Keluarga Valenth A Tambuto (24), pemuda asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang ditemukan tewas di Kota Yerevan, Armenia, mempertanyakan perkembangan kasus dugaan pembunuhan korban. Keluarga berharap pihak yang terlibat mendapat hukuman setimpal.
Hal tersebut diungkapkan adik korban, Arnold Tambuto, usai prosesi pemakaman jenazah korban di Pekuburan Kristen Pannara, Jalan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar, Senin (21/9) sore. Arnlod awalnya berharap ada keterbukaan informasi terkait penyelidikan kematian kakaknya.
"Kami harapkan semoga dari pihak-pihak yang terlibat ya bisa mendapatkan hukuman setimpal dan kami berharap ada keterbukaan ke keluarga juga supaya keluarga bisa mendapatkan semua informasi-informasi itu secara terbuka," ujar Arnold kepada wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arnold mengungkapkan, keluarganya sejauh ini masih menerima informasi yang dinilai belum memberikan gambaran jelas mengenai kasus kematian Valenth. Keluarga berharap KBRI dapat memberikan informasi terbaru secara berkala.
"Sejauh ini kami hanya menerima informasi yang bisa dibilang jauh dari yang keluarga harapkan. Keluarga mengharapkan update terkini mungkin setiap ada update bisa dapat ke keluarga, tapi mungkin itu jauh dari kata mustahil," ungkapnya.
Menurut Arnold, keluarga masih menganggap informasi resmi mengenai kasus tersebut belum jelas. Dia juga menyoroti minimnya informasi dari KBRI kepada keluarga dalam beberapa waktu terakhir.
"Jadi ya keluarga berharap keterbukaan dari KBRI mengenai kasus ini, karena jujur kami mengenai kasus ini masih abu-abu, informasi resmi masih abu-abu dan juga khususnya dari KBRI akhir-akhir ini minim terhadap keluarga," bebernya.
6 WNI Ditangkap
Dilansir dari detikNews, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah mengatakan kasus tewasnya Valent masih didalami otoritas setempat. Enam orang yang merupakan WNI telah diamankan otoritas setempat terkait kasus ini.
"Dapat kami sampaikan bahwa berdasarkan komunikasi dari KBRI Kyiv melalui konsul kehormatan kita di Yerevan, sampai saat ini proses penyelidikan masih terus berlangsung dan disampaikan bahwa baik korban maupun terduga pelaku ini merupakan warga negara Indonesia," kata Heni Hamidah di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (23/7).
Dia mengungkapkan dari enam orang yang diamankan dua di antaranya telah dipulangkan setelah dimintai keterangan. Sementara empat lainnya masih menjalani pemeriksaan intensif.
"Dan pihak keamanan setempat telah mengamankan enam orang WNI yang diduga pelaku, hanya dua orang di antaranya sudah dilepaskan, sementara empat orang WNI lainnya masih menjalani proses hukum, ya masih dalam proses penyidikan," ungkap dia.
Heni mengatakan Kemlu telah mengirimkan nota diplomatik dan berkoordinasi dengan otoritas Armenia terkait penanganan tewasnya Valent. Kemlu tengah mengupayakan agar jenazah korban bisa segera dipulangkan.
"Kemudian untuk memastikan terpenuhinya hak-hak kekonsuleran, KBRI Kyiv juga telah menyampaikan nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Armenia untuk memperoleh akses kekonsuleran dan juga untuk bisa melihat jenazah untuk penanganan jenazah selanjutnya," ujar Heni.
Dia mengaku pihaknya masih menunggu respons dari pihak Armenia. Heni menambahkan pihaknya juga tengah berkoordinasi terkait dibutuhkan atau tidaknya pendampingan kekonsuleran bagi terduga pelaku.
"Nah, jadi sampai saat ini kita masih menunggu pemberian akses kekonsuleran tersebut sambil berkoordinasi dengan otoritas setempat. Tentunya juga kita akan terus memantau dan melihat apakah diperlukan pendampingan kekonsuleran yang diperlukan untuk para terduga pelaku ini," tambahnya.
Diketahui, Valent ditemukan dalam kondisi kaki, tangan, dan mulut terikat lakban dalam kamar mes pekerja perusahaan di negara tersebut. Kabar meninggalnya Valenth pertama kali diterima oleh pihak keluarganya pada Rabu (15/7) malam.
Adik korban bernama Arnold Tambuto mengaku masih sempat berkomunikasi dengan kakaknya beberapa jam sebelum kabar duka itu diterima.
