Makassar Ditetapkan Masuk Status Tanggap Darurat Kekeringan Pekan Depan

Makassar Ditetapkan Masuk Status Tanggap Darurat Kekeringan Pekan Depan

Sahrul Alim - detikSulsel
Sabtu, 11 Jul 2026 17:00 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar.
Foto: Kepala Pelaksana BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar. (Sahrul Alim/detikSulsel)
Makassar -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, Sulawesi mengusulkan Kota Makassar segera ditetapkan masuk status tanggap darurat bencana kekeringan. Kebijakan itu ditempuh setelah 50.342 warga dari 6 kecamatan dilaporkan mulai mengalami krisis air bersih.

"Kita akan menetapkan status tanggap darurat oleh wali kota langsung," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar kepada wartawan, Sabtu (11/7/2026).

Status tanggap darurat itu rencananya akan ditetapkan pada Selasa (14/7) pekan depan. Momen itu akan dirangkaikan dengan apel kesiapsiagaan di Tugu Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari Selasa (14/7) rencana penetapan status tanggap darurat kekeringan diumumkan langsung oleh pak wali saat acara apel kesiapsiagaan," tuturnya.

Kebijakan tanggap darurat bencana ini mengacu dari hasil asesmen BPBD Makassar. Dari hasil kaji cepat terdapat 6 kecamatan terdampak kekeringan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.

ADVERTISEMENT

"Sekarang secara umum sudah ada 50.343 jiwa yang terdampak di enam kecamatan di 14 kelurahan. Nah, dari 53.000 ini, 50% sudah terdampak langsung," ucap Fadli.

Pihaknya pun akan menyalurkan bantuan air bersih ke warga terdampak. Bantuan difokuskan untuk warga yang menggantungkan kebutuhan harian pada air tanah atau sumur.

"Yang akan kami intervensi langsung nanti pada saat ini adalah pada saat ada tanggap darurat nanti adalah masyarakat yang sumber airnya adalah air sumur atau air tanah, jadi bukan (pelanggan) PDAM," paparnya.

Fadli menjelaskan, penetapan status tanggap darurat ini membuka semua unsur lintas sektor terkait bersama-sama melakukan penanganan. Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) juga bisa dikucurkan untuk mengakomodir penanganan.

"Biaya untuk itu kami siapkan dalam bentuk dana BTT. Dana BTT ini akan mencukupi untuk kegiatan ini. Karena kami juga sudah pernah mengalami hal ini tahun 2023, sehingga saya rasa nggak ada masalah," terang Fadli.

Cadangan Air Bersih Diprediksi Bertahan 30 Hari

Diketahui, kekeringan berdampak pada 12.717 rumah tinggal dan 50.342 warga dari 14.564 kepala keluarga (KK). Kecamatan paling terdampak berada di Biringkanaya setelah dilaporkan 14.787 jiwa dan 4.084 rumah terdampak, lalu disusul di Tallo 13.762 jiwa dan 2.862 rumah terdampak kekeringan.

Di Tamalanrea ada 9.947 jiwa dan 2.922 rumah, Manggala 7.610 jiwa dan 1.959 rumah, Ujung Tanah ada 2.921 jiwa dan 645 rumah. Terakhir, ada 1.324 jiwa dan 245 rumah di Panakkukang terdampak kekeringan.

Fadli mengungkap kekeringan yang melanda 6 kecamatan berpotensi membuat cadangan air bersih hanya bertahan 30 hari jika cuaca kering terus berlanjut. Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku, cadangan air PDAM diperkirakan akan terus mengalami penurunan.

"Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan," imbuh Fadli.



(sar/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads