Cerita Narapidana Lapas Jambi dari Buta Aksara Kini Lancar Mengaji

Jambi

Cerita Narapidana Lapas Jambi dari Buta Aksara Kini Lancar Mengaji

Dimas Sanjaya - detikSumbagsel
Sabtu, 14 Mar 2026 15:40 WIB
Reza membuka Al-Quran dan membacanya dari blok tahanan yang dia tempati di Lapas Kelas IIA Jambi
Foto: Reza membuka Al-Quran dan membacanya dari blok tahanan yang dia tempati di Lapas Kelas IIA Jambi (Dimas Sanjaya)
Jambi -

Lantunan ayat suci Al-Quran mengalun pelan dan saling bekejaran di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIA Jambi. Sejumlah narapidana duduk bersila sambil menunduk menatap ayat Al-Quran di atas rehal.

Di antara mereka, duduk seorang pria bernama Sadat. Jika melihatnya sekarang, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa beberapa tahun lalu narapidana narkoba ini bahkan tidak mengenal satu pun huruf hijaiyah. Kini, ayat-ayat Al-Quran mengalir lancar dari lisannya.

"Kalau dulu, Alif (huruf hijaiyah) itulah yang tahu. Alhamdulillah, di sini saya dari tidak tahu ngaji, sekarang jadi bisa ngaji," kata Sadat saat ditemui detikSumbagsel, Jumat (13/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Sadat, Ramadan di balik tembok lapas justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Dia mulai belajar dari awal huruf hijaiyah hingga iqro yang dibimbing oleh petugas pembinaan lapas dan narapidana lain yang diberdayakan.

Sadat tak malu saat pertama kali ikut belajar. Meski sempat kesulitan membedakan huruf hijaiyah yang terlihat hampir sama. Namun dorongan untuk berubah membuatnya memberanikan diri belajar dari awal.

ADVERTISEMENT

"Alhamdulillah, sekarang sudah bisa mengaji. Saya sudah khatam 4 kali," ujar Sadat.

Perlahan-lahan, huruf-huruf yang dulu terasa asing mulai akrab di matanya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Ramadan pun datang kembali, membawa suasana yang berbeda dalam hidupnya.

Kini Sadat tidak lagi duduk dengan wajah kebingungan. Ia membaca ayat demi ayat dengan lebih lancar.

Di bulan Ramadan ini, Sadat semakin memantapkan diri untuk meningkatkan ketakwaan. Hal itu juga didukung dari program pesantren kilat di Lapas Jambi.

Selama 21 hari program pesantren kilat sejak awal Ramadan, Sadat dan narapidana lainnya selalu memenuhi masjid sejak pagi. Mereka sebagian kompak memakai baju koko dan sarung atau jubah putih.

Mereka berlomba-lomba meningkatkan keimanan dengan kegiatan pesantren kilat, mulai dari salat wajib dan tarawih, mengaji, hingga mendengarkan tausyiah.

"Pasti banyak perubahan. Di luar, saya tidak pernah salat lima waktu, sekarang tidak pernah tinggal. Dulu tidak pernah tarawih, sekarang tidak pernah tinggal. Puasa juga full tahun ini," cerita Sadat.

Sadat dan Reza (baju koko putih) mengaji di Masjid At Taubah  Lapas Kelas IIA JambiSadat dan Reza (baju koko putih) mengaji di Masjid At Taubah Lapas Kelas IIA Jambi Foto: Dimas Sanjaya

Sadat sendiri mendapatkan putusan hukuman 9 tahun penjara atas kepemilikan narkoba jenis sabu. Pria yang memiliki dua anak itu dulu menganggap jeratan kasusnya sebagai akhir dari segalanya justru menjadi awal perubahan dalam hidupnya.

"Saya di sini hanya bisa berbuat baik saja, kalau ada anugerah dari tuhan, bisa mengurangi hukuman kita," ujarnya.

Selain kesempatan mengaji di masjid, sejumlah narapidana juga terkadang melanjutkan mengaji dari dalam jeruji di malam hari. Ha itu dirasakan narapidana laim bernama Reza.

Reza merupakan narapidana kasus penggelapan. Beda dengan Sadat, Reza justru diberdayakan menjadi guru mengaji rekan-rekannya dari balik jeruji. Itu dikarenakan, Reza merupakan alumni santri salah satu pondok pesantren.

Reza mengaku tak ada kesulitan mengajar rekan-rekannya mengaji. Dia melakukan itu dengan ikhlas untuk menjadi ladang pahalanya ke depan.

"Kesulitan tidak ada. Intinya kita saling sama-sama belajar," kata Reza.

Selain mengajar ngaji, Reza juga diberdayakan menjadi imam dan muazin. Apalagi selama pesatren kilat di lapas, dia salah satu yang aktif iktikaf setiap hari di masjid.

"Kebetulan saya alumni pondok, jadi sering mengajar ngaji (teman di lapas). Sering muazin juga," ujarnya.

Di momen bulan Ramadan ini, Reza memaknai sebagai momentum dirinya lebih mendalami agama. Selama bulan Ramadan ini, Reza sudah empat kali khatam Al-Quran. "Saya juga hafal dua juz. Juz1 dan Juz 30," ucapnya.

Bagi Reza, mengajar mengaji di dalam lapas menjadi cara untuk memanfaatkan waktunya dengan hal yang bermanfaat. "Jadi saya selama hidup dua kali mondok. Mondok di ponpes, dan sekarang di sini," canda Reza ketika berbincang.

Kepala Lapas Kelas IIA Jambi, Syahroni Ali mengatakan program Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur'an (PBAQ) bagi warga binaan, sudah dijalankan sebelum bulan Ramadan. Dia menegaskan bahwa program pembinaan keagamaan tersebut tidak hanya dilaksanakan saat bulan Ramadhan saja, namun akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan.

"Dalam program ini, kami memang membagi bagi kelompok yang memang buta aksara, yang masih iqro belum lancar, dan kelompok yang sudah lancar. Jadi bertingkat, pengajarnya dari kami ada dan dari warga binaan ada yang kami berdayakan," kata Syahroni.

Menurutnya, pembinaan yang diberikan kepada warga binaan tidak hanya sebatas membaca Al-Qur'an, tetapi juga mencakup berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

"Kita juga membina mereka untuk menghafal ayat-ayat pendek, melantunkan azan, hingga belajar menyampaikan pidato atau ceramah agama Islam," ujar Syahroni.

Ia berharap melalui berbagai kegiatan pembinaan tersebut, para warga binaan dapat memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan di Lapas, sehingga ketika kembali ke masyarakat nantinya mereka memiliki bekal moral, spiritual, serta keimanan yang lebih kuat.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, mengaku bangga dengan terobosan yang dilakukan oleh Lapas Kelas IIA Jambi melalui program Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur'an (PBAQ) bagi warga binaan.

Menurutnya, pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya sebatas menjaga kondisi fisik warga binaan, namun juga harus menyentuh aspek mental dan spiritual.

"Warga binaan tidak hanya perlu menjaga fisik, tetapi juga mental dan spiritualnya harus dibentengi dengan kegiatan yang positif, salah satunya melalui pembelajaran Al-Qur'an," kata Irwan.

Pesantren kilat yang berlangsung selama 21 hari itu diikuti sekitar 400 warga binaan. Dari kegiatan tersebut lahir sejumlah capaian yang cukup membanggakan.

Beberapa warga binaan bahkan berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an serta menghafal juz 29 dan 30. Sementara bagi warga binaan yang sebelumnya belum bisa membaca Al-Qur'an, kini mereka mulai memahami pola dan bacaan dasar melalui metode pembelajaran yang lebih ilmiah dan terbaru.

"Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita semua. Artinya pembinaan spiritual di Lapas berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata bagi warga binaan," ujarnya.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads