Apa Itu Tahun Baru Islam? Berikut Sejarah dan Keutamaannya

Apa Itu Tahun Baru Islam? Berikut Sejarah dan Keutamaannya

Rika Amelia - detikSumbagsel
Sabtu, 13 Jun 2026 09:01 WIB
125 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah Penuh Makna hingga dalam Bahasa Arab
Foto: Ilustrasi Tahun Baru Islam (Getty Images/Baramyou0708)
Palembang -

Tahun baru Islam menjadi salah satu momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Perayaan ini menandai pergantian tahun kalender Hijriah yang dimulai setiap tanggal 1 Muharram.

Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan pesta dan hiburan, Tahun baru Islam lebih dimaknai sebagai momen untuk refleksi diri, introspeksi diri, meningkatkan kualitas ibadah.

Lantas, apa itu Tahun Baru Islam dan bagaimana sejarahnya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Tahun Baru Islam?

Dilansir laman Badan Amil Zakat Nasional, Tahun Baru Islam Hijriah merupakan pergantian tahun dalam kalender Islam yang ditandai dengan masuknya tanggal 1 Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Pada Juni tahun 2026 ini, umat Islam akan memasuki Tahun Baru Hijriah 1448.

Tahun Baru Islam bukan hanya sekedar pergantian angka tahun, namun juga menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kehidupan di masa mendatang. Peristiwa ini mengingatkan Islam pada hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madina, yang menjadi awal penanggalan kalender Hijriah.

ADVERTISEMENT

Berbeda dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang identik dengan pesta dan hiburan, Tahun Baru Hijriah lebih dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Umat Islam biasanya mengisi momen ini dengan berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur'an, serta melakukan berbagai amalan baik.

Kalender Hijriah sendiri menggunakan peredaran bulan sebagai dasar perhitungannya. Karena itu, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah sekitar 354 hingga 355 hari, sehingga lebih pendek sekitar 10 hingga 11 hari dibandingkan kalender Masehi yang menggunakan peredaran matahari.

Sejarah Tahun Baru Islam

Melansir laman Pondok Pesantren Aulia Cendekia Pekanbaru dan NU Online, Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah berawal dari penetapan kalender Hijriah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun ke-17 Hijriah. Sebelum adanya kalender tersebut, umat Islam belum memiliki sistem penanggalan resmi yang mencantumkan tahun sehingga sering mengalami kesulitan dalam urusan administrasi dan pencatatan pemerintahan.

Kebutuhan akan penanggalan yang lebih teratur muncul ketika Abu Musa Al-Asy'ari, Gubernur Basrah saat itu, mengirim surat kepada Umar bin Khattab. Ia mengeluhkan kesulitan dalam mengelola dokumen dan surat-menyurat karena tidak adanya keterangan tahun yang jelas. Menanggapi hal tersebut, Umar kemudian mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah mencari solusi terbaik.

Dalam musyawarah itu, beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam diusulkan sebagai titik awal kalender, mulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, turunnya wahyu pertama sebagai awal kenabian, peristiwa hijrah ke Madinah, hingga wafatnya Rasulullah SAW. Setelah melalui berbagai pertimbangan, para sahabat akhirnya sepakat memilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam.

Keputusan tersebut diambil karena hijrah dianggap sebagai tonggak penting dalam perkembangan Islam. Peristiwa itu tidak hanya menandai perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga menjadi awal terbentuknya masyarakat Islam yang kuat dan terorganisasi. Hijrah menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, serta perubahan menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Islam.

