Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mewaspadai potensi lonjakan harga bahan pokok menjelang Ramadan 2026 di tengah ancaman bencana hidrometeorologi yang diperkirakan masih berlangsung hingga April mendatang.
Stabilitas pasokan dan distribusi menjadi fokus utama guna menjaga inflasi tetap terkendali.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Edward Candra mengatakan perhatian diberikan pada daerah-daerah terdampak bencana agar tidak memicu kenaikan harga di pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita membahas pembenahan provinsi yang terdampak bencana dan bagaimana upaya-upaya pasca bencana berkaitan dengan pengendalian inflasi yang ada di sana," ujarnya.
Menurutnya, curah hujan yang masih tinggi berpotensi memengaruhi produksi pertanian serta kelancaran distribusi pangan. Karena itu, langkah mitigasi dan adaptasi perlu diperkuat, terutama di sektor pertanian.
"Potensi hujan masih akan berlangsung sampai bulan April 2026. Untuk itu daerah perlu melakukan mitigasi, termasuk inovasi dan adaptasi dalam sektor pertanian, sehingga meskipun terdampak bisa diminimalisir dan produksi pangan tetap terjaga," katanya.
Di sisi lain, peningkatan permintaan bahan pokok saat Ramadan dinilai dapat mendorong kenaikan harga jika tidak diantisipasi dengan baik. Pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi tetap terjaga.
"Kemudian juga mendiskusikan bagaimana menghadapi hari besar keagamaan, Ramadan, mulai dari persediaan pasokan, penjagaan harga, kemudian kelancaran distribusi komoditas agar tetap bisa dijaga," jelasnya.
Sebagai langkah konkret, intervensi pasar melalui Gerakan Pangan Murah akan dilakukan di sejumlah titik di Sumsel menjelang Ramadan.
"Itu yang kita jaga, dari pangan nasional juga menyatakan ada gerakan pangan murah, dan ada gerakan pangan murah di beberapa titik menjelang Ramadan ini," tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker detik.com
(csb/csb)











































