Angin kencang menerjang wilayah Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam dua hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat total 76 rumah warga mengalami kerusakan akibat fenomena cuaca ekstrem tersebut.
"Hari ini ada sekitar 41 tambahan rumah terdampak, sehingga total ada 76 rumah yang mengalami kerusakan dari klasifikasi ringan hingga sedang. Untuk kerusakan kategori berat sejauh ini tidak ada," ujar Kepala Pelaksana BPBD Parepare, Rasdy Gery kepada detikSulsel, Rabu (16/9/2026).
Rumah yang rusak akibat angin kencang tersebar di 12 kelurahan pada Selasa-Rabu (15-16/9). Lokasi pemukiman warga yang paling banyak terdampak berada di Kelurahan Bukit Harapan dan Kelurahan Galung Maloang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukit Indah, Bukit Harapan, Ujung Baru, Ujung Lare, Lompoe, Galung Maloang, Lemoe, Lumpue, Bumi Harapan, Tirosompe, Labukkang dan Lapadde. Yang paling banyak di Bukit Harapan dan Galung Maloang," ujarnya.
Rasdy menjelaskan, kerusakan kategori sedang terjadi ketika sepertiga bagian bangunan rumah warga mengalami kerusakan. Sementara untuk kategori ringan, dampak kerusakan umumnya terlihat pada atap seng yang terlepas hingga penyangga kayu yang patah.
"Kalau kerusakan sedang itu dampaknya sekitar sepertiga bangunan rumah warga. Sementara skala kecilnya paling atap seng terbang atau baloknya patah," jelasnya.
Meski puluhan rumah mengalami kerusakan, warga terdampak saat ini masih memilih bertahan di kediaman masing-masing. BPBD memastikan belum ada warga mengungsi lantaran peristiwa ini tidak disertai dengan hujan deras.
"Sementara mereka masih tetap bertahan di rumah masing-masing karena kondisi di lapangan tidak hujan. Jika cuaca memburuk dan turun hujan deras, barangkali mereka baru akan mengungsi," terang Rasdy.
Menurut Rasdy, pemicu utama kerusakan adalah tiupan angin kencang yang menghantam struktur bangunan warga. Selain itu, banyak atap bangunan yang terlepas akibat kondisi kayu penyangga rumah yang memang sudah lapuk.
"Pemicu utamanya tentu angin kencang yang menerjang pemukiman warga. Di samping itu, beberapa rumah memang sudah lapuk pada bagian balok atap dan dindingnya sehingga mudah roboh," ungkapnya.
Selain merusak puluhan rumah, angin kencang juga menyebabkan deretan pohon tumbang di sejumlah titik. Peristiwa pohon tumbang ini turut menimpa jaringan utilitas hingga mengganggu kabel listrik dan jaringan telekomunikasi.
"Dampak angin kencang lainnya yakni banyaknya pohon tumbang di titik-titik strategis. Tumbangnya pohon tersebut ikut mempengaruhi dan menimpa kabel listrik serta Telkom," kata Rasdy.
Berdasarkan pantauan BPBD, hembusan angin kencang di Parepare rata-rata mencapai kecepatan hingga 37 km/jam. Kecepatan angin mendadak (gust) bahkan sempat menembus angka 45 km/jam dalam kurun waktu beberapa detik.
"Kecepatan angin rata-rata mencapai 37 km/jam dan hembusan dadakan yang kita waspadai bisa mencapai 45 km/jam. Hembusan singkat tersebut biasanya berlangsung mendadak sekitar 3 sampai 5 detik," urainya.
BPBD mengimbau seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman cuaca ekstrem. Masyarakat juga diminta memperhatikan ketahanan fisik bangunan rumah agar lebih tahan terhadap terpaan angin.
