Kasus Bibir Sumbing di Sumsel Tertinggi Kedua di Indonesia, OKI Terbanyak

Sumatera Selatan

Kasus Bibir Sumbing di Sumsel Tertinggi Kedua di Indonesia, OKI Terbanyak

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Sabtu, 23 Mei 2026 13:00 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru buka bakti sosial bibir sumbing
Gubernur Sumsel Herman Deru buka bakti sosial bibir sumbing (Foto: Welly Jasrial Tanjung/detikcom)
Palembang -

Kasus bibir sumbing di Sumatera Selatan (Sumsel) masih tergolong tinggi. Kabupaten Ogan Komering Ili (OKI) menjadi daerah terbanyak kasus bibir sumbing.

"Saya mendapat laporan kasus bibir sumbing di Sumsel masih cukup tinggi. Karena itu harus disisir lagi dan diinventarisir supaya masyarakat yang membutuhkan bisa segera ditangani," ujar Deru menghadiri kegiatan bakti sosial operasi bibir sumbing dan celah langit-langit mulut di Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Provinsi Sumsel, Jumat (22/5/2026).

Deru pun meminta kepada dinas kesehatan segera menyurati seluruh bupati dan wakil bupati serta wali kota di Sumsel untuk aktif melakukan pendataan hingga ke daerah-daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dinas kesehatan harus aktif menyisir dan mendata masyarakat yang membutuhkan operasi bibir sumbing," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Trisnawarman mengatakan kasus bibir sumbing di Sumsel tergolong tinggi bahkan menjadi peringkat kedua tertinggi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Kasus bibir sumbing di Sumsel cukup tinggi. Dari data riset kesehatan, sekitar satu dari seribu kelahiran mengalami kelainan bibir sumbing," katanya.

Kasus paling banyak bibir sumbing di Sumsel paling banyak ditemukan berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan.

Untuk penyebab bibir sumbing bersifat multifaktorial. Namun sebagian besar dipengaruhi faktor kongenital atau keturunan.

Selain itu, lanjut Trisnawarman, faktor lain seperti konsumsi obat-obatan tertentu saat hamil hingga paparan radiasi juga dapat menjadi pemicu.

"Banyak yang memang dipengaruhi faktor genetik atau keturunan. Ada juga yang disebabkan faktor obat-obatan saat kehamilan dan paparan radiasi," jelasnya.

Menurutnya, bibir sumbing bukan hanya masalah estetika, tetapi juga dapat mengganggu fungsi tubuh, terutama pada bayi yang mengalami celah hingga langit-langit mulut.

"Kalau sampai mengenai langit-langit mulut, bayi bisa kesulitan minum karena susu dapat masuk ke paru-paru dan membahayakan," katanya.

Trisnawarman menambahkan, operasi bibir sumbing minimal dapat dilakukan saat bayi berusia lima bulan, tergantung kondisi kesehatan pasien.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads