Warga Makassar Antre BBM karena Kebutuhan-Bukan Panic Buying

Warga Makassar Antre BBM karena Kebutuhan-Bukan Panic Buying

Tim detikSulsel - detikSulsel
Sabtu, 12 Sep 2026 07:30 WIB
Warga Makassar kecewa saat antre BBM Pertalite di SPBU Alauddin. Stok habis setelah satu jam antre.
Foto: Antrean pengisian BBM di SPBU Makassar. (Fadli Ilham/detikSulsel)
Makassar -

Antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) pada sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), diduga dipicu pembelian secara berlebihan alias panic buying oleh warga. Tudingan itu justru membuat sebagian masyarakat keheranan lantaran tidak akan rela mengantre jika bukan karena terdesak kebutuhan BBM.

Antrean BBM di SPBU yang tidak kunjung mereda membuat resah masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini turut memunculkan spekulasi adanya kelangkaan BBM meski belakangan Pertamina menepis antrean yang memicu kemacetan tersebut akibat pasokan atau suplai bahan bakar terbatas.

"Kalau untuk stok sendiri di kami sampai saat ini dalam kondisi yang aman dan mencukupi," ungkap Pjs Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo kepada detikSulsel, Kamis (10/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Okky menuturkan, pihaknya telah memaksimalkan distribusi BBM bahkan 25 SPBU di Makassar telah beroperasi 24 jam demi mengurai antrean. Dia menganggap warga terpengaruh akan informasi yang tidak benar terkait kelangkaan BBM yang ramai beredar di media sosial.

"Masyarakat kan mungkin melihat di SPBU ini antre, nanti saya tidak kebagian, jadi mereka panik. Karena kalau masyarakat panik, berapa pun yang akan kami stok di SPBU juga akan tetap kurang," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Senada dengan Pertamina, DPRD Sulsel turut mengklaim antrean di SPBU terjadi karena panic buying. Temuan itu berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) rombongan Komisi D DPRD Sulsel di sejumlah SPBU Makassar pada Rabu (9/9) lalu.

"Stok kita aman dan itu sudah ada penjelasan dari Pertamina. Jadi kalau informasi BBM langka itu tidak benar, hanya ada kepanikan masyarakat," tegas Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kadir Halid kepada detikSulsel.

Kadir menganggap antrean pengisian BBM turut dipicu penumpukan kendaraan besar dari luar daerah yang masuk Makassar. Truk maupun bus menyerbu SPBU Makassar karena khawatir tidak kebagian BBM saat kembali ke daerah asal.

"Artinya suplai lancar selama ini, tapi kenapa terjadi antrean panjang, karena kendaraan-kendaraan dari luar Sulsel yang masuk Makassar itu tujuan akhirnya untuk mengisi BBM solar," ungkapnya.

Antre BBM karena Khawatir Kendaraan Mogok

Antrean kendaraan di SPBU Jalan Pengayoman Makassar.Antrean kendaraan di SPBU Jalan Pengayoman Makassar. (Fadli Ilham/detikSulsel)

Antrean panjang pengisian BBM di SPBU yang disebut dipicu fenomena panic buying berbanding terbalik dengan yang dirasakan sejumlah pengendara. Beberapa pengendara malah kebingungan dituding melakukan pembelian secara berlebihan yang memicu antrean di SPBU.

"Saya tidak ji, tidak panik saya, cuma untuk isi kebutuhan," ungkap salah satu pengendara, Dg Naba kepada detikSulsel saat ditemui di SPBU Pengayoman, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Jumat (11/9) siang.

Dg Naba tidak mengetahui pasti penyebab sampai antrean BBM di SPBU masih berlarut-larut. Kendati begitu dia ogah disebut ikut-ikutan mengantre karena panik terpengaruh isu kelangkaan BBM.

"Bukanlah, ini saja tinggal sedikit. Tapi tidak tahu kenapa bisa antre begini, bukan panik ini," ujar Dg Naba.

Pengendara motor lainnya, Saldi juga tidak akan rela antre berjam-jam di SPBU jika bukan karena terdesak mengisi BBM. Dia khawatir motornya mogok jika nekat melanjutkan perjalanan saat bensinnya sudah menipis.

"Bukan (antre karena panic buying), ini karena memang habis, ini sudah merah (indikator BBM di motor). Jadi karena memang habis. Yang jelas bukan karena panik, tapi habis," kata Saldi kepada wartawan, Jumat (11/9).

Saldi mengaku terpaksa antre lantaran sudah lelah berkeliling di sejumlah SPBU tetapi antrean kendaraan tetap terjadi. Situasi serupa juga ditemukan di Kepulauan Selayar yang merupakan daerah asalnya.

"Saya kan dari Selayar, kemarin baru tiba (di Makassar). Di Selayar lebih parah lagi. Kadang kalau ada yang jual botolan itu pun sudah mahal, Rp 30 ribu 1 liter," paparnya.

Senada, pengendara motor bernama Rifqi juga menepis anggapan panic buying memicu antrean BBM. Dia menganggap antrean kendaraan di SPBU sudah di luar dari batas kewajaran jika hanya dipicu atas dalih kepanikan warga.

"Kalau panik ini sepeda motor tidak sampai begini antreannya. Kalau mobil mungkin, karena kan banyak yang tampungannya untuk diisi. Kalau motor kan kebutuhan hari-hari 4 sampai 5 liter," terang Rifqi.

Menurut Rifqi, antrean BBM imbas puncak dari akumulasi pembatasan BBM. Dia beranggapan situasi yang meresahkan masyarakat ini tidak mungkin terjadi kalau sebelumnya tidak dibatasi.

"Saya lihat ini masalahnya karena akumulasi dari 4 hari ini saya rasa mereka menunggu, karena sebelumnya dibatasi," imbuh Rifqi.

Antrean BBM di SPBU turut membuat warga mencari alternatif mengisi bensin eceran alias pertamini di warung. Pengisian BBM di tingkat pengecer menjadi alternatif lantaran antreannya meski tidak sepanjang di SPBU.

"Mau bagaimana kita ini kalau bensin motor sudah mau habis, nanti mogok, kita mendorong. Di SPBU juga antrenya sudah panjang sekali. Itupun belum tentu kita antre bisa kebagian stok," kata pengendara motor, Abadi di sebuah warung Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Jumat (11/9).

Abadi terpaksa membayar pembelian BBM di tingkat pengecer meski lebih tinggi dibanding SPBU. Dia mengaku sudah lelah berkeliling SPBU dan menghabiskan waktu menunggu giliran.

"Saya isi di pertamini, tapi bukan Pertalite, dia (pedagang) jualnya Pertamax. Itu Pertamax dijual harga Rp 20 ribu per liter. Mahal tapi tidak tahu mau bagaimana lagi," cetusnya.

Dia mengeluh antrean BBM di SPBU sudah sangat meresahkan. Abadi berharap kondisi ini bisa segera berakhir karena mengganggu aktivitas harian dan pekerjaannya.

"Kita ini pakai kendaraan dan mengisi BBM karena memang sudah mau habis. Jadi kalau susah dapat BBM-nya pasti mengganggu pekerjaan kita karena mobilitas jadi berkurang," jelasnya.

Warga Diminta Tetap Tertib Saat Antre Isi BBM

Gubernur Sulsel meninjau salah satu SPBU di Makassar.Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman meninjau salah satu SPBU di Makassar. (dok. istimewa)

Sementara itu, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman memastikan persoalan ini menjadi atensi serius pemerintah. Dia mengajak masyarakat untuk tetap tertib selama mengantre isi BBM.

"Kami meminta kepada semua tertib dalam pengisian. Kami mohon kerja samanya kepada masyarakat yang kami cintai dan tetap sabar," kata Andi Sudirman dalam keterangannya, Kamis (10/9).

Andi Sudirman mengatakan, pihaknya sudah membentuk satuan tugas (satgas) untuk mengatasi hal ini dengan melibatkan unsur pemerintah, Pertamina hingga TNI dan Polri. Masyarakat diminta tidak melakukan panic buying yang distribusi BBM dapat berjalan dengan baik.

"Kita telah membentuk satgas juga dan kami menyampaikan kepada seluruh masyarakat untuk tidak melaksanakan panik buying, pembelian BBM," ucapnya.

Informasi yang diterima dari Pertamina, stok BBM relatif masih aman di SPBU. Pertamina juga mengoperasikan SPBU yang beroperasi 24 jam untuk melayani pengisian BBM bersubsidi selama 24 jam.

"Stok ada di SPBU kita, termasuk 24 jam terbuka, dan memang ada peningkatan permintaan untuk yang bersubsidi," ujar Andi Sudirman.

Di sisi lain, Pemprov Sulsel menemukan indikasi praktik penyalahgunaan BBM subsidi yang memperparah situasi. Pelanggaran itu di antaranya pengisian BBM secara berulang meskipun BBM sebelumnya belum dimanfaatkan, hingga dugaan modifikasi tangki kendaraan.

"Tidak sedikit ada di lapangan ditemukan kondisi-kondisi yang mengindikasikan kecurangan, baik daripada pengisian berulang tanpa dimanfaatkan BBM yang sudah diisi hari sebelumnya. Yang kedua kadang-kadang modifikasi tangki," jelasnya.

Satgas pun akan melakukan pengawasan secara ketat. Kendaraan yang diduga melakukan pelanggaran akan ditindak, termasuk oknum yang memanfaatkan situasi untuk memperoleh BBM bersubsidi secara tidak semestinya.

"Kita akan perketat ke depan, termasuk pemeriksaan sampai pencabutan izin dan pemblokiran nomor polisi kendaraan tersebut," tegas Andi Sudirman.

Andi Sudirman kembali mengingatkan para pengemudi mematuhi regulasi yang berlaku. Dia meminta situasi ini dijadikan momentum mengambil keuntungan dengan melakukan pengisian berulang atau menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi untuk mendapatkan BBM bersubsidi.

"Kami mohon kepada pemilik kendaraan, termasuk sopir dan kendaraan sendiri, kita akan perketat ke depan. Saya mohon kerja samanya karena banyak masyarakat yang sedang mengantri dan memang betul-betul butuh," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Warga 'Panic Buying' BBM, Antrean SPBU di Purwakarta Picu Kemacetan"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads