Presiden Amerika Donald Trump mengeluarkan ancaman akan memblokade Selat Hormuz, imbas dari gagalnya perundingan damai antara antara AS dan Iran. Ancaman itu langsung direspons Iran.
Dilansir detikNews, Selat Hormuz sempat diblokade oleh Iran saat perang dengan AS-Israel berkecamuk. Iran telah secara efektif memblokade Selat Hormuz selama berminggu-minggu, sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye pengeboman terhadap republik Islam tersebut lebih dari enam minggu lalu.
Meski begitu, Teheran telah mengizinkan kapal-kapal milik negara-negara sahabat untuk melintasinya, sementara melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara-negara agresor dan pendukungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum perang meletus, sekitar 20 juta barel minyak global biasanya melintasi jalur perairan penting tersebut setiap harinya. Karena blokade yang dilakukan Iran, memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Dengan kata lain, tujuan Iran memblokade Selat Hormuz agar sebagai daya tawar karena negara Republik Islam itu sedang digempur habis-habisan oleh AS dan Israel. Setelah harga minyak global meningkat karena blokade tersebut, AS dan Iran tiba-tiba menyetujui gencatan senjata selama dua minggu.
Perang pun berhenti sementara. AS dan Iran kemudian menggelar perundingan damai di Pakistan. Namun, perundingan itu gagal mencapai kesepakatan. Baik AS maupun Iran saling tuding soal gagalnya perundingan tersebut. AS pun bereaksi dengan mengancam akan memblokade Selat Hormuz.
"Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh Kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz," kata Trump di platform Truth Social miliknya dilansir kantor berita AFP, Minggu (12/4/2026).
"Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur (blown to hell)!," imbuhnya.
Trump juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang telah membayar bea masuk kepada Iran akan dihentikan di perairan internasional. Trump menyebut AS memblokade Selat Hormuz untuk membersihkannya dari ranjau dan membuka untuk semua pelayaran, tetapi Iran tidak boleh diizinkan untuk mengambil keuntungan dari mengendalikan perairan tersebut.
Militer AS mengumumkan dua kapal perangnya telah melintasi selat tersebut pada awal operasi pembersihan ranjau. Trump memperingatkan bahwa pada akhirnya, pasukan AS akan "menghabisi sisa-sisa kecil dari Iran" jika diperlukan.
AS ingin memblokade Selat Hormuz agar otoritas Iran yang sebelumnya berkuasa di sana, dilumpuhkan total. AS juga telah mengumumkan akan memulai blokade semua pelabuhan Iran pada hari Senin (13/4) waktu setempat.
"Blokade akan diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman," kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa blokade akan dimulai pada pukul 14.00 GMT pada hari Senin (13/4).
Menanggapi hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut setiap kapal militer AS yang mendekati Selat Hormuz secara langsung melanggar gencatan senjata AS-Iran yang seharusnya berlaku hingga 22 April. Oleh karena itu mereka mengancam akan menindak tegas setiap kapal militer yang melewati kawasan tersebut dengan kekuatan penuh.
"Jika musuh tidak mengerti, kami akan membuat mereka mengerti," kata seorang anggota divisi kedirgantaraan IRGC yang mengenakan pakaian militer dan masker hitam untuk menyembunyikan identitasnya melalui siaran televisi pemerintah seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (13/4/2026).
IRGC juga menolak laporan militer AS yang mengatakan bahwa dua kapal perang milik Negeri Paman Sam berhasil melewati Selat Hormuz sebagai persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut yang menghalangi jalur air strategis tersebut.
Di sisi lain, pernyataan IRGC ini turut mendapat dukungan dari anggota parlemen Iran yang didominasi oleh kelompok garis keras. Bahkan mereka berpendapat bahwa ancaman Trump yang ingin menutup Selat Hormuz hanyalah omong kosong.
"Apa yang dia (Trump) katakan setelah negosiasi hanyalah omong kosong. Dia hanya mengungkapkan keinginannya secara terang-terangan," kata Ebrahim Azizi, kepala komisi keamanan nasional parlemen Iran.
Di luar itu, banyak masyarakat Iran juga berpendapat bahwa AS tidak dalam posisi untuk mendikte bagaimana negara mereka harus berperilaku atau untuk memilih kapal mana yang boleh lewat di Selat Hormuz.
"Jika blokade ini menjadi pertarungan antara ketahanan Republik Islam dan ketahanan pasar global, tidak akan lama lagi kita akan melihat siapa yang kalah. Iran siap untuk perang yang berkepanjangan," kata Zohreh Kharazmi, seorang profesor madya di Universitas Teheran.
"Secara teknis, mereka (AS) tidak dapat mengendalikan situasi. Dengan strategi ala Hollywood, mereka tidak akan bisa menang di medan pertempuran ini," sambungnya.
(dai/dai)











































