Suasana malam di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini bagaikan 'Texas' imbas tren senjata mainan yang kian menjamur. Jalan-jalan umum kerap dijadikan arena bermain tembak-tembakan hingga dianggap sangat meresahkan masyarakat.
Kondisi itu terjadi beberapa waktu terakhir selama memasuki bulan suci Ramadan. Hampir di setiap sudut kota terlihat remaja hingga orang dewasa keluar rumah dengan menenteng senjata mainannya, terutama setelah tarawih hingga subuh.
Bahkan tidak sedikit yang membentuk kelompok lalu menggelar konvoi keliling kota menggunakan sepeda motor. Mereka mencari lawan untuk beradu tembak-tembakan di jalanan umum hingga membuat arus lalu lintas serasa tiba-tiba mencekam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, Texas memiliki salah satu aturan kepemilikan senjata api paling longgar di Amerika Serikat, dengan kebijakan permitless carry (pembawaan tanpa izin) sejak 2021. Penduduk berusia 21 tahun ke atas dapat membawa senjata api (terbuka/tersembunyi) di sebagian besar tempat publik tanpa izin khusus (LTC).
Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin pun dibuat geram dengan fenomena ini. Appi menilai tren tembak-tembakan dengan peluru jeli dan butiran plastik itu sudah berlebihan dan tidak bisa dibiarkan.
"Iya itu saya minta persoalan ini jangan dianggap main-main," ujar Appi kepada wartawan di Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, permainan ini sudah di luar batas kewajaran karena dilakukan dengan saling kejar-kejaran pakai motor. Dia meminta semua pihak melakukan pencegahan.
"Penggunaannya juga kadang-kadang sudah berlebihan, dipakai di atas motor tembak-tembak dari atas motor menurut saya ini persoalan yang tidak bisa dibiarkan, harus semua pihak harus mampu menahan," katanya.
Appi menegaskan permainan ini tidak boleh sekadar untuk bersenang-senang. Kegiatan itu semestinya turut memerhatikan ketertiban umum yang menjadi terganggu karena dilakukan tanpa batasan.
"Bukan cuman fun, tapi persoalannya kalau sudah bisa mencelakakan orang lain, bisa mengganggu ketertiban umum," jelasnya.
Appi mengaku telah mengantensi masalah ini dan berkoordinasi langsung dengan Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana. Appi memastikan pihaknya bersama Polrestabes Makassar akan melakukan penanganan.
"Saya sudah berkoordinasi dengan Bapak Kapolrestabes untuk menyelesaikan persoalan ini," pungkasnya.
Kapolres Wanti-wanti Jadi Pemicu Perang Kelompok
Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana mengaku sudah menerima banyak keluhan dari masyarakat soal perang senjata mainan selama Ramadan. Polisi pun mewanti-wanti permainan tersebut memicu ketersinggungan hingga menyebabkan terjadinya perang kelompok.
"Bisa menimbulkan ketersinggungan dan terjadi perang kelompok," ujar Arya Perdana kepada detikSulsel, Senin (2/3).
Arya menjelaskan, senjata mainan ini kerap dimainkan di lorong-lorong hingga jalan protokol di Makassar. Dia menyebut aksi remaja tidak bertanggung jawab sambil konvoi ini banyak dikeluhkan warga.
"Kami sudah menerima banyak komplain dari masyarakat terkait permainan masyarakat khususnya remaja-remaja yang tidak bertanggung jawab menggunakan senapan ini untuk main perang-perangan di jalan sehingga mengganggu ketenangan masyarakat terutama yang melintas," ujarnya.
Arya mengaku jajarannya telah melakukan patroli membubarkan para remaja yang terlibat setiap hari. Selain memberi pemahaman ke remaja dan orang tuanya, sejumlah senjata mainan juga telah disita.
"Kita setiap hari melaksanakan patroli untuk membubarkan mereka," katanya.
Dia juga mengaku telah mengingatkan warga bahwa senjata mainan itu berbahaya jika disalahgunakan. Di antaranya bisa menyebabkan kebutaan saat terkena mata hingga berujung pidana bagi pelakunya.
"Senjata itu memang senjata mainan tapi kalau kena mata bisa buta atau terkena masyarakat yang sedang mengendarai motor lalu hilang keseimbangan dan jatuh akan mengakibatkan laka lantas bisa luka bisa juga meninggal dunia. Yang tadinya tidak ada pidana justru ada pidana," terangnya.
Mengantisipasi hal itu, Arya mengimbau untuk menghindari peperangan dengan senjata mainan itu. Dia menegaskan senjata mainan itu tidak boleh digunakan di jalan umum yang mengganggu aktivitas warga.
"Maka saya menghimbau untuk menghindari dan tidak melakukan perang-perangan dengan senjata omega ini terutama di jalan umum yang mengganggu masyarakat," katanya.
DPRD Minta Camat-RT/RW Jangan Diam
DPRD Makassar turut menyoroti tren ini. Camat, lurah, hingga ketua RT/RW didesak aktif melakukan pencegahan gangguan ketertiban umum.
"Ini kan kita ada ketua RT/RW, ada petugas-petugas TNI/Polri di bawah, ini harusnya dimaksimalkan untuk mereka mencegah dari sektor yang paling kecil seperti itu, memang senjata mainan, tapi ujungnya bisa tawuran atau perang kelompok, ini bisa jadi pemicu," ujar Ketua Komisi D DPRD Makassar, Ari Ashari Ilham kepada detikSulsel, Senin (2/3).
Ari menyebut peran ketua RT/RW harus dimaksimalkan karena mereka merupakan perpanjangan tangan pemerintah di tingkat paling bawah. Ketua RT/RW dinilai memiliki posisi strategis untuk mengimbau para remaja di wilayah masing-masing agar tidak melakukan kegiatan yang mengganggu ketertiban warga.
"Peran RT/RW kita harus dimaksimalkan karena mereka ini kan perpanjangan tangan pemerintah yang paling bawah. Sehingga mereka yang bisa mengimbau kepada anak-anak muda di wilayah masing-masing untuk tidak melakukan hal-hal yang mengganggu ketertiban orang lain," jelasnya.
Selain itu, RT/RW juga diminta berkoordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, dengan pengawasan yang dikomandoi oleh lurah dan camat setempat agar berjalan efektif. Jika pola pengawasan ini berjalan baik, kata Ari, bukan hanya potensi tawuran akibat penggunaan senjata mainan yang dapat dicegah, tetapi juga berbagai bentuk gangguan ketertiban lainnya.
"RT/RW harus berkoordinasi dengan Babinsa dan Binmas, tapi kegiatan itu harus dikomandoi oleh lurah/camat masing-masing bagaimana agar pengawasan ini efektif," pungkasnya.
Simak Video "Video Teka-teki Senjata yang Disebut Mainan di TKP Ledakan SMAN 72 Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/asm)











































