Perundungan (bullying) sadis terjadi di Pondok Pesantren Darul Ulum Amiral, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Seorang santri, Mustakim (16) babak belur dianiaya teman sekamarnya inisial L dan I. Ironisnya, korban juga turut dianiaya olah ustaz.
Kejadian ini terungkap setelah pihak pesantren menghubungi keluarga korban pada 12 Desember 2025. Saat itu, pihak pesantren awalnya meminta keluarga membawa pulang korban yang sudah babak belur dengan alasan mengalami kerasukan.
"Ustaznya malam-malam itu menelepon bilang 'ambilki adek ta karena mengamuk, mungkin kerasukan'. Bilangka 'ih kenapa bisa? na di situ pesantren nda mungkin kerasukan'," kata kakak korban, Ridwan saat ditemui detikSulsel di kediamannya di Makassar, Sabtu (25/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pengakuan korban, dirinya tidak kerasukan melainkan dianiaya setelah meminta pelaku I membersihkan karena mendapat jadwal pada hari itu. Namun pelaku menolak disuruh oleh korban yang merupakan ketua OSIS.
"Terus Mustakim bilang, 'saya juga disuruh sama ustaz jalankan ini amanahnya jadi ketua OSIS," bebernya.
Belakangan pada malam harinya, pelaku I disebut memanggil pelaku L. Di situlah penganiayaan diduga terjadi terhadap Mustakim. Selanjutnya korban lari untuk mencari pertolongan.
Korban Mustakim sempat meminta pertolongan warga sekitar yang melintas. Namun saat hendak menolong, warga itu disebut diusir oleh oknum ustaz hingga korban diduga kembali dianiaya oleh sang ustaz dengan cara dipukul dan dibanting.
"(Kemudian) ustaz-nya bawa Mustakim, di situ juga pukul Mustakim, banting. Harusnya ustaznya itu tanya dulu kenapa bisa begini atau panggil itu pelaku, (tapi) dia langsung pukul," ujarnya.
Korban juga mengaku kembali mengalami penganiayaan oleh pelaku I saat dijemput keluarga untuk pulang keesokan harinya. Penganiayaan itu terjadi ketika korban hendak mengambil bajunya di lantai 2 asrama. Namun dia justru dianiaya oleh pelaku I hingga babak belur.
"Pas turun Mustakim berdarah hidungnya, lebam bawah matanya, terus ditanya katanya dipukul lagi," bebernya.
Sementara ibu korban, Suhartini mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian ini ke polisi tidak lama setelah kejadian penganiayaan. Namun kasusnya hingga kini belum menemui titik terang setelah diminta untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan.
"Tanggal 18 ji saya laporki, bulan 12, adaji saya melapor malamnya tapi disuruh bicara baik-baik saja," ujar Suhartini.
