6 Prinsip Hidup Orang Bugis yang Patut Dijadikan Pegangan

6 Prinsip Hidup Orang Bugis yang Patut Dijadikan Pegangan

Edward Ridwan - detikSulsel
Jumat, 23 Sep 2022 00:00 WIB
Orang Bugis
Prinsip hidup orang Bugis (Foto: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI)
Makassar -

Prinsip hidup orang Bugis layak untuk dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya sarat akan nilai-nilai yang luhur dan mulia.

Sejak dulu, orang-orang Bugis dikenal sebagai suku bangsa yang tangguh, beradab dan beretika tinggi. Sikap-sikap ini membawa banyak orang Bugis yang sukses bahkan hingga ke perantauan.

Dilansir dari Jurnal UIN Alauddin Makassar yang berjudul "Falsafah Hidup Orang Bugis (Study tentang Pappaseng Kajaolaliddong di Kabupaten Bone)", disebutkan bahwa nilai-nilai utama kebudayaan Bugis telah berhasil membangun karakter orang Bugis yang mampu menata dan membina prikehidupannya. Nilai-nilai tersebut bahkan dipandang dapat menjadi jiwa dan moral pembangunan nasional.


Disebutkan bahwa prinsip dan falsafah hidup ini bersumber dari petuah nenek moyang yang diajarkan turun temurun. Selain itu juga dilestarikan dalam sastra lontara Bugis yang disebut sebagai pappaseng.

Pappaseng adalah naskah yang berisi pesan-pesan, nasehat, wasiat dari orang berilmu pada jaman dahulu. Naskah pappaseng ini salah satunya tercantum dalam buku Boeginesche Chrestomathie, karangan Dr. B.F. Matthes.

Dalam naskah itulah banyak ditemukan prinsip-prinsip hidup orang Bugis yang luhur dan mulia. Berikut ini 6 prinsip hidup orang Bugis yang dirangkum detikSulsel dari jurnal tersebut.

1. Prinsip Hidup Orang Bugis: Lempu' (Kejujuran)

Dalam bahasa Indonesia, lempu' berarti jujur. Dalam berbagai konteks kata ini juga berarti ikhlas, benar, baik atau adil. Lawannya adalah culas, curang, dusta, khianat, seleweng, tipu, aniaya dan semacamnya.

Berbagai cara naskah lontara pappaseng mendeskripsikan tentang nilai kejujuran ini. Salah satunya diceritakan, ketika To Ciung MaccaE ri Luwu (seorang cendekiawan luwu) diminta nasihatnya oleh Datu Soppeng, La Manussa' Takkarangeng, beliau menyatakan ada empat perbuatan jujur, yaitu:

  • Memaafkan orang yang berbuat salah;
  • Dipercaya lalu tak curang;
  • Tak menyerakahi yang bukan haknya;
  • Tidak memandang kebaikan kalau hanya buat dirinya, baginya baru dinamakan kebaikan jika dinikmati bersama.

Nilai dasar lempu' (kejujuran) menjadi sumber dari kepandaian. Kepandaian yang tidak bersumber dari kejujuran tidak akan mampu menopang kehidupan.

2. Prinsip Hidup Orang Bugis: Acca (Kebijaksanaan)

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, acca berarti kepintaran atau kepandaian. Namun makna kata acca yang sebenarnya dalam lontara Bugis lebih kepada cendekia, arif dan bijaksana.

Selain itu lontara juga menggunakan kata nawa-nawa (pikiran atau imajinasi). Jadi orang yang memiliki nilai acca disebut toacca, tokenawanawa atau pannawanawa. Bisa diartikan sebagai cendekiawan, intelektual, ahli pikir atau ahli hikmah arif.

To Ciung Maccae ri Luwu pada masa dulu mengatakan bahwa cendekiawan (tokenawanawa) mencintai perbuatan dan perkataan yang benar. Ketika menghadapi masalah, dia memikirkan kembali dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Hal ini sejalan dengan ungkapan Petta Matinroe ri Lariangbanngi (bangsawan tinggi Bone), bahwa orang pannawanawa adalah orang yang pikirannya ikhlas dan selalu mencari-cari solusi dari sebuah masalah.

3. Prinsip Hidup Orang Bugis: Asitinajang (Kepantasan)

Terjemahan bahasa Indonesia dari Asitinajang adalah kepatutan, kepantasan dan kelayakan. Berasal dari kata sitinaja yang artinya cocok, sesuai, pantas, patut atau layak.

Ungkapan lontara menyebutkan istilah, "Duduki kedudukanmu, tempati tempatmu". Ini bermakna mengambil sesuatu dari tempatnya dan menempatkan sesuatu pada tempatnya termasuk dalam perbuatan mappasitinaja.

Nilai kepantasan ini juga erat kaitannya dengan mengukur kemampuan diri seseorang. Terutama dalam menerima amanat atau tugas tertentu, haruslah sesuai dengan nilai kepantasan.

Dikisahkan, cucu Raja Arung Palakka, Lataddampare Puang ri Maggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran adat dan rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo. Bukan lantaran beliau tak mampu, tetapi lebih kepada menerapkan prinsip Asitinajang.

4. Prinsip Hidup Orang Bugis: Getteng (Keteguhan)

Getteng dapat diartikan sebagai teguh, kuat pada pendirian, tangguh dan erat pada keyakinan. Seperti halnya kejujuran dan kepantasan, nilai keteguhan juga berkonotasi positif.

To Ciung Maccae ri Luwu menyebutkan ada 4 macam perbuatan nilai keteguhan. Yaitu:

- Tak mengingkari janji;
- Tak mengkhianati kesepakatan;
- Tak membatalkan keputusan atau mengubah kesepakatan
- Jika bekerja dan berbicara, tak berhenti sebelum rampung.

5. Prinsip Hidup Orang Bugis: Reso (Kerja Keras)

Reso dalam bahasa Bugis biasa dipadankan dengan kata usaha atau kerja keras dalam bahasa Indonesia. Prinsip hidup orang Bugis ini dianggap sebagai simbol kehidupan yang paling penting.

Orang Bugis dikenal sangat menghargai waktu dalam kaitannya dengan usaha atau kerja keras (reso). Sebagaimana pepatah yang sangat terkenal di kalangan orang Bugis, "resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase dewata'e" yang artinya "hanya dengan kerja keras dan ketekunan tanpa kebosananlah akan menjadi jalan limpahan rahmat Tuhan".

Terutama bagi generasi muda wajib hukumnya untuk bekerja keras mencari nafkah sebagai bekal menghadapi masa depan. Namun selain bekerja keras juga perlu untuk mencari ilmu dari orang lain berupa pengetahuan umum (dibalairung) maupun pengetahuan praktis (di pasar).

6. Prinsip Hidup Orang Bugis: Siri' (Harga Diri)

Secara bahasa, Siri' dapat diterjemahkan menjadi malu. Namun bukan dalam arti harus menjadi orang pemalu, melainkan makna yang lebih tepat adalah tentang martabat dan harga diri.

Pengertian dalam naskah lontara sendiri menunjukkan bahwa siri' tidak lain dari suatu akibat. Bukankah akan muncul perasaan malu (siri') jika seseorang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Seseorang bukan hanya muncul rasa malunya disebabkan dia diperlakukan tidak baik, dipandang enteng atau tidak diperhitungkan. Tetapi perasaan malu (siri') ini pun harus timbul pada diri orang yang berbuat curang, zalim, khianat dan jahil.

Siri' harus muncul pada diri orang yang tidak berbuat patut, pada mereka yang melanggar adat, pada mereka yang suka bermalas-malasan dan menyia-nyiakan waktu.

Sebuah ungkapan dalam pappaseng menyebutkan, "utettong ri-ade'e, najagainnami siri'ku" yang artinya "Saya taat pada hukum adat, untuk menjaga harga diriku". Ini menunjukkan bahwa hakekat siri' harusnya dilihat sebagai wujud kebudayaan yang menyangkut martabat dan harga diri manusia dalam kehidupan kemasyarakatan.



Simak Video "Rumah Warga Bergeser 5 Meter Akibat Banjir dan Longsor di Parepare "
[Gambas:Video 20detik]
(edr/alk)