4 Polisi Luka Saat Bentrokan Maut Antarwarga di Tolikara, Senpi Dirampas

Papua Pegunungan

4 Polisi Luka Saat Bentrokan Maut Antarwarga di Tolikara, Senpi Dirampas

Syachrul Arsyad - detikSulsel
Kamis, 16 Apr 2026 14:15 WIB
Polres Tolikara menerima pengembalian senjata api yang sempat dirampas massa dalam bentrokan di Tolikara.
Foto: Polres Tolikara menerima pengembalian senjata api yang sempat dirampas massa dalam bentrokan di Tolikara. (dok. Istimewa)
Tolikara -

Bentrokan antarwarga pecah di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, hingga satu senjata api (senpi) milik polisi dirampas massa. Insiden itu mengakibatkan 1 warga meninggal dunia dan 4 polisi yang hendak melakukan pengamanan luka-luka diserang massa.

"Empat personel Polsek Bokondini mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis," kata Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Peristiwa itu terjadi di Desa Mairini, Distrik Bokondini, Selasa (14/4) siang. Seorang warga yang meninggal telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena untuk dilakukan autopsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sementara satu warga atas nama Ereki Wunungga (18) meninggal dunia akibat keributan tersebut dan hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan," paparnya.

Roberth menjelaskan, kasus ini bermula dari konflik internal keluarga imbas meninggalnya Denius Penggu di Desa Mairini. Penyebab meninggal Denius memicu perdebatan dan ketegangan antarkeluarga.

ADVERTISEMENT

Situasi semakin memanas ketika massa dari beberapa kampung seperti Desa Donggem, Abimbak, Kurip, dan Kaneunuk. Massa yang datang melayat sambil melakukan aksi pelemparan dan penebangan pohon di sekitar lokasi.

"Hal tersebut memicu aksi saling serang antar kelompok masyarakat menggunakan batu, senjata tajam, dan panah," ucap Roberth.

Personel Polsek Bokondini langsung menuju lokasi untuk melerai keributan. Personel terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan hingga memicu amarah massa.

Massa malah melakukan penyerangan menggunakan batu dan senjata tajam ke arah personel. Salah satu personel, Aiptu Dominggus Gannaran, sempat terpisah dan dikejar massa hingga mengalami penganiayaan.

"Pada saat itu, satu pucuk senjata api jenis revolver dengan nomor seri XK250621 miliknya dirampas oleh seorang warga yang diketahui bernama Apapu Pagawak, yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan," jelasnya.

Sehari setelah bentrokan, Roberth memimpin langsung pertemuan bersama tokoh adat, tokoh agama, pemerintah distrik, dan unsur TNI di Mapolsek Bokondini. Dalam pertemuan itu, Roberth meminta masyarakat tenang dan meminta senpi yang dirampas dikembalikan.

"Kami hadir untuk menjamin keamanan masyarakat. Kami berharap para tokoh dapat membantu berkomunikasi dengan warga agar senjata api tersebut segera dikembalikan," tegas Roberth.

Satu pucuk revolver beserta enam butir amunisi yang dirampas pun dikembalikan di Mapolsek Bokondini, Rabu (15/4). Pengembalian senjata api dilakukan melalui pendekatan persuasif terhadap pelaku yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan.


"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tokoh masyarakat. Ini bukti bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan kebersamaan," ujar Roberth.




(sar/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads