Parepare Diselimuti Asap, ISPA Tembus 934 Kasus dalam Sepekan

Ardiansyah - detikSulsel
Jumat, 16 Okt 2026 12:35 WIB
Dokter saat memeriksa pasien rujukan ISPA di RSUD Andi Makkasau Parepare. Foto: (Ardiansyah/detikSulsel)
Parepare -

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) melonjak pada periode maraknya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam sepekan terakhir, ISPA tembus 934 kasus dari pekan sebelumnya hanya di 881 kasus.

"Kasus ISPA pada minggu ke-39 atau 27 September-3 Oktober sebanyak 881 kasus dan meningkat menjadi 934 kasus pada minggu ke-40 atau pada 4-10 Oktober," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Parepare, Muhammad Idris kepada detikSulsel, Jumat (16/10/2026).

Idris menjelaskan, angka penderita ISPA pada pekan terakhir tersebut masih memerlukan pengkajian medis lebih lanjut. Pihaknya belum bisa menyimpulkan keterkaitan langsung antara kenaikan kasus dengan kondisi udara.

"Data tersebut menunjukkan peningkatan ISPA pada minggu terakhir, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa kenaikan tersebut disebabkan langsung oleh kabut asap," tuturnya.

Meski begitu, jika ditinjau secara akumulatif sepanjang tahun 2026, total kasus ISPA di Kota Parepare memang melonjak amat tajam bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah penderita ISPA periode minggu ke-1 hingga ke-38 tahun 2026 telah menembus puluhan ribu kasus.

"Periode minggu ke-1 sampai ke-38 tahun 2026 total kasus mencapai 28.793 kasus. Terjadi peningkatan kasus ISPA yang signifikan sebesar 265 persen dibandingkan tahun 2025 pada periode minggu ke-1 sampai ke-38 yang mencatatkan 7.875 kasus," beber Idris.

Idris mengatakan, kondisi tercemarnya udara akibat kabut asap karhutla terus menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Masyarakat diminta untuk tidak mengabaikan imbauan pencegahan demi menjaga kondisi kesehatan keluarga.

"Parepare kedatangan kabut asap karhutla, kualitas udara memburuk. Tetap waspada dan lindungi diri serta keluarga dari paparan kabut asap," tuturnya.

Untuk mendeteksi risiko perburukan kondisi kesehatan sejak dini, masyarakat diminta selalu peka terhadap perubahan kondisi fisik keluarga. Dia mengimbau warga segera ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala gangguan pernapasan.

"Kenali gejala ISPA seperti batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Jika mengalami sesak napas, gejala memburuk, atau anak dan lansia mengalami keluhan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan," imbaunya.

Selain penanganan medis, Idris merinci sejumlah langkah proteksi diri yang harus diterapkan secara disiplin oleh masyarakat sehari-hari. Protokol kesehatan dasar menjadi benteng utama dari bahaya polusi udara.

"Gunakan masker saat berada di luar rumah, terutama ketika udara berasap. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan hindari olahraga di luar saat kualitas udara buruk," jelas Idris.

Dikonfirmasi terpisah, Dokter Ahli Paru RSUD Andi Makkasau Parepare, dr Nevy Shinta Damayanti mengungkapkan kabut asap memicu lonjakan kasus ISPA di Kota Parepare. Dia mengungkapkan adanya perubahan masa penyembuhan pasien ISPA yang kini memakan waktu lebih lama dari biasanya.

"Untuk kesembuhannya menjadi lebih panjang ya. Yang biasanya ISPA itu kita obati paling tiga hari sudah respons dengan pengobatan, tapi ini sampai kontrol dua kali, tiga kali masih dengan keluhan yang sama," ujar Nevy kepada detikSulsel.

Menurutnya, kondisi itu dipicu dampak kabut asap kiriman dari luar wilayah serta paparan udara kering musim kemarau. Selain faktor lingkungan, perilaku masyarakat yang tidak memakai masker dan kurang mengonsumsi air putih turut memperburuk kondisi saluran pernapasan.

"Faktor di luar kita atau lingkungan itu sangat mempengaruhi. Kemudian faktor juga perilaku. Pasien-pasien kadang-kadang tidak menggunakan masker, kemudian masih minum yang kurang, sehingga masuk dalam tahap dehidrasi," jelasnya.



Simak Video "Video: 46 Ribu Kasus ISPA Muncul di Kalimantan Selatan"

(asm/sar)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork