Keluarga Mustakim (16) menyayangkan sikap pihak Pondok Pesantren Darul Ulum Amiral Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan keluarga pelaku penganiayaan yang tidak bertanggung jawab atas kondisi korban. Pihak keluarga sejauh ini menanggung sendiri biaya pengobatan Mustakim.
"Kepala pondoknya (awalnya mau tanggung jawab). Bukan yang pelaku. Mau bayar, tapi akhirnya ini iming-iming bilang mau, tapi tidak. Itu waktu dikasih ketemu di Takalar bulan 4," tutur ibu korban, Suhartini saat ditemui detikSulsel di Makassar, Sabtu (25/4/2026).
Suhartini mengaku terpaksa mengeluarkan uang pribadinya untuk membiaya pengobatan Mustakim. Dia menyebut biaya pengobatannya sudah mencapai Rp 30 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rp 30 juta (biaya rumah sakitnya), karena sudah banyakmi biayanya, tapi dia tidak mau (tanggung jawab)," beber Suhartini.
Dia menyebut pihak pelaku hingga kini juga belum menunjukkan iktikad baik untuk meminta maaf kepada korban. Mereka juga tidak bersedia menanggung biaya pengobatan korban.
"Tidak ada, biar minta maaf tidak ada. Tidak pernah ditanyakan bagaimana keadaannya, biar ustaznya," sesal Suhartini.
Diberitakan sebelumnya, Mustakim diduga ikut dianiaya ustaz inisial AH usai dipukul temannya inisial L dan I. Ustaz AH berdalih tidak melakukan penganiayaan melainkan hanya melerai korban karena berkelahi.
"Pernah ketemu tapi (AH) membantah bilang tidak begini, katanya murni perkelahian sama temannya. Dia bantah bilang, 'tidak Bu, justru kami melerai'," ujar kakak korban, Ridwan saat ditemui detikSulsel di Makassar, Sabtu (25/4).
Namun keluarga korban tidak percaya dengan pengakuan ustaz AH. Keluarga lantas meminta bukti rekaman CCTV, namun pihak pesantren mengaku kamera pengawas tidak berfungsi sehingga keluarga menduga kasusnya ditutup-tutupi.
"Terus kita bilang 'mana bukti CCTV-nya?' Tapi dia bilang tidak berfungsi," ungkap Ridwan.
