Sekuriti Kompleks Ngaku Dengar Suara Seperti Petasan di Hari Penembakan Yosua

Sekuriti Kompleks Ngaku Dengar Suara Seperti Petasan di Hari Penembakan Yosua

Tim detikNews - detikSulsel
Rabu, 26 Okt 2022 16:25 WIB
Jakarta -

Sekuriti kompleks rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, Marjuki mengaku mendengar suara seperti petasan pada hari Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J ditembak. Marjuki menuturkan suara seperti pesan itu terdengar sebanyak tiga kali.

Hal tersebut diungkapkan Marjuki saat menjadi saksi sidang kasus perintangan penyidikan pembunuhan Yosua dengan terdakwa AKP Irfan Widyanto di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jalan Ampera Raya, Jaksel, Rabu (26/10/2022).

Dilansir dari detikNews, Marjuki menuturkan di hari penembakan Brigadir Yosua dia sedang berjaga di pos sekuriti. Dia juga mengklaim layar yang menampilkan CCTV saat itu masih berfungsi.


"Saya lagi piket. Kurang lebih 20 meter," kata Marjuki.

Hakim kemudian mengkonfirmasi terkait suara tembakan dari rumah dinas Ferdy Sambo. Marjuki mengaku hanya mendengar suara seperti petasan sebanyak 3 kali.

"Apakah saat Saudara sedang piket dengar sesuatu dari rumah 46 (rumah dinas Ferdy Sambo)?" ucap jaksa.

"Tidak mendengar, cuma saya mendengar suara kayak petasan. Mungkin sekitar tiga (kali)," ucap Marjuki.

Marjuki mengaku ada keramaian terjadi saat dirinya piket pada Jumat (8/7) itu. Marjuki mengaku mendekat ke rumah dinas Sambo saat suasana semakin ramai.

"Standby di pos cuma pas banyak datang saya mendekati. Cuma belum tahu," tuturnya.

Selain itu, Marjuki mengaku tak tahu ada ambulans datang.

Hakim juga bertanya ke Marjuki soal suara seperti petasan itu. Marjuki kembali mengulangi bahwa dirinya mendengar suara tersebut sekitar tiga kali.

"Lebih dari tiga kali," ujar Marjuki.

Dalam kasus ini, AKP Irfan didakwa merusak CCTV yang membuat terhalanginya penyidikan kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Perbuatan itu dilakukan AKP Irfan bersama lima orang lainnya.

"Terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan/atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya," ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan di PN Jaksel, Rabu (19/10).

AKP Irfan didakwa dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 dan Pasal 48 juncto Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 233 KUHP dan Pasal 221 ayat 1 ke-2 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

(hsr/nvl)