Renungan Harian Katolik Selasa 27 Oktober 2026: Belajar Mengalah

Renungan Harian Katolik Selasa 27 Oktober 2026: Belajar Mengalah

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Selasa, 27 Okt 2026 07:00 WIB
ilustrasi orang berdoa
Ilustrasi renungan harian Katolik (Foto: Unsplash/Patrick Fore)
Makassar -

Renungan Harian Katolik Selasa, 27 Oktober 2026, dapat menjadi bahan refleksi bagi umat Katolik untuk mengawali hari dengan doa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui renungan ini, umat diajak meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan firman Tuhan dan menemukan makna rohani dalam kehidupan sehari-hari.

Renungan harian Katolik bisa menjadi salah satu cara untuk memperkuat iman dan menumbuhkan semangat dalam menjalani aktivitas. Yuk, simak Renungan Harian Katolik Selasa, 27 Oktober 2026, lengkap dengan bacaan Kitab Suci, mazmur tanggapan, dan doa penutup sebagai panduan refleksi iman hari ini.

Bacaan Liturgi Katolik Selasa 27 Oktober 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan I: Ef 5:21-33

dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

ADVERTISEMENT

karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-2.3.4-5

Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!

Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.

Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,

Bacaan Injil: Luk 13:18-21

Maka kata Yesus: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?

Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."

Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?

Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

Renungan Harian Katolik 27 Oktober 2026: Belajar Mengalah

"Tunduklah seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus." (Ef. 5:21)

Bacaan hari ini mengajak kita memahami arti 'tunduk' dalam sebuah relasi. Tunduk bukan berarti kalah, lebih rendah, atau kehilangan suara.

Tunduk berarti bersedia merendahkan hati, menghargai orang lain, dan tidak selalu memaksakan kehendak sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini ternyata tidak mudah.

Saya pernah mengalami perbedaan pendapat dengan suami. Saat itu kami sama-sama merasa benar. Rasanya ingin marah karena saya merasa pendapat saya tidak dipahami; sementara suami pun tetap mempertahankan apa yang menurutnya benar.

Kalau diteruskan, percakapan itu bisa berubah menjadi pertengkaran. Akhirnya saya memilih diam. Bukan karena saya merasa kalah atau pendapat saya salah, tetapi karena saya menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus dimenangkan.

Ada kalanya diam menjadi cara untuk memberi ruang agar hati menjadi lebih tenang. Setelah emosi mereda, barulah kita dapat melihat persoalan dengan lebih jernih.

Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa "Tunduklah seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus" bukan hanya sebuah kata-kata indah. Ini adalah ajakan untuk belajar menempatkan kasih di atas ego.

Dalam keluarga terkadang kita perlu mengalah, mendengarkan, meminta maaf, atau memberi kesempatan kepada pasangan untuk menyampaikan pikirannya. Paulus juga mengingatkan agar suami mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi Gereja.

Kasih Kristus adalah kasih yang memberi diri, bukan mencari siapa yang paling benar atau paling berkuasa. Mungkin hari ini Tuhan mengajak kita bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan kasih. Bukan untuk membuktikan siapa yang benar, melainkan belajar menjaga hati dan hubungan.

Sudahkah kita bersedia menundukkan ego demi menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga?

Doa

Tuhan Yesus, ajarlah kami merendahkan hati, mendengarkan, dan mengasihi. Mampukan kami menahan kata-kata ketika emosi menguasai diri, serta berikan kebijaksanaan untuk memilih kasih daripada keinginan untuk menang. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Selasa, 27 Oktober lengkap bacaan, teks Mazmur Tanggapan, hingga doanya. Tuhan memberkati!



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads