Dugaan Lambannya Penanganan RSUD Pemkab Bone Berujung Bayi Lahir Meninggal

Dugaan Lambannya Penanganan RSUD Pemkab Bone Berujung Bayi Lahir Meninggal

Agung Pramono - detikSulsel
Sabtu, 17 Okt 2026 07:30 WIB
Rahmawati menggendong jasad cucunya di Bone.
Foto: Rahmawati menggendong jasad cucunya di Bone. (dok. Istimewa)
Bone -

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), disorot imbas bayi meninggal usai dilahirkan. Nenek sang bayi, Rahmawati (52) menduga kematian cucunya lantaran dokter lambat melakukan penanganan medis.

Rahmawati lantas meluapkan kekesalannya dengan menggendong jenazah cucunya di depan tenaga medis rumah sakit milik Pemkab Bone itu. Dia kecewa cucunya meninggal saat menantunya alias ibu sang bayi sempat berulang kali mengeluh kesakitan.

"Meninggal itu memang ketetapan Tuhan. Tapi saya kecewanya sama dokter yang lamban dalam penanganannya," keluh Rahmawati kepada detikSulsel, Jumat (16/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmawati menjelaskan, menantunya awalnya sudah bolak-balik rumah sakit setelah mengalami konstruksi. Akhirnya, menantunya pun terpaksa kembali menjalani perawatan di RSUD Tenriawaru Bone pada Rabu (14/10) sore.

"Dua hari baru keluar dari rumah sakit. Dua hari di rumah, masuk lagi rumah sakit karena muntaber. Lalu pas di rumah sakit dokter bilang mau diobservasi," tuturnya.

ADVERTISEMENT

"Pas di rumah sakit dokter bilang mau diobservasi dan dibawa di kamar Dahliah pada Rabu sore diperiksa jantungnya bayi dinyatakan sehat, dan aktif sekali," tambah Rahmawati.

Kendati begitu, menantunya mengeluh kesakitan hingga diberi suntikan obat pada pukul 17.00 Wita. Namun rasa sakit tersebut tidak mereda hingga keluarga meminta perawat memanggil dokter.

"Dokter belum datang-datang. Saya bertanya ke perawatnya kenapa dokter belum datang melihat, dan kesakitannya tidak berhenti-henti," paparnya.

Rahmawati melanjutkan, keluhan yang dialami menantunya berlanjut dan makin parah hingga pukul 22.00 Wita. Saat itu menantunya meminta agar dilakukan langkah operasi.

"Kemudian dokter dihubungi belum merespons dan tidak ada juga perintahnya, saya langsung bilang ke perawat untuk diberikan perhatian khusus," ucap Rahmawati.

Rasa sakit menantunya yang masih berlanjut membuat Rahmawati langsung berinisiatif menelepon dokter pada Kamis (15/10) pagi. Hanya saja, dokter saat itu beralasan masih berada di rumah sakit lain.

"Saya sampaikan (ke dokter) sakitnya terus menerus ini, dan minta ma petunjuk apakah dirujuk ke Makassar, (tetapi) dokter bilang, 'saya layani dulu pasien yang pendarahan di RS Yasin'," tuturnya.

Kondisi menantu Rahmawati pun semakin parah setelah air ketubannya sudah pecah. Saat itu Rahmawati kembali menghubungi dokter agar menantunya segera dibawa ke ruang operasi.

Nenek Ngamuk Sambil Gendong Jasad Cucu

Saat itu langkah operasi belum dilakukan karena menunggu kedatangan dokter. Belakangan operasi dilakukan, namun mirisnya cucu Rahmawati dinyatakan meninggal pada Kamis (15/10) siang.

"Pas di ruang operasi belum lagi dilakukan operasi karena tidak ada dokter, dan langsung hitam pas keluar karena kehabisan oksigen. Jadi itu cucuku meninggal dalam kandungan sekitar jam 11 siang," jelas Rahmawati.

Rahmawati sempat menggendong jenazah cucunya keluar dari kamar operasi dan menenangkan diri. Selang beberapa waktu, Rahmawati mengamuk sembari menggendong jenazah cucunya.

"Saya tanya perawat, menantuku sudah melahirkan, cucuku sudah lahir dan ini jenazahnya. Out of control ma (hilang kendali) di situ, mengamuk-ngamuk ma," imbuhnya.

Rahmawati melanjutkan, direktur dan dokter RSUD Tenriawaru sempat datang ke rumahnya setelah jenazah cucunya dipulangkan. Pihak RS memberikan penjelasan namun keluarga belum sepenuhnya menerima.

"Saya minta penjelasan medis, mereka menjelaskan sudah sesuai prosedur. Saya bilang tidak ada benarnya, karena sudah pecah ketuban tidak ada tindakan," jelas Rahmawati.

Kronologi Versi Dokter RSUD Pemkab Bone

Dokter RSUD Tenriawaru Bone, dr Andi Koneng (jilbab biru) menjelaskan kronologi bayi meninggal karena diduga lambat ditangani.Dokter RSUD Tenriawaru Bone, dr Andi Koneng (jilbab biru) menjelaskan kronologi bayi meninggal karena diduga lambat ditangani. Foto: Istimewa

Sementara itu RSUD Tenriawaru Bone menepis tudingan lambat melakukan penanganan hingga bayi meninggal. Dokter beralasan sudah melakukan penanganan medis sesuai prosedur.

"Penanganan medis terhadap pasien telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur," ujar dokter RSUD Tenriawaru Bone, dr Andi Koneng Pratiwi kepada wartawan, Jumat (16/10).

Andi Koneng menjelaskan, ibu bayi awalnya mengeluh nyeri dan menjalani perawatan di ruang Kenanga RSUD Tenriawaru, Rabu (14/10). Pasien lalu dipindahkan ke ruang perawatan kandungan Dahlia.

"Pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah, saya arahkan untuk tindakan ke perawatan kandungan, yaitu di perawatan (ruang) Dahlia, untuk dilakukan observasi," tuturnya.

Pasien lalu diberikan obat tokolitik untuk merelaksasi kontraksi agar nyeri yang dirasakan pasien berkurang. Perawat juga melakukan pemeriksaan kardiotokografi (KTG) untuk memantau kondisi janin dan aktivitas kontraksi rahim.

Dari hasil KTG itu, dia mengklaim pasien tidak lagi mengalami kontraksi. Kendati begitu, Andi Koneng mengaku pihaknya masih melakukan proses observasi terhadap pasien hingga Kamis (15/10) pagi.

"Nah, atas pertimbangan itulah saya tetap melakukan observasi hingga besok pagi. Pada saat pagi hari saya dilaporkan lagi bahwa mulai lagi nyeri, setelah itu saya bilang untuk melakukan USG," sebut Andi Koneng.

Sebelum pemeriksaan USG, ketuban pasien pecah sekitar pukul 09.00 Wita. Tenaga medis segera melakukan tindakan darurat untuk mengurangi tekanan pada tali pusar dan menahan posisi kepala bayi dalam rahim.

"Agar tidak menekan tali pusar yang keluar dan tindakan tersebut merupakan langkah awal untuk membantu menyelamatkan bayi sembari mempersiapkan operasi darurat," bebernya.

Pihak dokter lalu menyiapkan proses operasi sekitar pukul 10.05 Wita dan selesai sekitar pukul 10.30 Wita. Mirisnya, bayi laki-laki tersebut tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal saat dilahirkan.

"Penyebab kematian bayi karena prolaps tali pusar, karena kekurangan suplai oksigen ke bayi," pungkas Andi Koneng.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Mengungkap Keahlian Membuat Kapal Phinisi di Tana Beru, Sulawesi Selatan"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads