Kasus siswi kelas XII di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang diduga dilecehkan gurunya secara verbal ternyata terjadi sejak Februari 2026. Korban sudah melaporkan kejadian ini namun laporannya ditahan wali kelas dan tidak sampai ke kepala sekolah.
"Saya sudah tanya kenapa sejak Februari tidak pernah sampai ke saya, waktu itu kan saya umrah juga," kata Kepala SMAN 2 Makassar Syafruddin kepada detikSulsel, Jumat (16/10/2026).
Syafruddin mengaku, wali kelas korban saat itu ternyata berinisiatif memediasi kasus ini. Saat itu perkaranya disebut secara kekeluargaan.
"Katanya sudah sampaikan ke wali kelas tapi tidak sampaikan ke saya. Katanya wali kelas selesaikan secara kekeluargaan," jelasnya.
Dia menjelaskan, dugaan pelecehan terjadi saat siswa selesai latihan renang pada Februari 2026 lalu. Sejumlah siswi sedang mengantre mengganti pakaian.
"Dia kan guru olahraga saya dengar kemarin pada saat selesai renang anak-anak ganti pakaian," tuturnya.
Saat itulah oknum guru tersebut diduga melakukan pelecehan secara verbal. Oknum guru saat itu menyampaikan akan masuk ke kamar ganti siswinya.
"Mereka (siswi) di depan kamar ganti, datang guru olahraga bilang, 'sama-sama ki masuk'," tambah Syafruddin.
Belakangan, kasus dugaan pelecehan ini kembali mencuat usai oknum guru itu menegur siswa yang pacaran di sekolah pada akhir September 2026 saat lomba basket. Ia mengatakan, siswa tersebut merasa tidak terima sehingga melapor ke orang tuanya.
"Ini kasus dari bulan Februari 2026, cuman ada pemicunya kemarin (Kamis). Ada anak wali itu yang pacaran, beliau maksudnya baik tapi cara menyampaikan itu tidak layak lah," katanya.
Syafruddin mengatakan oknum guru ini bermaksud mengingatkan persoalan pacaran yang mengarah pada hubungan suami istri. Namun kata dia, siswa ini tidak terima dan mengatakan bahwa mereka juga memahami termasuk batas pacaran.
"Asumsinya itu kayak jangan terlalu dekat nanti mengarah kesitu berhubungan seperti suami istri. Tapi na' bilang itu siswa saya juga tahu batasnya, mereka tidak terima," ucapnya.
Menurutnya, oknum guru ini bermaksud mengedukasi soal batas-batas pacaran. Namun, bahasa yang disampaikan membuat mereka tersinggung.
"Jadi sebagai wali kelas yang bersangkutan mengedukasi tapi bahasanya itu sehingga menimbulkan persepsi ketersinggungan," kata dia.
Akibatnya siswa tersebut melaporkan ke orang tuanya lalu kemudian mendatangi sekolah untuk menyampaikan keluhan tersebut pada Kamis (8/10). Siswa tersebut merasa tidak terima dengan bahasa yang digunakan oknum guru tersebut.
"Jadi laporannya itu sudah sejak akhir September waktu lomba basket. Ini siswa yang tidak terima sampaikan ke orang tuanya sehingga orang datang ke sekolah pada 8 Oktober kemarin," katanya.
Orang tua siswa yang datang di sekolah itu menyampaikan keberatan yang dituduhkan oknum guru tersebut. Kepsek SMAN 2 Makassar itu kemudian menerima orang tua tersebut dan berupaya untuk diselesaikan.
"Sebelum itu sudah sampaikan memang Wakil Kepsek kalau orang tuanya mau datang jadi saya persilahkan untuk kita bicarakan. Jadi disampaikan orang tuanya karena menilai oknum guru itu seolah-olah menyimpulkan begitu. Jadi kami berusaha mediasi itu untuk diselesaikan," tuturnya.
Kemudian pada Kamis (18/10) sejumlah siswa berkumpul di depan ruangan kepsek untuk melaporkan kembali kasus dugaan pelecehan verbal pada Februari lalu. Ia mengaku sejumlah siswa yang datang itu berani menyampaikan karena sudah ada siswa lain yang berani membuka suara.
"Nah kemarin itu, siswa lain ini mulai ungkit yang kejadian Februari itu, ternyata malam kamis itu anak-anak sudah konsolidasi, sudah rencanakan memang. Ada yang berani melaporkan jadi siswa lain ikut melapor ungkit yang bulan Februari," jelasnya.
Simak Video "Menikmati Kelezatan Konro Iga Bakar di Restoran Kota Makassar"
(ata/ata)