Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengungkap kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) termasuk Makassar, dipicu fenomena El Nino kuat di tengah musim kemarau. Kekeringan tahun ini dianggap lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya.
"Saat ini kan kita di kondisi puncak musim kemarau Agustus dan September. Kita sudah kemarau, baru saat ini ada El Nino dengan kategori kuat," kata Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Rekun Matandung kepada detikSulsel, Jumat (14/8/2026).
Rekun menjelaskan, kekeringan di tengah musim kemarau sedianya pernah terjadi pada 2023. Kendati begitu, situasi pada tahun ini dinilai lebih ekstrem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kekeringan yang terjadi di tahun 2026 lebih kuat dibandingkan 2023 karena untuk kategori El Nino juga itu diprediksi kuat hingga sangat kuat," ungkap Rekun.
Dia menjelaskan, kemarau panjang di akhir tahun 2026 karena suhu panas di wilayah pasifik. Suhu panas tersebut yang menyebabkan tidak terjadinya hujan dalam beberapa bulan ke depan.
"Saat ini kita lagi musim kemarau atau monsoon Australia yang membawa udara kering, ditambah El Nino dia tambah kering. Jadi sebetulnya yang perlu diantisipasi itu El Nino di musim kemarau," ucapnya.
"Apalagi sekarang ini dan beberapa bulan ke depan berada di puncaknya. Itu bisa dikatakan kekeringan ekstrem lah karena itu tadi El Nino di puncak musim kemarau," jelas Rekun.
Menurut dia, fenomena El Nino di tengah musim kemarau bisa memicu rentetan dampak atau bencana lanjutan. Salah satunya memicu potensi peningkatan kebakaran.
"Itu akan semakin memperparah kekeringan di puncak musim kemarau, sehingga yang perlu diwaspadai itu seperti itu karena sangat kering ya. Potensi kebakaran lahan itu sangat tinggi," paparnya.
Selain ancaman kebakaran lahan, dia mengungkapkan potensi kekurangan air pun harus diantisipasi. Pasalnya, perubahan iklim saat ini mengakibatkan tidak turunnya air hujan.
"Mungkin ke depan ini kita mesti perlu antisipasi akan kurang sekali air saat di puncaknya karena memang Agustus dan September ini berpotensi tidak ada hujan sama sekali," ungkapnya.
Makassar Tanggap Darurat Kekeringan
Sementara itu Makassar telah ditetapkan dalam status tanggap darurat bencana kekeringan. Sebanyak 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga mengalami krisis air bersih yang tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.
"Kita penetapan status tanggap darurat sudah sejak Jumat (7/8) kemarin," ungkap Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar kepada detikSulsel, Kamis (14/8).
Dia menegaskan status tanggap darurat artinya upaya antisipasi harus lebih dimaksimalkan. Berdasarkan laporan BMKG, status kekeringan di Makassar pada tahun ini lebih kuat dibandingkan pada 2023 lalu.
"Jadi efek dari tanggap darurat bencana ini sangat luar biasa. Seperti BMKG katakan tadi kalau tahun 2023 memang kuat tapi 2026 ini statusnya sangat kuat," tuturnya.
Pihaknya juga telah menggelar rapat koordinasi untuk melakukan penanganan. Dia menegaskan kebutuhan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat dan tidak dapat ditangani satu instansi saja.
"Seluruh potensi yang tersedia harus kita konsolidasikan dan langsung digerakkan ke wilayah yang membutuhkan. Ukuran keberhasilan kita bukan banyaknya rapat, tetapi seberapa cepat air sampai kepada masyarakat," jelasnya.