Penetapan hijrah sebagai awal kalender Islam juga dikaitkan dengan firman Allah SWT mengenai Masjid Quba yang dibangun setelah Rasulullah SAW tiba di Madinah. Allah SWT berfirman:

Ω„Ω‘ΩŽΩ…ΩŽΨ³Ω’Ψ¬ΩΨ―ΩŒ Ψ£ΩΨ³Ω‘ΩΨ³ΩŽ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ω±Ω„ΨͺΩ‘ΩŽΩ‚Ω’ΩˆΩŽΩ‰Ω° مِنْ Ψ£ΩŽΩˆΩ‘ΩŽΩ„Ω
ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…Ω Ψ£ΩŽΨ­ΩŽΩ‚Ω‘Ω Ψ£ΩŽΩ† ΨͺΩŽΩ‚ΩΩˆΩ…ΩŽ ΩΩΩŠΩ‡Ω ۚ
ΩΩΩŠΩ‡Ω Ψ±ΩΨ¬ΩŽΨ§Ω„ΩŒ ΩŠΩΨ­ΩΨ¨Ω‘ΩΩˆΩ†ΩŽ Ψ£ΩŽΩ† يَΨͺΩŽΨ·ΩŽΩ‡Ω‘ΩŽΨ±ΩΩˆΨ§ΫŸ ۚ
ΩˆΩŽΩ±Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΩŠΩΨ­ΩΨ¨Ω‘Ω Ω±Ω„Ω’Ω…ΩΨ·Ω‘ΩŽΩ‡Ω‘ΩΨ±ΩΩŠΩ†ΩŽ

"Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."

(QS. At-Taubah: 108).

Ayat tersebut menunjukkan besarnya makna hijrah dalam perjalanan dakwah Islam. Karena itu, para sahabat menjadikan peristiwa tersebut sebagai penanda dimulainya kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.

Para sahabat memilih Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah karena bulan ini telah lama dikenal oleh masyarakat Arab sebagai awal tahun dalam urutan bulan-bulan mereka. Selain itu, niat dan persiapan hijrah Rasulullah SAW juga mulai dilakukan setelah musim haji yang berakhir menjelang Muharram.

Sejak saat itulah kalender Hijriah resmi digunakan sebagai sistem penanggalan umat Islam. Nama "Hijriah" sendiri berasal dari kata hijrah yang berarti berpindah atau meninggalkan sesuatu menuju keadaan yang lebih baik.

Oleh sebab itu, Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Momen ini menjadi pengingat akan semangat hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam. Umat Muslim pun diajak menjadikan pergantian tahun sebagai waktu untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta menata kehidupan agar menjadi lebih baik di masa mendatang.

Keutamaan Tahun Baru Islam

Dalam sejarah Islam, 1 Muharram memiliki makna yang istimewa. Selain menjadi awal tahun baru Hijriah, bulan ini juga menyimpan berbagai keutamaan bagi umat Muslim.

1. Awal Tahun Baru Hijriah

Dilansir dari Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan, 1 Muharram menandai dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah yang ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Momen ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah.

2. Termasuk Bulan Haram yang Dimuliakan

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan maksiat karena memiliki nilai pahala yang besar.

3. Disebut sebagai Bulan Allah (Syahrullah)

Muharram memiliki kedudukan istimewa karena disebut sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah. Rasulullah SAW juga menyebut puasa di bulan Muharram sebagai puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadan.

4. Terdapat Hari Asyura

Bulan Muharram memiliki hari istimewa yaitu Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan berpuasa karena memiliki keutamaan besar, salah satunya dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa setahun yang lalu.

5. Bulan yang Dianjurkan untuk Berpuasa

Selain puasa Asyura, Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak puasa sunnah. Ibadah ini dapat meningkatkan ketakwaan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

6. Waktu Memperbanyak Amal Saleh

Muharram merupakan bulan penuh keberkahan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan membantu sesama. Berbagai amalan tersebut diharapkan membawa keberkahan sepanjang tahun.

7. Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri

Datangnya 1 Muharram sering dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir. Melalui muhasabah, umat Islam dapat memperbaiki kekurangan, menyusun target kebaikan, dan memulai tahun baru dengan semangat yang lebih baik.

Demikian penjelasan mengenai Tahun Baru Islam lengkap dengan sejarah dan keutamaan, semoga bisa menambah wawasan detikers!

Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker detik.com




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads