Perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram merupakan momen yang dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, pergantian tahun Hijriah ini dirayakan dengan tradisi yang beragam dan sarat makna.
Salah satu daerah yang memiliki tradisi khas dalam menyambut 1 Muharram adalah Sumatera Selatan (Sumsel), yang kaya akan warisan budaya dan kuliner. Berbagai tradisi tersebut dapat ditemui di sejumlah wilayah, salah satunya di Kabupaten Muara Enim.
Berikut detikSumbagsel sajikan informasi mengenai mengenai sejumlah tradisi 1 Muharram yang ada di Sumsel. Cek, yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi 1 Muharram di Sumsel
Dilansir dari jurnal berjudul Tradisi di Muara Enim dalam Memperingati Tahun Baru Islam karya Ayun Sofiana dan kawan-kawan. Berikut sejumlah tradisi 1 Muharram, antara lain:
1. Pawai Obor Keliling Kampung
Salah satu tradisi yang kerap dinantikan saat menyambut datangnya 1 Muharram adalah tradisi pawai obor. Tradisi ini melibatkan hampir para warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua.
Nantinya mereka akan berkumpul di titik pusat yang telah ditentukan setelah shalat Mahgrib, membawa obor bambu yang sudah dinyalakan. Pawai kemudian bergerak mengelilingi kampung sesuai dengan rute yang ditentukan, sembari melantunkan shalawat dan takbir.
2. Dzikir dan Doa Bersama
Setelah pawai obor selesai, biasanya masyarakat akan berkumpul bersama di masjid atau musholla untuk melaksanakan dzikir dan dosa bersama. Dzikir akan dipimpin oleh tokoh agama setempat, dengan melantunkan kalimat-kalimat thayyibah dan doa-doa khusus menyambut tahun baru.
3. Ceramah Agama dan Tausyiah
Pada hari menjelang atau sesudah 1 Muharram, terkadang juga diadakan ceramah agama atau tausiyah di masjid atau balai desa. Tema ceramah yang disampaikan pun bervariasi, namun umumnya berkaitan dengan makna hijrah, refleksi diri, hingga pentingnya menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pertunjukan Seni Tradisional
Dalam sejumlah perayaan Tahun Baru Islam, terutama yang berada di tingkat kecamatan atau kabupaten, seringkali juga diadakan pertunjukan seni yang bernafaskan Islam. Adapun pertunjukannya bisa berupa hadroh, marawis, hingga seni tari yang mengandung pesan-pesan keagamaan dan budaya lokal.
Pertunjukan seni ini juga dapat menjadi salah satu sarana dakwah yang efektif dan menarik, terutama untuk generasi muda. Selain itu, pertunjukan seni tradisional juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian daerah yang bernilai islami.
5. Pembuatan Lemang Bersama
Tradisi menarik lainnya adalah pembuatan lemang secara bersama-sama. Kegiatan ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang 1 Muharram. Para warga terutama kaum perempuan, akan berkumpul di suatu tempat atau halaman rumah untuk membuat lemang.
Proses pembuatan kuliner berbahan ketan dan santan di dalam bambu ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, mulai dari persiapan bahan hingga proses pembakaran di atas tungku.
Proses panjang inilah yang menjadi ruang silaturahmi bagi warga, sebelum akhirnya lemang yang matang nantinya akan dinikmati bersama-sama setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Demikian informasi mengenai tradisi 1 Muharram yang ada di Sumatera Selatan. Semoga bermanfaat ya detikers!
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
