Kampung Kapitan Palembang Ramai Dikunjungi Saat Momen Lebaran

Sumatera Selatan

Kampung Kapitan Palembang Ramai Dikunjungi Saat Momen Lebaran

Widia Ardhana - detikSumbagsel
Sabtu, 28 Mar 2026 06:30 WIB
Kampung Kapitan Palembang
Foto: Kampung Kapitan Palembang (Widia Ardhana)
Palembang -

Kawasan bersejarah Kampung Kapitan di Palembang mengalami peningkatan kunjungan saat momen Idul Fitri. Berbeda dengan hari biasa dan bulan Ramadan yang cenderung sepi, destinasi ini justru ramai didatangi wisatawan saat Lebaran

Kampung Kapitan yang terletak di Jalan KH Abdullah Azhari, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan ini merupakan pemukiman etnis Tionghoa tertua di kota tersebut. Kawasan ini tercatat telah berdiri sejak sekitar tahun 1644 dan berada di tepi Sungai Musi

Salah satu penerus pemilik Kampung Kapitan generasi ke-14, Suriyanto, mengatakan jumlah pengunjung saat Lebaran bisa mencapai puluhan orang setiap harinya

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau Lebaran memang lebih ramai, bisa puluhan pengunjung dalam sehari. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, bahkan ada juga dari luar daerah seperti Jambi dan Bengkulu," ujarnya

Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik saat bulan Ramadan maupun hari biasa. Menurut Suriyanto, pengunjung yang datang sangat minim, bahkan terkadang tidak ada sama sekali

ADVERTISEMENT

"Kalau Ramadan sepi, begitu juga hari biasa. Kadang dalam sehari tidak ada pengunjung sama sekali," katanya.

"Sejauh ini kalau Lebaran, pasti ada saja yang datang setiap hari," sambungnya

Suriyanto menjelaskan, Kampung Kapitan juga ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari komunitas, organisasi, hingga pelajar dan wisatawan umum.

"Biasanya yang datang itu dari komunitas, organisasi, anak sekolah, sampai wisatawan juga banyak, terutama saat momen liburan seperti Lebaran," ujarnya.

Dia menyebut, pengunjung yang datang ke Kampung Kapitan tidak dikenakan biaya tiket masuk. Namun, pihak pengelola menyediakan kotak donasi bagi pengunjung yang ingin memberikan sumbangan secara sukarela.

"Tidak ada tiket masuk, pengunjung hanya memberikan donasi seikhlasnya saja, kami sudah sediakan kotak donasi," jelasnya.

Ia mengatakan hingga saat ini tidak ada bantuan khusus dari pemerintah untuk perawatan kawasan tersebut, karena Kampung Kapitan belum ditetapkan sebagai cagar budaya.

"Untuk perawatan rumah-rumah tua ini, kami lakukan secara mandiri. Tidak ada biaya dari pemerintah karena statusnya belum cagar budaya," ujarnya.

Menurutnya, pihak keluarga sebenarnya dihadapkan pada pilihan jika kawasan tersebut dijadikan cagar budaya. Namun, hal itu dinilai memiliki konsekuensi besar. Keputusan tersebut bukan hanya berdampak pada tempat tinggal, tetapi juga pada nilai budaya dan aktivitas keagamaan yang sudah berlangsung turun-temurun di kawasan tersebut.

"Di sini bukan hanya rumah, tapi juga ada tempat sembahyang dan pusaka keluarga yang tidak bisa dipindahkan. Kalau dikelola pemerintah, kami tidak tahu bagaimana nantinya untuk beribadah," jelasnya.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads