah satwa besar tersebut.
"Gajah ini kan satwa jelajah ya. Tentu jerat atau pagar listrik, atau pengusiran, menjadi ancaman terhadap keberlangsungan hidup gajah ini," ungkapnya.
Baca juga: Gajah Berusia 42 Tahun di Way Kambas Mati |
(csb/csb)
