Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin menjadikan Jakarta International Stadium (JIS) sebagai percontohan dalam membangun Stadion Untia di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Appi sudah bolak-balik meninjau JIS sebelum Pemkot Makassar membangun sendiri stadion berstandar internasional tahun ini.
Diketahui, proyek Stadion Untia Makassar dibangun secara bertahap yang perencanaannya dimulai sejak 2025. Dilansir dari Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), proyek Stadion Untia telah memasuki tender manajemen konstruksi (MK) dengan pagu anggaran dari APBD Makassar 2026 senilai Rp 7 miliar.
"Manajemen konstruksi Stadion Untia Makassar berfokus pada tahap perencanaan matang yang diikuti penimbunan lahan di 2026, lalu konstruksi fisik mulai 2027 dengan target penggunaan 2028," demikian uraian singkat yang tertuang dalam SPSE dikutip detikSulsel, Kamis (5/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tender MK Stadion Untia terpantau diikuti 34 perusahaan di mana 6 di antaranya sedang dalam proses evaluasi sebelum pemenang diumumkan. Keenam perusahaan itu adalah: PT Agrinas Jaladri Nusantara; PT Archimedia Consultans; PT Ciriajasa Cipta Mandiri; PT Esa Pratama Cipta Selebes; PT Kogas Driyap Konsultan; dan PT Widha.
Berdasarkan jadwal dari SPSE, perusahaan pemenang tender MK Stadion Untia Makassar akan diumumkan pada 19 Februari mendatang. Setelah proses ini, Pemkot Makassar akan menyiapkan tender konstruksi pembangunan Stadion Untia.
Sebelum infrastruktur Stadion Untia dimulai, Pemkot Makassar terus mematangkan perencanaan proyek ini termasuk melalui studi lapangan ke JIS. Appi tercatat sudah dua kali meninjau JIS di Jakarta Utara, DKI Jakarta pada 30 Juli 2025 dan 4 Februari 2026.
Dari dua kali kunjungannya, Appi mempelajari kebutuhan teknis pembangunan hingga pengelolaan stadion untuk diterapkan ke Stadion Untia. Berikut jejak kunjungan Appi ke JIS untuk mempelajari pembangunan Stadion Untia ke depan:
Belajar Teknis Pembangunan Stadion dari JIS
Appi awalnya meninjau JIS bersama sejumlah pejabat Pemkot Makassar pada Rabu (30/7/2025). Appi disambut langsung oleh Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (JakPro), Iwan Takwin selaku pengelola JIS.
"Kami melakukan studi lapangan di JIS untuk melihat langsung kebutuhan teknis, tahapan pembangunan, hingga aspek regulasi seperti standar FIFA, amdal, amdalalin, DED, hingga status legalitas lahan," kata Appi dalam kunjungannya kala itu.
Appi turut mengapresiasi Jakarta International Stadium (JIS) sebagai infrastruktur modern yang dibangun dengan desain canggih. Bahkan stadion tersebut bisa diselesaikan di tengah tantangan besar pandemi COVID-19.
"Kami ingin pelajari bagaimana perencanaan, manajemen risiko, dan eksekusi proyek stadion yang dilakukan dengan baik di sini," ungkap Appi.
Appi menegaskan Stadion Untia Makassar didorong menjadi pusat ekonomi baru. Dia tidak ingin proyek strategis tersebut hanya menjadi wadah untuk fasilitas sepakbola saja.
"Kita ingin stadion Untia ini menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Bukan hanya tempat pertandingan sepak bola, tetapi juga memicu kegiatan UMKM, pariwisata, serta membuka lapangan kerja baru," bebernya.
Appi mengatakan, Stadion Untia dibangun dengan kapasitas berkisar 15.000 sampai 20.000 penonton. Atmosfer sepakbola yang sangat kuat di Makassar menjadi salah satu alasan strategis pembangunan Stadion Untia.
"Tapi yang lebih penting dari itu, kami ingin stadion ini memenuhi kaidah dan regulasi internasional agar bisa digunakan di semua level pertandingan, baik nasional maupun internasional," terang Appi.
Dia berharap proses konstruksi bisa segera dimulai awal tahun 2026. Pemkot Makassar juga akan melibatkan akademisi perguruan tinggi yang punya kapasitas di bidang arsitektur, teknik sipil, dan tata kota.
"Kami targetkan seluruh dokumen mulai dari feasibility study, amdal, DED hingga sertifikasi tanah bisa diselesaikan di tahun ini. Sehingga akhir 2025 atau awal 2026 kita bisa mulai pekerjaan fisik stadion," jelasnya.
Pelajari Tata Kelola JIS demi Stadion Untia
Appi kemudian kembali ke JIS untuk melakukan studi lapangan pada Rabu (4/2/2026). Kunjungan Appi kali ini lebih fokus untuk mempelajari sistem pengelolaan stadion di bawah PT Jakarta Propertindo (JakPro).
"Kunjungan ke JIS untuk pembangunan stadion baru (Stadion Untia) di Kota Makassar, tidak hanya difokuskan pada aspek fisik dan konstruksi semata, tetapi juga pada tata kelola pengelolaan stadion secara berkelanjutan," kata Appi dalam keterangannya.
Dalam kunjungannya, Appi dikawal langsung Direktur Utama PT JakPro, Iwan Takwin. Appi berkesempatan mendengar pemaparan pengelola JIS terkait aspek pembangunan stadion khususnya terkait pengelolaan stadion pasca-pembangunan.
"Kita sudah tidak lagi datang untuk berbicara soal konstruksi, tetapi ingin melihat dan mempelajari bagaimana tata kelola pengelolaannya, bagaimana sistem maintenance, serta apa saja yang bisa dilakukan selain fungsi utama sebagai stadion sepakbola," paparnya.
Pemkot Makassar berharap mengadopsi praktik terbaik dari pengelolaan JIS untuk Stadion Untia di Makassar. Stadion Untia ke depan akan dikelola secara profesional demi mendukung kemajuan olahraga serta kegiatan ekonomi dan hiburan.
"Kita berharap ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari JIS. Stadion ini bukan hanya digunakan untuk sepakbola, tetapi juga mampu mengakomodasi berbagai kegiatan lain, seperti konser musik dan event berskala besar lainnya," jelas Appi.
Appi turut mempelajari sistem perawatan stadion khususnya terkait pengelolaan dan pemeliharaan rumput lapangan. Aspek ini menjadi salah satu komponen krusial yang harus diperhitungkan sejak awal, termasuk kebutuhan anggaran dan mekanisme perawatannya.
"Kami juga melihat secara detail bagaimana flow perawatan stadion, khususnya perawatan rumput, serta menghitung secara cermat berapa biaya maintenance yang dibutuhkan," imbuh Appi.
23 Hektare Lahan Stadion Untia Tersertifikasi
Pemkot Makassar juga memastikan lahan seluas 23 hektare di Kelurahan Untia untuk pembangunan Stadion Untia sudah disiapkan. Lahan tersebut dipastikan legalitasnya setelah sertifikasinya dirampungkan.
"Saat ini lahan yang siap untuk pembangunan Stadion Untia kurang lebih seluas 23 hektare dan telah tersertifikasi. Ini dilakukan agar ke depan tidak terjadi permasalahan hukum terkait status lahan," ujar Kepala Dinas Pertanahan Makassar, Sri Sulsilawati dalam keterangannya, Kamis (5/2).
Sri menjelaskan, proses sertifikasi lahan saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap penerbitan sertifikat tanah kini wajib dilengkapi dengan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR).
Hal tersebut untuk memastikan kesesuaian antara peruntukan lahan dengan rencana tata ruang. Dalam setiap sertifikat, wajib ada PKKPR. Prosesnya diawali dengan persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang.
"Jadi tidak bisa langsung input formulir lalu sertifikat terbit, tetapi harus dipastikan dulu kesesuaiannya," tutur Sri.
Ketentuan ini berbeda dengan mekanisme lama yang relatif lebih sederhana. Penyelesaian sertifikasi lahan Stadion Untia membutuhkan kolaborasi intensif dengan Dinas Tata Ruang agar seluruh proses berjalan sesuai regulasi yang berlaku.
"Sekarang sertifikasi itu tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada koordinasi dan kolaborasi yang kuat dengan Dinas Tata Ruang, karena menyangkut kesesuaian rencana pemanfaatan ruang," jelasnya.
Dia kembali memastikan total lahan untuk pembangunan Stadion Untia seluas 23 hektare sudah aman dan bersertifikat. Hal ini termasuk lahan seluas lebih dari satu hektare yang sebelumnya digunakan Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.
Sebelum proses sertifikasi dilakukan, Pemkot Makassar telah meminta surat pernyataan dari pihak-pihak yang menempati lahan tersebut. Surat itu menyatakan bahwa tanah yang digunakan merupakan milik Pemkot Makassar dan digunakan dalam skema pinjam pakai.
"Surat pernyataan itu penting sebagai dasar hukum. Mereka menyatakan bahwa tanah yang digunakan adalah tanah milik Pemkot Makassar yang dipinjam-pakaikan," pungkas Sri.
Simak Video "Video: Sebentar Lagi Maroon 5 Tampil di Jakarta, Fan Sudah Nggak Sabar!"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/sar)











































