Pelajaran Penting dari Bayi Meninggal Usai Dicekoki Nenek Telur Mentah

Round Up

Pelajaran Penting dari Bayi Meninggal Usai Dicekoki Nenek Telur Mentah

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Selasa, 13 Okt 2026 09:45 WIB
Ilustrasi Benarkah Petasan Sebabkan Bayi Meninggal
Ilustrasi bayi meninggal/Foto: iStock
Surabaya -

Kabar meninggalnya Alena, bayi berusia 28 hari di Surabaya, menyisakan duka sekaligus perhatian terhadap praktik pemberian makanan pada bayi. Alena sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo setelah mengalami kondisi kritis.

Sebelum dirawat, bayi tersebut disebut mengalami demam dan diduga diberi telur mentah oleh neneknya dengan maksud menurunkan panas.

Kisah Alena mencuat setelah diunggah oleh akun Threads yang merupakan tantenya. Peristiwa ini kemudian menjadi perhatian publik, termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, penyebab pasti kematian Alena dan hubungan langsung antara kondisi medisnya dengan makanan yang diduga dikonsumsi belum dipastikan. Pihak rumah sakit menyebut tidak dapat memberikan penjelasan mengenai dugaan pemberian telur mentah karena menyangkut privasi pasien.

ADVERTISEMENT

Alena merupakan bayi perempuan berusia 28 hari yang tinggal di Surabaya. Ia dirujuk ke RSUD Dr Soetomo pada Jumat (9/10/2026) setelah mengalami kondisi kesehatan yang memburuk.

Berdasarkan informasi yang disampaikan keluarga melalui media sosial, Alena sebelumnya mengalami demam. Dalam unggahan tersebut, nenek Alena disebut memberikan telur mentah dengan alasan untuk menurunkan demam.

Setelah itu, kondisi Alena disebut semakin memburuk hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Bayi tersebut kemudian dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), ruang perawatan intensif khusus bayi baru lahir.

Kabar duka disampaikan oleh akun Threads @calistaarisha, yang merupakan tante Alena, pada Minggu (11/10/2026).

Dalam unggahannya, keluarga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah mendoakan Alena selama menjalani perawatan. Keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada tim medis RSUD Dr Soetomo dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak atas bantuan yang diberikan.

"Teman teman threads, terimakasih banyak untuk doa kalian buat alena ya🤍 dengan berat hati aku menyampaikan alena telah berpulang, alena sudah tidak sakit lagi, alena sudah jadi bidadari disana 😍, untuk permasalahan keluarga suami ariana, SUDAH KAMI TINDAK LANJUTI, makanya ariana meminta untuk tidak membahasnya karna ariana juga belum siap menjawab pertanyaan pertanyaan kalian 🥹 mohon doa untuk alena di surga yaa 🤲🏻🥰," tulis akun @calistaarisha dalam unggahan Threads yang dilihat detikJatim, Senin (12/10/2026).

Keluarga juga menyampaikan terima kasih kepada tim medis dan Emil yang ikut memberikan perhatian terhadap kondisi Alena selama dirawat.

"Buat para tim medis dan bapak @emildardak terimakasih banyak atas bantuan untuk alena 🙏🏻 terimakasih telah berusaha untuk alena," tambahnya.

Humas RSUD Dr Soetomo, Adin Niken, membenarkan bahwa Alena meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) pagi setelah menjalani perawatan.

"Betul, pasien bayi tersebut meninggal hari ini pukul 07.10 WIB. 28 hari usia adeknya saat meninggal," kata Niken kepada detikJatim.

Pihak rumah sakit menyatakan tim medis telah memberikan penanganan sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien.

Namun, ketika ditanya mengenai dugaan Alena diberi telur mentah oleh neneknya, pihak rumah sakit tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Niken menyebut informasi tersebut berkaitan dengan privasi pasien.

Karena itu, dugaan pemberian telur mentah belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti kematian Alena hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Alena. Ia mengatakan Pemprov Jatim bersama tim medis RSUD Dr Soetomo telah memantau perkembangan kondisi bayi tersebut.

"Kami sangat berduka. Saya meyakini tim RSUD dr Soetomo telah memberikan pelayanan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa ananda Alena sejak dirujuk dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat tiba di RSUD dr Soetomo," kata Emil kepada detikJatim.

Emil menyebut informasi yang diterimanya dari rumah sakit menunjukkan adanya infeksi serius pada saluran pencernaan Alena. Meski begitu, ia meminta hubungan antara kondisi tersebut dan makanan yang diduga dikonsumsi diserahkan kepada tenaga medis yang berwenang.

"Untuk keterkaitan dengan apa yang dikonsumsi, mohon kita serahkan ke tim medis terkait untuk memberi keterangan. Info yang kami dapat, terjadi infeksi serius di saluran pencernaan," jelasnya.

Emil juga menjelaskan bahwa Alena tiba di IGD RSUD Dr Soetomo pada Jumat (9/10/2026) dan telah masuk ruang NICU pada hari yang sama.

"Saya baru mendapatkan informasi tersebut sekitar pukul 18.00 WIB. Artinya, ketika saya berkomunikasi dengan pihak keluarga dan mengecek ke RSUD dr Soetomo, pasien sudah mendapatkan penanganan," kata Emil kepada wartawan di Grahadi, Senin (12/10/2026).

Setelah menjalani perawatan selama sekitar tiga hari, Alena meninggal pada Minggu (11/10/2026) pukul 07.10 WIB.

Kasus Alena turut menjadi perhatian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi profesi tersebut mengingatkan masyarakat agar pemberian makanan kepada bayi memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, R Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio (K), menegaskan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan tetap menjadi rekomendasi utama.

"IDAI menegaskan bahwa pemberian makanan pada bayi harus didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. ASI eksklusif selama 6 bulan tetap merupakan rekomendasi utama. Pemberian MPASI lebih awal, sejak usia 4 bulan, hanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian medis dan bukan merupakan anjuran umum," kata dr Piprim, Senin (12/10/2026).

IDAI juga mengingatkan agar orang tua dan pengasuh tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Selain tidak sesuai dengan kebutuhan makan bayi, makanan tersebut memiliki risiko keamanan pangan.

"IDAI mengimbau seluruh tenaga kesehatan, orang tua, pengasuh, dan masyarakat untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak, serta senantiasa mengikuti rekomendasi pemberian makan yang berbasis bukti ilmiah. Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan," tambahnya.

Sementara itu, dalam laporan terpisah, IDAI menjelaskan bahwa telur mentah berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis. Risiko ini menjadi alasan penting agar makanan yang diberikan kepada bayi memperhatikan keamanan pengolahan dan rekomendasi medis.

Di tengah perhatian masyarakat terhadap kasus tersebut, keluarga Alena menyampaikan bahwa persoalan internal keluarga telah ditindaklanjuti. Tante Alena juga meminta warganet tidak terus mendesak ibu bayi itu untuk memberikan penjelasan.

Permintaan tersebut disampaikan ketika keluarga masih berduka atas meninggalnya Alena yang belum genap berusia satu bulan.

Emil turut menyampaikan harapan agar masyarakat menghormati kondisi ibu dan keluarga Alena. Ia mengatakan telah berkomunikasi langsung dengan ibu bayi tersebut sejak Alena dirujuk ke NICU RSUD Dr Soetomo.

"Untuk saat ini, izinkan saya menghormati kondisi ibunda dari Alena dan keluarga yang sangat berduka. Keterangan lebih lanjut akan kami sampaikan di waktu yang tepat," tambahnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Bayi 28 Hari Meninggal Usai Diduga Konsumsi Telur Mentah"
[Gambas:Video 20detik] (irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads