Bencana kekeringan imbas musim kemarau diprediksi melanda Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), selama empat bulan ke depan. Bantuan air bersih akan diintensifkan di enam kecamatan terdampak.
"Jadi empat bulan terakhir ini kemungkinan besar kita akan kekeringan dahsyat," kata Kepala BPBD Makassar M Fadli Tahar kepada detikSulsel, Jumat (14/8/2026).
Fadli menuturkan, situasi ini sudah ditindaklanjuti dengan penetapan status tanggap darurat kekeringan. Kebijakan ini agar semua stakeholder terkait bekerja sama melakukan penanganan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itulah kita menanggapi itu dengan status ini pak wali kota tetapkan, kita punya antisipasi-antisipasi selama empat bulan ini mulai 8 (Agustus), 9 (September), 10 (Oktober), 11 (November)," papar Fadli.
Pihaknya juga telah menggelar rapat koordinasi untuk melakukan penanganan. Dia menegaskan kebutuhan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat dan tidak dapat ditangani satu instansi saja.
"Seluruh potensi yang tersedia harus kita konsolidasikan dan langsung digerakkan ke wilayah yang membutuhkan. Ukuran keberhasilan kita bukan banyaknya rapat, tetapi seberapa cepat air sampai kepada masyarakat," jelasnya.
Operasi darurat difokuskan pada distribusi air bersih, penempatan tandon di wilayah terdampak. Selain itu penguatan dukungan lintas sektor, termasuk pelayanan kesehatan dan mitigasi risiko kebakaran selama periode kekeringan.
Sejauh ini, distribusi tandon telah dilakukan di sejumlah wilayah. Data BPBD mencatat 17 tandon ditempatkan di Ujung Tanah, 8 tandon di Biringkanaya, dan 10 tandon di Tallo.
"Kita ingin jelas siapa berbuat apa, berapa kekuatan yang bisa digerakkan dan wilayah mana yang menjadi tanggung jawabnya. Setelah rakor ini, orientasinya adalah operasi lapangan," ujarnya.
Pemkot Makassar juga mewaspadai potensi dampak lanjutan kekeringan. Terutama gangguan kesehatan serta kebutuhan kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas.
"Air adalah kebutuhan paling dasar. Karena itu negara harus hadir ketika masyarakat mulai kesulitan mendapatkannya. Kita bergerak bersama agar tidak ada warga terdampak yang terabaikan," tegas Fadli.
Diketahui, Makassar telah ditetapkan dalam status tanggap darurat bencana kekeringan. Total 47.252 dari 13.929 kepala keluarga terdampak yang tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tana, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.
"(Status tanggap) darurat ini hal yang sangat luar biasa dalam satuan kota itu. Mulai besok, setiap hari akan masif itu distribusi air. Kita ada sumber-sumber air termasuk PDAM," ujar Fadli.
Dia menegaskan status tanggap darurat artinya upaya antisipasi pun harus lebih dimaksimalkan. Berdasarkan laporan BMKG, status kekeringan di Makassar pada tahun ini lebih kuat dibandingkan pada 2023 lalu.
"Jadi efek dari tanggap darurat bencana ini sangat luar biasa. Seperti BMKG katakan tadi kalau tahun 2023 memang kuat tapi 2026 ini statusnya sangat kuat," pungkasnya.
