Dokter RSUD Tenriawaru Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), dr Andi Koneng Pratiwi buka suara perihal dugaan bayi dalam kandungan meninggal gegara lambat penanganan. Andi Koneng yang menangani pasien tersebut mengklaim penanganan sudah sesuai prosedur.
"Penanganan medis terhadap pasien telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Penyebab bayi meninggal karena prolaps tali pusarnya, sehingga kekurangan suplai oksigen," ujar dr Andi Koneng Pratiwi kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).
Andi Koneng mengatakan, pasien awalnya mengeluhkan nyeri perut bagian bawah saat menjalani perawatan di Ruang Kenanga lantai 3 pada Rabu (14/10) sore. Pasien kemudian diarahkan ke ruang perawatan kandungan di Dahlia untuk menjalani observasi guna mengetahui kemungkinan adanya perkembangan persalinan.
"Sekitaran jam 2 pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah saya arahkan untuk tindakan ke perawatan kandungan, yaitu di perawatan dahlia, untuk dilakukan observasi. Kita observasi dan kita memberikan obat sebagai tokolitik untuk merelaksasi kontraksi terus sehingga nyeri yang dirasakan pasien berkurang," katanya.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan itu menerangkan, setelah mengonsumsi obat tersebut, nyeri dari perut pasien itu berangsur-angsur berkurang. Kemudian perawat juga melakukan pemeriksaan kardiotokografi (KTG) untuk memantau kondisi janin dan aktivitas kontraksi rahim.
"Dari hasil KTG tersebut tidak ada sama sekali kontraksi. Nah, atas pertimbangan itulah saya tetap melakukan observasi hingga besok pagi. Pada saat pagi hari saya dilaporkan lagi bahwa mulai lagi nyeri setelah itu saya bilang untuk melakukan USG," sebutnya.
Andi Koneng menyampaikan, sebelum pemeriksaan USG tersebut dilakukan, ketuban pasien pecah sekitar pukul 09.00 Wita. Pemeriksaan pertama setelah ketuban pecah belum menemukan tali pusar di jalan lahir, akan tetapi sekitar lima menit kemudian, tali pusar keluar melalui jalan lahir.
"Tenaga medis segera melakukan tindakan darurat untuk mengurangi tekanan pada tali pusar dengan memasukkan tangan melalui vagina untuk menahan posisi kepala bayi agar tidak menekan tali pusar yang keluar dan tindakan tersebut merupakan langkah awal untuk membantu menyelamatkan bayi sembari mempersiapkan operasi darurat," jelasnya.
Operasi kemudian dimulai sekitar pukul 10.05 Wita dan selesai sekitar pukul 10.30 Wita. Namun bayi laki-laki tersebut tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal saat dilahirkan.
"Penyebab kematian bayi karena prolaps tali pusar, karena kekurangan suplai oksigen ke bayi," tutup Andi Koneng.
Diketahui, wanita bernama Rahmawati mengamuk sambil menggendong jasad cucunya di Rumah Sakit Umum Tenriawaru. Rahmawati menuding dokter lambat melakukan penanganan sehingga cucu laki-lakinya diduga meninggal dalam kandungan.
"Meninggal itu memang ketetapan Tuhan, tapi saya kecewanya sama dokter yang lamban dalam penanganannya," ujar Rahmawati, Jumat (16/10).
Peristiwa itu terjadi di RSUD Tenriawaru Bone, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Watampone, Kamis (15/10) sekitar pukul 11.00 Wita. Rahmawati menjelaskan, persoalan ini bermula saat menantunya masih sempat bolak-balik di RS usai mengalami kontraksi.
Simak Video "Melihat Peti Mati Berjejer dan Tengkorak di Dalam Goa Londa, Tana Toraja "
(ata/ata)