Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan kesiapan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam mengantisipasi arus balik Lebaran 2026. Termasuk dalam menghadapi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada momen tersebut.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah telah memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi karhutla, terutama menjelang fenomena El Nino pada musim kemarau nanti.
"Kita juga mengantisipasi dampak El Nino, termasuk potensi karhutla. Daerah rawan sudah kita petakan dan menjadi perhatian utama," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, luasan karhutla di Sumsel sepanjang 2025 tercatat 5.939,8 hektare. Tanah mineral menjadi lahan yang paling luas terbakar, mencapai 5.558,2 hektare. Sedangkan gambut 381,6 hektare.
Total luasan karhutla itu mengalami penurunan dibandingkan periode 2023-2024, namun angkanya lebih tinggi dibandingkan periode 2020-2022. Antisipasi bencana tahunan ini juga akan dilakukan lebih dini.
Diketahui, wilayah rawan karhutla di Sumsel tersebar di beberapa daerah. Berdasarkam data tahun lalu, wilayah paling luas terdampak karhutla berda di Ogan Komering Ilir (OKI) yang mencapai 1.361,9 hektare (lahan gambut 333,4 hektare dan mineral 1.028,5 hektare)
Kemudian di Musi Banyuasin (Muba) seluas 986 hektare (mineral 973,4 hektare dan gambut 12,6 hektare). Dan di Ogan Ilir seluas 980,4 hektare (mineral). Ketiga wilayah lokasi karhutla itu juga menjadi daerah perlintasan pemudik di Sumsel dan provinsi lainnya.
Deru mengatakan, prediksi Kementerian Perhubungan jumlah pergerakan pemudik di wilayah Sumsel mencapai 3,87 juta orang. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama TNI dan Polri terus melakukan pemantauan terhadap potensi bencana dan pergerakan kendaraan.
"Sampai sekarang kita bersama Polda dan TNI terus memantau pergerakan kendaraan. Situasinya aman dan terkendali," katanya.
(csb/csb)











































