Tema Waisak 2026 Lengkap Cara Merayakannya

Tema Waisak 2026 Lengkap Cara Merayakannya

Bagus Rahmat Nugroho - detikSumbagsel
Sabtu, 30 Mei 2026 09:00 WIB
Ilustrasi festival lampion saat Waisak.
Ilustrasi Hari Raya Waisak. (Foto: Gemini AI)
Palembang -

Waisak 2026 jatuh pada hari Minggu, 31 Mei 2026. Pada Tahun ini Hari Raya Waisak mengusung tema tersendiri yang diharapkan dapat menyemarakkan sekaligus memperdalam makna perayaannya. Lalu, apa tema Hari Raya Waisak 2026?

Puncak acara Waisak nasional akan berlangsung di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Adapun detik-detik Waisak sendiri dijadwalkan pada pukul 15.44.44 WIB.

Melalui perayaan ini, umat Buddha tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga diajak untuk merefleksikan ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Berikut detikSumbagasel sajikan tema Waisak 2026 lengkap cara merayakannya. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Tema Perayaan Waisak 2026?

Dikutip detikNews, Waisak 2570 BE/2026 kali ini mengusung tema "Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan" dengan subtema "Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia". Tema ini tidak hanya dimaknai sebagai pesan spiritual semata, melainkan juga sebagai pengingat bagi umat Buddha untuk menjadikan ajaran Dharma sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, subtema yang diangkat menekankan tentang pentingnya cinta kasih sebagai fondasi utama agar tercipta kedamaian, baik dalam lingkup sosial atau negara.

ADVERTISEMENT

Bagaimana cara Umat Buddha Merayakan Waisak?

Perayaan Waisak umumnya berlangsung sejak pagi hingga malam hari di vihara. Setiap tradisi memiliki makna spiritual yang berhubungan dengan pengendalian diri hingga refleksi kehidupan.

Perayaan Waisak diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan keagamaan yang mencerminkan nilai pengendalian diri, kebijaksanaan, dan cinta kasih, berikut ini sejumlah tradisinya:

1. Puja Bakti dan Pembacaan Paritta

Salah satu kegiatan utama saat Hari Raya Waisak adalah puja bakti bersama di Vihara. Dalam ritual ini, umat Buddha melakukan penghormatan doa-doa suci atau yang disebut paritta. Biasanya, pada puja bakti juga diisi oleh meditasi, khotbah Dhamma dan Bhikkhu, hingga doa bersama untuk kedamaian dunia.

2. Mengamalkan Lima Sila Buddha

Saat Waisak, umat Buddha juga lebih disiplin dalam menjalankan ajaran moral atau yang dikenal sebagai Lima Sila Buddha. Adapun isi lima sila Buddha antara lain sebagai berikut:

  • Panatipata veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih menahan diri dari membunuh makhluk hidup)
  • Adidana veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih menahan diri dari mengambil barang yang tidak diberikan)
  • Kamesu Micchacara veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih menahan diri dari perbuatan asusila)
  • Musavada veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih menahan diri dari bicara yang tidak benar)
  • Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih menahan diri dari tidak makan makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan)

3. Bermeditasi

Meditasi juga merupakan salah satu bagian penting dalam perayaan Waisak, di mana umat Buddha memanfaatkan momen ini untuk sebagai waktu untuk mengintropeksi kembali tentang dirinya.

4. Menyalakan Lilin dan Melepas Lampion

Tradisi lain yang juga hampir selalu ada dalam perayaan Waisak adalah menyalakan lilin dan melepas lampion. Lilin biasanya menjadi simbol cahaya kebijaksanaan yang dapat mengusir kegelapan batin manusia.

Selain itu, pelepasan lampion juga menjadi salah satu tradisi yang dikenal masyarakat. Salah satu agenda pelepasan lampion yang terkenal adalah pelepasan ribuan lampion di kawasan Candi Borobudur.

5. Memandikan Patung Buddha di Vihara

Tradisi lain yang juga ada adalah memandikan patung Buddha di vihara yang biasanya dilakukan menggunakan air suci yang telah dicampur bunga harum sambil diiringi doa-doa.

Ritual tersebut menyimbolkan penyucian diri dari berbagai sifat buruk. Karena itu, memandikan patung Buddha tidak hanya sekadar tradisi simbolis, melainkan pengingat agar manusia senantiasa membersihkan hati dan pikiran.

6. Mengibarkan Bendera Buddha

Di sejumlah daerah, umat Buddha juga mengibarkan bendera Buddha saat Waisak berlangsung. Bendera Buddha memiliki lima warna utama yang masing-masing memiliki makna tersendiri, selain itu gabungan warna dari berbagai warna itu dikenal dengan istilah "Prabhasvara", yang memiliki arti cahaya yang bersinar dengan sangat terang.

Berikut penjelasan masing-masing warnanya:
Warna biru berasal dari warna rambut Buddha, melambangkan bakti atau pengabdian.
Warna kuning emas berasal dari warna kulit Buddha, melambangkan kebijaksanaan.

Warna merah tua berasal dari warna darah Buddha, melambangkan cinta kasih.
Warna putih berasal dari warna tulang dan gigi Buddha, melambangkan kesucian.
Warna jingga berasal dari warna telapak tangan, kaki, dan bibir Buddha, melambangkan semangat.

8. Pindapatta dan Kegiatan Sosial

Pindapatta atau pemberian sedekah makanan pada Bhikkhu juga sering dilakukan saat Waisak. Umat Buddha biasanya memberikan berbagai kebutuhan pokok atau sosial untuk membantu memenuhi kebutuhan para Bhikkhu.

Selain itu, banyak vihara juga mengadakan kegiatan sosial seperti donor darah, pembagian sembako, hingga pengobatan gratis bagi masyarakat.

Demikian informasi mengenai tema Waisak 2026 lengkap dengan cara merayakannya. Semoga bermanfaat ya, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Puluhan Bhikkhu Jalan Kaki Bali-Borobudur Bawa Misi Damai Waisak 2026"
[Gambas:Video 20detik]
(mep/mep)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads