RSUP Wahidin Akui Bayi Danendra Jadi Korban Salah Suntik Perawat Magang

Xenos Zulyunico Ginting - detikSulsel
Jumat, 12 Agu 2022 20:04 WIB
Pertemuan keluarga bayi Danendra dengan pihak RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Foto: Pertemuan keluarga bayi Danendra dengan pihak RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar. (Isak Pasa'buan/detikSulsel)
Makassar -

Direktur Medic Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Sudirohusodo, Nu'man AS Daud mengakui bayi Danendra yang meninggal pada pertengahan Juli lalu menjadi korban salah suntik oleh oknum perawat magang. Namun belum dapat dipastikan apakah korban meninggal buntut kasus salah suntik tersebut, atau karena faktor lain.

"Perawat magang ini tidak cermat mengambil obat. Obat yang disuntikkan seharusnya Ampicillin, karena ada dua spuit di situ namun yang masuk adalah obat seftriakson," ungkap Nu'man saat menghadiri RDP di Komisi E DPRD Sulsel, Jumat (12/8).

Nu'man menjelaskan bahwa dua-duanya merupakan jenis obat yang sama, yakni antibiotik. Menurutnya, seftriakson adalah obat yang bisa digunakan jika ampicillin sedang tidak tersedia.


"Seftriakson adalah lini kedua, artinya lini kedua, kalau tidak ada ampicillin sebenarnya seftriakson juga bisa dipakai untuk pneumonia," jelasnya.

Lebih lanjut, Nu'man mengatakan berdasarkan hasil evaluasi, dosis seftriakson yang diberikan kepada bayi Danendra masih dalam batas terapi.

"Dan dosis yang diberikan, meskipun bukan obatnya waktu itu yang masuk, pada saat kita lakukan evaluasi, dosisnya pun dalam batas dosis terapi," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi E, Andi Irfan AB mengatakan, bahwa pemberian sanksi berupa pemotongan tunjangan sebesar 25 persen selama 6 bulan terhadap perawat magang yang melakukan kesalahan tidak cukup.

"Bahkan pemecatan terhadap direktur rumah sakit juga itu belum cukup untuk saya. Karena ini kejahatan kemanusiaan Pak," ujar Irfan dalam kesempatan yang sama, Jumat (12/8).

Irfan juga menganggap, pemeriksaan dan evaluasi yang dilakukan oleh RSPU Wahidin masih kurang dan perlu dilakukan investigasi lebih lanjut untuk mengungkap penyebab sebenarnya kematian Danendra.

"Penting untuk ada langkah-langkah yang lebih jauh lagi untuk melakukan investigasi yang mendalam. Karena kita sepakat tadi, kita tidak mau terjadi (hal seperti ini) pada kesempatan yang lain," tegasnya.

Pihaknya memastikan akan membawa persoalan ini ke pusat, mengingat Rumah Sakit Wahidin adalah milik Pemerintah Pusat di bawah Kementrian Kesehatan RI.

"Kita akan lanjutkan persoalan ini pada jenjang yang lebih di atas. Kami tentu akan melakukan ini ke Pemerintah Pusat. Karena Ini bukan (hanya) untuk kepentingan Danendra dan keluarga, tapi juga untuk kepentingan masyarakat Sulsel." katanya.

Awal Kasus Bayi Danendra Jadi Korban Salah Suntik

Untuk diketahui, bayi Danendra awalnya dibawa ke rumah sakit pada Kamis (14/7) dengan diagnosis usus turun. Bayi Danendra kemudian dinyatakan meninggal dunia sehari sebelum menjalani operasi yang rencananya dilakukan Selasa (19/7).

"Malam itu ada perawat masuk mau suntik anak ku, katanya obat untuk Danendra (nama korban). Saya bilang iya di sini, masuk mi dia suntik anakku obat," ujar Mustainna Mansyur, ibu dari bayi Danendra kepada detikSulsel, Kamis (21/7).

"Setelah masuk satu spuit besar, saya liat itu obat, ih salah itu untuk Naisiah, bukan untuk Danendra," sambungnya.

Menurutnya, bayinya meninggal akibat seorang oknum perawat di rumah sakit salah suntik obat. Korban lantas meninggal dunia satu jam setelah menerima suntikan obat tersebut.

"Dia bilang mi itu (perawat) oh salah, na masuk mi itu satu spuit, terus pergi mi. Saya ikuti itu perawat keluar pergi melapor ke dokter. Setelah masuk ka kembali di kamar kulihat membiru mi anakku," tutur Mustainna.



Simak Video "Bayi di Sulut Tewas Diduga Dibunuh Ibu Kandungnya"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/hmw)