Gubernur Jambi, Al Haris meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja di RSUD Daud Arif buntut meninggalnya seorang dokter internship yang bertugas di rumah sakit tersebut. Dia ingin evaluasi itu dilakukan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pelayanan kesehatan di Jambi.
"Ini harus jadi perhatian serius. Sistem kerja, pola jaga hingga beban kerja harus dievaluasi agar kejadian seperti ini tidak terulang," kata Al Haris kepada detikSumbagsel, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, sistem kerja tenaga medis harus memperhatikan kondisi fisik maupun mental para dokter, khususnya dokter muda yang tengah menjalani masa internship.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini saya mendapat informasi kalau dokter internship itu mendapatkan tugas tambahan jam kerja. Jam tambahan mereka piket, namun libur 2 hari, nah ini kan saya kita tidak baik. Jadikan itu mereka (pihak RSUD) memaksa jam bekerja jadinya, maka ini mesti harus dievaluasi," ujar dia.
Menurut Al Haris, langkah Pemprov Jambi untuk menjadikan ini sebagai perhatian serius mesti dilakukan. Apalagi ini berkaitan dengan masalah nyawa manusia.
"Maka, sistem kerja, pola jaga hingga beban kerja harus dievaluasi agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ucap Al Haris.
Selain itu, Al Haris turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dokter internship tersebut. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi musibah itu.
Ia juga meminta pihak rumah sakit bersama instansi terkait melakukan penelusuran menyeluruh terkait penyebab meninggalnya dokter internship tersebut. Pemerintah Provinsi Jambi, kata dia, ingin memastikan seluruh tenaga kesehatan mendapatkan lingkungan kerja yang baik dan manusiawi.
Al Haris juga menyinggung soal bagaimana mengenai kedatangan dokter internship yang langsung menuju dan ditempatkan di Rs daerah namun tidak sampai memberitahu terlebih dahulu ke pihak Dinas Kesehatan Provinsi.
"Kan biasanya itu, setiap ada dokter internship yang datang, yang SK-nya dari pusat, ketika ke daerah menemui Pemprov dulu yakni ke pihak Dinkesnya. Lalu dari kadis baru diarahkan dibimbing lalu kemudian dikirim ke daerah, begitu SOP nya, ini tidak dari pusat SK keluar langsung ke daerah yang dituju," sebut dia.
Maka dari itu, banyak hal yang menjadi pelajaran penting dalam kejadian meninggalnya dokter internship di RSUD Daud Arif Tungkal itu. Selaku Gubernur, Al Haris ingin persoalan sekecil apapun harus dibenahi demi menjaga keselamatan kerja yang manusiawi.
Tidak hanya itu saja, dia juga menegaskan sekali lagi agar RSUD Daud Arif segera memilih Direktur Rs dari pihak kedokteran. Kenapa, bagi dia jika berlatar belakang kedokteran maka tentu setiap tugas kedokteran dipahami dan diketahui.
"Saya minta segeralah angkat Dirut RSUD di sana dari latar belakang dokter. Jadi mereka tahu cara-cara operasional kerja Rs, dan banyak lainnya tentang sistem kerja pihak kesehatan, supaya apa, supaya ini tidak terulang lagi, dan lagi, dan ini tentu akan menjadi pelajaran penting bagi pihak Rs mana pun di Jambi," tegas Al Haris.
Diketahui, kasus meninggalnya dokter internship ini menjadi perhatian publik dan memunculkan sorotan terhadap sistem kerja tenaga medis di rumah sakit. Bahkan kasus meninggalnya dokter magang ini telah mendapatkan respon luar biasa dari pihak Kemenkes sehingga telah beberapa kali ke Jambi menuju Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat demi menginvestigasi soal kematian dokter tersebut.
Hari ini, pihak Kemenkes juga tiba ke Jambi untuk kembali menuju RSUD Daud Arif bersama Al Haris selaku Gubernur buat melengkapi dokumen penting atas meninggalnya dokter internship itu. Hingga kini, meninggalnya dokter internship itu juga belum dibeberkan secara langsung oleh pihak Kemenkes sejak beberapa kali turun ke RSUD itu.
(dai/dai)











































