Beberapa hari terakhir, wilayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) diguyur hujan di tengah fenomena panas ekstrem El Nino 'Godzilla' yang mengintai Indonesia. Kondisi ini tentu menimbulkan tanda tanya di masyarakat, mengingat El Nino identik dengan cuaca kering dan peningkatan suhu yang signifikan.
Menyadur Direktorat Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera I, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator. Ketika suhu ini meningkat drastis, pola angin dan pembentukan awan ikut berubah.
Kondisi tersebut menyebabkan wilayah seperti Indonesia mengalami penurunan curah hujan. Akibatnya, musim kemarau bisa datang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering dari biasanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu El Nino 'Godzilla'?
Istilah ini merujuk pada kondisi El Nino super kuat yang bisa memicu perubahan cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, tapi levelnya jauh lebih intens dibanding El Nino biasa.
"Godzilla" sendiri merupakan julukan populer yang diberikan ilmuwan NASA pada 2015 untuk menggambarkan El Nino yang "super kuat dan destruktif". Istilah tersebut diambil dari karakter monster raksasa Godzilla yang identik dengan kekuatan besar dan dampak masif.
El Nino "Godzilla" bisa menyebabkan kekeringan panjang, krisis air bersih, penurunan hasil pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Minimnya air pada saat terjadinya fenomena tersebut menyebabkan sektor pangan juga ikut terancam karena produksi bisa menurun.
Kondisi ini pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015, dampak fenomena ini berdampak secara global, termasuk di Indonesia.
Kenapa Makassar Masih Sering Hujan?
Berdasarkan data BMKG, per dasarian II April 2026 sebanyak 10.4% wilayah Indonesia (73 ZOM) memang telah memasuki musim kemarau, termasuk sebagian wilayah Sulsel. Namun kenyataannya, wilayah Makassar masih sering diguyur hujan belakangan ini.
Kondisi ini tentu menjadi anomali dan menimbulkan pertanyaan di tengah-tengah masyarakat. Ternyata, anomali ini merupakan dampak dari aktivitas atmosfer serta prediksi musim yang berada pada fase dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.
Secara ilmiah, BMKG menjelaskan kondisi hujan yang tak menentu di tengah musim kemarau dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang secara spasial berpengaruh di sebagian wilayah Indonesia.
Gelombang-gelombang tersebut merupakan jenis gelombang atmosfer skala besar di wilayah tropis yang menggerakkan cuaca dan pola curah hujan, seperti peningkatan awan konvektif dan potensi hujan lebat.
Selain fenomena global tersebut, sirkulasi siklonik juga berpengaruh terhadap pola cuaca di wilayah Indonesia. Sirkulasi siklonik di perairan dan pesisir barat Sumatera dan Kalimantan Barat memicu terbentuknya daerah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi yang meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan.
Kondisi inilah yang dapat menyebabkan terjadinya hujan di sekitar pusat sirkulasi maupun di sekitar wilayah yang terdampak pola angin tersebut. Daerah konvergensi juga diprediksi terbentuk di sejumlah wilayah lainnya di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan.
Selain kedua faktor tersebut, kondisi cuaca juga tidak menentu disebabkan adanya fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk kondisi El NiΓ±o-Southern Oscillation (ENSO) saat belahan Bumi utara melewati periode musim semi (Maret, April, Mei).
Hingga akhir Maret 2026, kondisi ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun adanya fenomena spring predictability barrier ini menyebabkan akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO menjadi lebih tidak pasti selama periode tersebut.
Prediksi Terbaru Musim Kemarau Makassar 2026
Mengutip dari data Analisis Dinamika Atmosfer-Laut; Analisis & Prediksi Curah Hujan Mei-Oktober 2026 yang dirilis BMKG, peta prediksi awal musim kemarau 2026 menunjukkan wilayah Makassar dan sekitarnya akan mulai memasuki musim kemarau pada dasarian II Mei 2026.
Sementara itu, berdasarkan peta prediksi puncak musim kemarau 2026, wilayah Makassar dan sekitarnya diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2026.
