Masjid Al-Abduh Palembang yang diresmikan Menteri Agama Nasruddin Umar akhir Desember 2024 lalu meraih penghargaan Masjid Teladan 2026. Penghargaan untuk masjid wasiat dan cinta itu diberikan langsung Wali Kota Palembang Ratu Dewa.
Masjid metropolis yang berlokasi di Jalan Sunarna Suka Mulya, Sematang Borang, ini diganjar penghargaan karena memiliki beberapa keunggulan. Tak hanya rumah ibadah, tetapi turut menjadi pusat kajian islam di Kota Pempek dan kini memiliki 160 murid tahfidz.
Berbagai kajian, majelis taklim, belajar ngaji hingga tilawah digelar secara rutin di Masjid Al Abduh. Termasuk pelatihan penyembelihan hewan kurban syar'i dan sunatan massal gratis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangunan masjid berwarna putih dengan ornamen keemasan tersebut dibangun oleh keluarga almarhum Muhammad Abduh dengan kapasitas 1.000 shaf. Tentu saja, kenyamanan menjadi prioritas pengurus setelah resmi bisa digunakan masyarakat.
Ratu Dewa menyebut, ada lima masjid di Palembang yang menerima penghargaan serupa. Salah satunya Masjid Al-Abduh ini yang dinilai paling layak sebagai masjid teladan tahun ini.
"Ada lima masjid yang menerima penghargaan, dan salah satunya Masjid Al-Abduh menjadi yang paling inspiratif serta layak sebagai Masjid Teladan 2026," katanya kepada detikSumbagsel, Kamis (16/4/2026).
Dewa menekankan pentingnya mempertahankan kualitas pengelolaan masjid sebagai tempat yang nyaman. Termasuk manajemen pengurus hingga kegiatan keagamaan lain.
"Kami berharap masjid yang menerima penghargaan ini dapat terus mempertahankan keunggulan dalam aspek manajemen, kegiatan keagamaan, serta fasilitas yang mendukung kenyamanan jamaah," ungkapnya.
Pusat Pemberdayaan Umat
Masjid Al-Abduh Palembang Raih Penghargaan Masjid Teladan Foto: (Foto: Irawan) |
Ketua Yayasan Masjid Al-Abduh, Muhammad Haikal yang juga putra keempat pewakaf masjid bersyukur atas capaian tersebut. Haikal mengaku bangga dan menilai penghargaan yang didapat merupakan hasil kerja sama semua pihak.
"Alhamdulillah, terima kasih atas support dari seluruh masyarakat sekitar dan jajaran pengurus DKM Masjid Al-Abduh. Ini semua tidak akan bisa diraih tanpa kebersamaan," ujarnya.
Tak berhenti di situ, pengurus juga ingin menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah masyarakat saja. Tetapi pusat pemberdayaan umat.
"Kami ingin Masjid Al-Abduh bukan hanya sebagai tempat beragama, tetapi juga menjadi tempat pemberdayaan umat, meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mencerdaskan anak-anak yang mencintai Al-Qur'an," katanya.
Hal itu terbukti dengan pengelolaan rumah tahfidz yang ada saat ini. Bahkan, antusias anak-anak dalam memperdalam ilmu agama terus meningkat.
Sekretaris Masjid Al-Abduh, Karni menyebut penghargaan ini sebagai hasil kerja kolektif yang berkelanjutan. Ini juga jadi vitamin bagi pengurus dalam meningkatkan fasilitas yang ada.
"Penghargaan ini merupakan hasil dari kerja kolektif yang terstruktur dan berkelanjutan. Ke depan, kami akan terus memperkuat tata kelola administrasi, meningkatkan transparansi program, serta mengembangkan kegiatan edukatif, sosial, dan keagamaan," ujarnya.
Selain itu, dukungan berbagai pihak menjadikan masjid tersebut terus menjadi contoh dalam pengelolaan yang profesional.
"Kami berharap dukungan dari seluruh pihak agar Masjid Al-Abduh dapat terus menjadi contoh dalam pengelolaan masjid yang profesional dan berorientasi pada kemaslahatan umat," kata Karni.
Wasiat dan Cinta di Balik Megahnya Masjid Al Abduh
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar meresmikan Masjid Al-Abduh di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Foto: (Foto: Irawan) |
Masjid megah berwarna putih dengan ornamen kuning keemasan itu dibangun oleh anak, menantu, cucu dan keluarga Mohammad Abduh. Beliau adalah putra kelahiran Tanjung Sakti, 18 September 1938 silam.
Mohammad Abduh adalah putra kedua dari lima bersaudara. Beliau juga tercatat sebagai anak aktivis Muhammadiyah, pejuang veteran di Tanjung Sakti dan pendakwah yaitu Ki Agus Kosim Thaib.
Anak kedua Mohammad Abduh, Komjen Polisi Mohammad Iqbal mengungkap perjuangan semasa hidup sang bapak. Pahit manisnya kehidupan dilalui sejak remaja hingga bisa meraih gelar sarjana hukum di Universitas Sriwijaya.
Tidak hanya aktif di organisasi kampus dan kepemudaan, Mohammad Abduh juga aktif sebagai pengurus masjid dan musala. Itu sebagai bentuk kecintaannya kepada rumah ibadah umat muslim.
Tahun 1967, Mohammad Abduh akhirnya melabuhkan hati dan menikah dengan Siti Muslaini. Dari bahtera rumah tangga tersebut Mohammad Abduh dan Siti Muslaini dikaruniai lima orang anak yakni Novi Rahmi, Komjen Mohammad Iqbal, Imam Al Farabi, Muhammad Haikal, dan Aga Khan.


