Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), terancam mengalami krisis air bersih akibat bencana kekeringan pada musim kemarau. Sebanyak 12.717 rumah dari enam kecamatan dilaporkan mulai terdampak kekeringan.
Hal itu berdasarkan hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar sejak 1 Juni-9 Juli 2026. Adapun enam kecamatan terdampak, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.
Kecamatan paling terdampak berada di Biringkanaya dengan jumlah 14.787 jiwa dan 4.084 rumah merasakan dampak kekeringan. Selanjutnya disusul di Tallo dengan 13.762 jiwa dan 2.862 rumah terdampak bencana kekeringan.
Di Tamalanrea ada 9.947 jiwa dan 2.922 rumah, Manggala 7.610 jiwa dan 1.959 rumah, Ujung Tanah ada 2.921 jiwa dan 645 rumah. Terakhir, ada 1.324 jiwa dan 245 rumah di Panakkukang terdampak kekeringan.
Dirangkum detikSulsel hingga Kamis (16/7/2026), berikut fakta-fakta kekeringan di Makassar yang berpotensi memicu krisis air bersih:
50.342 Jiwa Terdampak Bencana Kekeringan
Laporan BPBD Makassar mencatat total 50.343 jiwa atau 14.564 kepala keluarga (KK) dari enam kecamatan kekeringan. Rinciannya, 24.192 laki-laki dan 26.150 perempuan.
"Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar 53 ribu jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan," kata Kepala Pelaksana BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar kepada wartawan, Sabtu (11/7).
Fadli menyebut sebanyak 50% di antaranya terdampak langsung kekeringan. Mereka adalah masyarakat yang selama ini bergantung dari sumber air tanah atau bukan dari jaringan PDAM.
"Sekitar 50% masyarakat telah terdampak secara langsung, terutama warga yang selama ini mengandalkan air tanah sebagai satu-satunya sumber air bersih," paparnya.
Cadangan Air Potensi Cuma Bertahan 30 Hari
Fadli menuturkan, wilayah yang memperoleh pasokan air dari jaringan PDAM masih berada dalam kondisi relatif aman. Kendati begitu, situasi ini tetap perlu diwaspadai seiring sumber air baku berkurang akibat kekeringan.
"Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku, cadangan air PDAM diperkirakan akan terus mengalami penurunan," ucap Fadli.
Jika kekeringan terus berlanjut, maka cadangan air yang dikelola hanya bisa bertahan. Kendati begitu, kondisi tersebut masih sebatas asumsi dengan melihat situasi di lapangan.
"Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan," tambahnya.
Puncak Kekeringan Diprediksi September-Oktober
BPBD Makassar memperkirakan kekeringan memasuki masa puncaknya pada September hingga Oktober 2026. Hal ini juga merujuk dari informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
"Puncaknya itu bulan 9 (September) hingga 10 (Oktober)," ungkap Fadli.
Fadli melanjutkan, distribusi air bersih kepada warga sudah intens dilakukan. Penyaluran bantuan air diprioritaskan pada wilayah yang belum terakomodir jaringan PDAM.
"Langkah-langkah antisipatif dan kesiapsiagaan terus disiapkan untuk menghindari meluasnya dampak kekeringan terhadap masyarakat," paparnya.
(sar/sar)