Bahaya ISPA Mengintai Imbas Kualitas Udara di Sulsel Memburuk

Bahaya ISPA Mengintai Imbas Kualitas Udara di Sulsel Memburuk

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 11 Okt 2026 08:00 WIB
Udara Makassar
Foto: Ilustrasi kondisi udara di Makassar. (Iswandy Rusli/detikSulsel)
Makassar -

Kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) dilaporkan memburuk imbas asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini membahayakan kesehatan lantaran warga rentan terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga influenza.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar melaporkan kualitas udara mulai mengalami penurunan sejak 30 September 2026. Hal ini menyusul meningkatnya konsentrasi partikel pencemar udara berukuran sangat kecil atau PM2.5 yang ditandai dengan udara tampak kelabu dan berkabut.

"Memang sejak tanggal 30 September itu terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 yang mengakibatkan penurunan kualitas udara di wilayah Maros dan sekitarnya, termasuk di wilayah Makassar," ungkap Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yuda kepada detikSulsel, Senin (5/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Partikel udara yang sangat kecil itu bisa bersumber dari emisi kendaraan bermotor atau aktivitas industri. Kendati begitu, karhutla di sejumlah wilayah berkontribusi besar terhadap peningkatan partikulat di udara Makassar dan sekitarnya.

"Contohnya untuk di wilayah Sulsel ini terjadi di wilayah Kabupaten Pangkep, kemudian di Bantaeng, di Pinrang, di Enrekang. Ini dalam beberapa hari terakhir laporannya terjadi kebakaran hutan yang cukup masif hingga beberapa hektare," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Meski karhutla tidak terjadi di Makassar, asap dan partikel hasil pembakaran dari wilayah lain dapat terbawa hingga ke wilayah tersebut. Arah dan pola pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang menentukan dari mana partikulat datang maupun ke mana sebarannya bergerak.

"Saat arah angin bertiup dari arah barat, maka asap-asap dari Kalimantan ataupun asap-asap dari Sulawesi Selatan sendiri itu tidak bisa keluar dari wilayah Sulawesi Selatan. Sedangkan saat anginnya itu bertiup dari arah timur, maka kondisi kebakaran hutan yang ada di Papua maupun Maluku itu bisa sampai ke wilayah Sulawesi Selatan," imbuh Rizky.

Kualitas udara sempat dilaporkan membaik setelah konsentrasi PM2.5 turun ke kategori sedang dengan nilai di bawah 55 mikrogram per meter kubik pada Senin (5/10). Kendati begitu, kondisi kualitas udara masih dinamis dan bisa kembali menurun apabila karhutla masih terjadi.

"Jadi kalau misalkan kebakaran lahannya yang ada di Sulsel maupun di sekitaran Sulsel ini masih ada dan masih intens, maka potensi terjadinya udara kabut di Kota Makassar juga bisa kembali terjadi," tutur Rizky.

Selang beberapa hari, kualitas udara khususnya Makassar kembali menurun dan masuk kategori tidak sehat pada Jumat (9/10). Kondisi tersebut diungkap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar setelah menerima laporan hasil pemantauan BMKG.

"Berdasarkan dokumen resmi BMKG yang diperbarui pukul 10.45 Wita, hasil pemantauan PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, menunjukkan konsentrasi sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik dengan kategori tidak sehat," kata Kepala BPBD Makassar M Fadli Tahar dalam keterangannya, Jumat (9/10).

Fadli menjelaskan, penurunan kualitas udara masuk kategori tidak sehar karena peningkatan konsentrasi partikulat. Partikel pencemar udara yang sangat halus ini dinilai berbahaya bagi kesehatan karena memungkinkan masuk ke dalam paru-paru tanpa disadari.

"Paparan polusi partikulat dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan. Risiko kesehatan perlu mendapat perhatian lebih bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma, penyakit paru, atau gangguan jantung," jelasnya.

Sementara di Parepare, kualitas udara juga terpantau mengalami penurunan pada Jumat (9/10). Berdasarkan pengamatan BMKG, konsentrasi PM2.5 di Parepare mencapai sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.

Situasi ini juga ditandai adanya kabut asap dan membuat pandangan terlihat samar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Parepare pun mewaspadai kabut asap yang memicu penurunan kualitas udara ini lantaran akan mempengaruhi kesehatan warga.

"Asap pasti, pasti ada efek yang kita khawatirkan, terutama sekali terkait dengan penyakit ISPA. Jadi kekhawatiran kita itu kabut asap ini akan menjadi salah satu penyebab ISPA," ujar Plt Kepala Dinkes Parepare, Muhammad Idris kepada wartawan, Jumat (9/10).

Dinkes Parepare melaporkan total penderita ISPA di Parepare mencapai 2.000 orang sejak Januari 2026. Kendati begitu, kasus ISPS mulai mengalami tren kenaikan sebesar 15% sejak sebulan terakhir.

"Peningkatannya sekitar 10 sampai 15 persen. Iya, jadi sekitar 2.000 lebih ya, 2.000 lebih sekarang ini penderita ISPA," ungkapnya.

Kendati begitu, tren peningkatan jumlah kasus secara umum masih akan dianalisis lebih lanjut. Dinkes Parepare enggan berspekulasi kenaikan kasus ISPA akibat paparan asap atau faktor perubahan iklim.

"Kecenderungan kasus ISPA naik, tapi kita juga masih perlu melihat apakah betul karena pengaruh asap ini atau memang karena pengaruh iklim," jelas Idris.

Udara Memburuk Diprediksi hingga 13 Oktober

Penurunan kualitas udara diperkirakan masih berlanjut dan berpotensi meluas di sejumlah wilayah lain di Sulsel. Berdasarkan pantauan BMKG, ada tiga daerah di Sulsel yang kondisi udaranya masuk kategori tidak sehat pada Sabtu (10/10).

"Makassar, Maros, Gowa dan sekitarnya, kondisi udara per 10 Oktober 2026 di Stasiun Klimatologi Maros memperlihatkan bahwa kondisi udara di wilayah tersebut dan sekitarnya masih dalam kategori tidak sehat," kata Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana kepada wartawan, Sabtu (10/10).

Amhar mengatakan, kualitas udara di sejumlah wilayah Sulsel diperkirakan terjadi hingga 13 Oktober mendatang. Situasi ini dianggap perlu diantisipasi oleh masyarakat apalagi saat beraktivitas di luar ruangan.

"Jadi untuk tiga hari ke depan diprediksi hingga tanggal 13 Oktober kualitas udara diprediksi sedang hingga tidak sehat di wilayah Sulsel. Khususnya kondisi ini perlu diperhatikan pada pagi hari hingga siang hari," bebernya.

Menurut Amhar, angin yang cukup kencang dan belum turunnya hujan di Makassar dan sekitarnya turut menjadi perhatian dalam kondisi tersebut. Masyarakat juga diminta menjaga kesehatan selama musim kemarau.

"Telah dikeluarkan imbauan kepada masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan termasuk Makassar, Gowa Maros dan sekitarnya untuk menggunakan masker saat keluar ruangan serta menjaga kesehatan selama musim kemarau ini," jelas Amhar.

Ancaman kesehatan akibat penurunan kualitas udara ini juga telah ditindaklanjuti Pemprov Sulsel lewat surat edaran nomor: 100.3.4/13819/Dinkes tertanggal 7 Oktober 2026. Kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat berpotensi menimbulkan penyakit ISPA hingga influenza.

"Kami mengajak masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah maupun berada di keramaian, khususnya ketika kualitas udara sedang buruk," kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sulsel Muhammad Yusri Yunus kepada detikSulsel, Sabtu (10/10).

Selain menggunakan masker, warga diminta menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Masyarakat juga perlu minum air yang cukup, beristirahat dengan baik, dan menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

"Kami mengimbau warga membatasi paparan polusi udara apabila tidak ada keperluan mendesak untuk beraktivitas di luar rumah," ujar Yusril.

Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan yang memburuk. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Halaman 2 dari 2
(sar/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads