Sebanyak 40 titik panas (hotspot) terpantau di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Diduga titik panas itu muncul dikarenakan ada yang melakukan pembakaran lahan.
Kepala BPBD Muratara Hasbi Hasidqi mengatakan saat ini wilayah Muratara masih berada dalam masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Namun, pihaknya mulai meningkatkan kewaspadaan berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG.
"Edaran akan menyusul dalam minggu-minggu ini. Ini belum masuk masa karhutla, masih transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Namun berdasarkan BMKG, dari bulan Juni sampai Agustus 2026 ini diperkirakan musim kemarau hingga dikhawatirkan terjadinya fenomena El Nino Godzilla. Ini yang harus kita jaga dan antisipasi," katanya, Kamis (4/6/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasbi menjelaskan hampir seluruh kecamatan di Muratara masuk kategori rawan karhutla karena kondisi lahan yang cenderung kering. Beberapa wilayah juga memiliki lahan gambut yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
"Untuk daerah rawan hampir seluruh kecamatan di Muratara itu rawan semua karena kondisi lahannya kering. Sebagian kecil merupakan lahan gambut seperti di Rawas Ilir, Nibung, Karang Dapo, dan Rupit. Daerah-daerah itu yang lahan gambutnya cukup banyak," ungkapnya.
Terkait kemunculan titik panas atau hotspot, ia menduga sebagian diantaranya berasal dari aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.
"Kalau dari perkiraan kami, kemungkinan masih ada pola masyarakat yang membuka lahan dengan cara dibakar. Kemarin hotspot sempat tinggi, ada sekitar 40 titik pada Jumat (29/5/2026) kemarin, lalu setelahnya langsung turun. Artinya api cepat padam dan kemungkinan intensitasnya kecil seperti pembakaran lahan kebun yang setelah selesai langsung padam," jelasnya.
Menurut Hasbi, sebagian besar titik panas tersebut terdeteksi berada di wilayah Kecamatan Rawas Ilir.
"Sekarang hotspot tinggal sekitar lima titik. Kebanyakan berada di wilayah Kecamatan Rawas Ilir. Kemungkinan besar terkait aktivitas pembukaan lahan," ujarnya.
Maka dari itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena selain melanggar aturan, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan hingga kesehatan.
"Yang jelas kami imbau tidak boleh membuka lahan dengan cara dibakar karena itu tidak diperbolehkan. Dampaknya bisa mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Yang jelas masyarakat harus tetap waspada," ujarnya.
Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena kebakaran dapat terjadi meski tanpa unsur kesengajaan.
"Masyarakat diimbau untuk waspada karena lahan ini tidak dibakar pun bisa sampai terbakar, apalagi jika membuang puntung rokok sembarangan atau membuka lahan kebun dengan cara dibakar," katanya.
Selain masyarakat, Hasbi juga telah mengingatkan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Muratara agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.
"Untuk perusahaan sudah kami imbau. Kami juga meminta titik koordinat wilayah mereka. Kami berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah kita supaya siaga dan melakukan antisipasi terhadap karhutla," jelasnya.
Kemudian antisipasi itu juga diperkuat dengan bekerja sama dari berbagai pihak, mulai dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI, Polri hingga personel Yonif yang bertugas di wilayah tersebut.
"Kami tetap berkolaborasi dengan Manggala Agni, masyarakat peduli api, TNI, Polri, dan Yonif. Kami juga menyediakan call center agar masyarakat bisa segera melapor jika terjadi kebakaran. Jadi masyarakat yang menemukan kebakaran dapat menghubungi BPBD Muratara melalui nomor layanan 0811-7887-41983," ujarnya.
(csb/csb)











































