Kondisi jalan di kawasan Pasar Buah Induk Jakabaring Palembang dikeluhkan para pedagang dan pembeli. Pedagang pun secara sukarela patungan untuk memperbaiki jalan yang rusak tersebut.
Pantauan detikSumbagsel di lokasi, jalanan di pasar tersebut tampak hancur, becek, dan kerap tergenang air saat hujan deras mengguyur.
Kondisi ini sempat viral di media sosial setelah warga mengeluhkan sulitnya akses masuk pasar. Hingga Senin (13/4/2026), belum ada tindakan nyata dari pengelola swasta terkait kerusakan yang sudah berlangsung setahun lebih tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu pedagang buah, Andri menyebut para pedagang terpaksa merogoh kocek pribadi untuk mengecor jalan secara mandiri. Hal ini dilakukan agar pembeli tetap mau masuk ke kios mereka.
"Kami patungan sendiri, per lapak ada yang keluar Rp 1 juta untuk mengecor jalan. Ini dana pribadi karena belum ada gerak dari pengelola, Koperasi Al-Hidayah," ujar Andri kepada detikSumbagsel, Senin (13/4/2026).
Senada, Herman yang juga pedagang di Blok B menyoroti penarikan retribusi harian yang dinilai tidak sebanding dengan pelayanan pengelola. Ia menyayangkan dana yang disetorkan pedagang setiap hari tidak menyentuh perbaikan fasilitas dasar seperti jalan dan drainase.
"Retribusi ditarik terus, tapi jalannya tetap hancur begini. Kami bayar kewajiban kami, tapi masih belum ada solusi perbaikan jalan. Kalau hujan deras area kami sudah seperti lautan karena air tidak mengalir," tegas Herman.
Herman menambahkan, kondisi jalan yang hancur dan becek ini sangat merugikan pedagang. Banyak pembeli yang akhirnya enggan masuk ke area Blok B dan C karena khawatir kendaraan mereka rusak atau kotor.
"Pembeli malas masuk karena sayang mobilnya terkena becek. Pemasukan kami jelas terganggu karena orang cuma mau belanja di bagian depan yang kering saja. Padahal retribusi di sini tetap jalan terus," keluhnya.
Masalah kebersihan juga disorot Dadang, pedagang lainnya. Ia menyebut tumpukan sampah di depan pasar sering dibiarkan hingga pedagang terpaksa membakar sampah sendiri secara swadaya.
"Sampah jarang diambil sampai menumpuk di depan. Karena pusing melihatnya, pedagang terpaksa bakar sendiri. Harusnya pengelola sigap, jangan terkesan dibiarkan," kata Dadang.
Para pedagang berharap pihak pengelola segera melakukan perbaikan permanen dan menata kembali sistem drainase. Mereka mendesak agar uang retribusi yang terkumpul benar-benar digunakan untuk kenyamanan dan keberlangsungan usaha di Pasar Induk Jakabaring.
Kabag Swasta Perumda Pasar, Dede menyatakan bahwa permasalahan tersebut bukan berada di bawah wewenangnya. Ia menjelaskan bahwa wilayah Pasar Buah Induk Jakabaring sepenuhnya dikelola oleh pihak swasta.
"Permasalahan tersebut bukan wewenang kami. Itu wewenang Ketua Koperasi Al-Hidayah, Pak Abu Bakar, karena wilayah pasar buah tersebut milik pihak swasta yakni Koperasi Al-Hidayah," jelas Dede saat dikonfirmasi, Senin.
Sementara itu, pihak Koperasi Al-Hidayah selaku pengelola resmi wilayah tersebut belum memberikan respons terkait keluhan warga dan pedagang mengenai kerusakan fasilitas di pasar ketika dihubungi detikSumbagsel.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
