Apa Itu Konsekrasi Katolik? Kenali Makna dan Waktu Pelaksanaannya

Apa Itu Konsekrasi Katolik? Kenali Makna dan Waktu Pelaksanaannya

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Sabtu, 12 Sep 2026 22:30 WIB
Umat Katolik mengikuti Misa Kamis Putih di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Ilustrasi konsekrasi Katolik (Foto: Gilang Faturahman/detikFoto)
Makassar -

Konsekrasi merupakan salah satu bagian penting dalam Misa atau perayaan Ekaristi umat Katolik. Bagian ini memiliki makna mendalam karena berkaitan dengan pengudusan roti dan anggur dalam perayaan Ekaristi.

Bagi sebagian umat, istilah konsekrasi mungkin masih terdengar asing. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan konsekrasi, maknanya, serta kapan konsekrasi dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi.

Nah, untuk mengetahuinya, simak penjelasan berikut yang telah dirangkum oleh detikSulsel. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Konsekrasi Dalam Gereja Katolik

Melansir laman Instagram Suara Gereja, konsekrasi disebut sebagai jantung Perayaan Ekaristi. Secara etimologis, istilah consecratio merujuk pada tindakan menguduskan, mengkhususkan, atau mempersembahkan sesuatu bagi Allah.

Konsekrasi berakar pada peristiwa Perjamuan Terakhir ketika Kristus mengambil roti dan anggur, mengucap syukur, lalu menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya kepada para rasul. Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) Nomor 79 menegaskan bahwa dalam Kisah Institusi dan Konsekrasi, kata-kata dan tindakan Kristus sendiri diulangi oleh imam.

ADVERTISEMENT

Melalui perayaan Ekaristi, Gereja menghadirkan kembali secara sakramental kurban Kristus yang satu dan sama, yakni penyerahan diri-Nya demi keselamatan manusia. Amanat Kristus untuk terus merayakan misteri tersebut membuat Gereja sepanjang zaman mengambil bagian dalam karya keselamatan yang diwujudkan melalui Ekaristi.

Sementara itu, Romo Alfons Kolo melalui kanal YouTube pribadinya menjelaskan bahwa Perayaan Ekaristi bukan sekadar simbol atau kegiatan untuk mengenang Perjamuan Terakhir. Ekaristi juga bukan sekadar makan roti bersama, melainkan perayaan iman yang menghadirkan Kristus bagi umat-Nya.

Gereja Katolik percaya bahwa Kristus sungguh hadir secara nyata dalam Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK), khususnya Nomor 1413, mengajarkan bahwa melalui konsekrasi terjadi transsubstansiasi, yakni perubahan substansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Kapan Konsekrasi Dalam Perayaan Ekaristi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konsekrasi merupakan salah satu bagian penting dalam perayaan Ekaristi atau Misa. Menurut Romo Bayu Ajie dan Romo Eko Wahyu, OSC, dalam kanal YouTube Prikop Katolik, konsekrasi menjadi bagian dari Liturgi Ekaristi.

"Bagian pertama dari Liturgi Ekaristi, yaitu konsekrasi. Bagian keduanya adalah komuni," kata Romo Eko Wahyu, seperti dikutip detikSulsel dari kanal YouTube Prikop Katolik.

Sementara itu, KGK No. 1353 menjelaskan bahwa dalam Doa Syukur Agung terdapat kisah institusi dan konsekrasi. Kata-kata yang digunakan dalam konsekrasi merujuk pada perkataan Yesus saat menetapkan Ekaristi, sebagaimana tercatat dalam Lukas 22:19 dan Matius 26:28.

"Kata-kata konsekrasi terdapat dalam Doa Syukur Agung yang berbunyi, 'Inilah Tubuh-Ku ... diserahkan bagimu' dan 'Darah-Ku ... yang ditumpahkan bagimu,'" lanjutnya.

Dalam tata perayaan Ekaristi/Misa, Liturgi Ekaristi dilaksanakan setelah Ritus Pembuka dan Liturgi Sabda, sebelum Ritus Penutup. Dengan demikian, konsekrasi berlangsung dalam rangkaian Liturgi Ekaristi, tepatnya di dalam Doa Syukur Agung.

Untuk mengetahui urutan lengkap perayaan Ekaristi, detikers dapat melihat Tata Perayaan Ekaristi (TPE) yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) berikut ini.

Bagaimana Kalau Imam Tidak Mengucapkan Kata-kata Konsekrasi?

Lantas, bagaimana jika imam lupa mengucapkan kata-kata konsekrasi dalam Perayaan Ekaristi? Romo Alfons Kolo menjelaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dianggap sepele hanya karena imam sudah memiliki niat untuk merayakan Ekaristi.

"Kalau imam benar-benar melewati dan tidak mengucapkan kata-kata yang diperlukan, tidak boleh mengatakan, 'Tidak apa-apa, toh imam sudah berniat merayakan Ekaristi.' Tidak sesederhana itu," jelas Romo Alfons Kolo.

Jika konsekrasi tidak terjadi, maka tidak terjadi pula perubahan substansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Artinya, hosti atau roti yang tidak dikonsekrasi tetap merupakan roti dan bukan Tubuh Kristus.

Jika imam lupa mengucapkan kata-kata konsekrasi dan umat menyadarinya sebelum Misa selesai, umat dapat mengingatkan imam dengan tenang, sopan, dan penuh hormat. Umat dapat mendekati imam dan menyampaikan secara perlahan agar bagian yang terlewat dapat diperbaiki.

"Imam perlu diingatkan secara tenang, sopan, dan hormat. Dekati imam dan bisikkan, 'Maaf, Romo, kata-kata konsekrasi belum didoakan.' Dengan demikian, imam dapat memperbaiki apa yang terlewat sesuai dengan tata liturgi Gereja," lanjutnya.

Imam kemudian dapat mengucapkan kembali forma atau kata-kata konsekrasi sesuai dengan ketentuan liturgi yang berlaku. Hal ini penting karena bagian tersebut berkaitan dengan sesuatu yang sangat kudus dalam Perayaan Ekaristi.

Namun, bagaimana jika imam baru menyadari bahwa kata-kata konsekrasi terlewat setelah Misa selesai? Dalam situasi tersebut, imam sebaiknya tidak mengambil kesimpulan atau mencari pembenaran sendiri, melainkan berkonsultasi dengan pihak yang berwenang dalam Gereja.

"Ini menjadi persoalan yang lebih kompleks. Jangan mencari pembenaran sendiri. Imam tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan uskup dan vikjen atau kuria keuskupan agar persoalan tersebut dapat dinilai dan ditangani sesuai hukum liturgi Gereja, karena kita sedang berhadapan dengan Sakramen Mahakudus," pungkasnya.

Bagaimana Sikap Umat Saat Konsekrasi

Menurut Frater Gaudensius Daneswara Dang Atmaja SCJ, melalui akun Komsos Gereja Santo Barnabas, Paroki Pamulang, sikap umat saat konsekrasi mengacu pada ketentuan dalam PUMR. Pada umumnya, umat mengambil sikap berlutut selama konsekrasi, tetapi jika kondisi tidak memungkinkan, umat dapat berdiri dan membungkuk dengan khidmat sesaat setelah imam berlutut usai konsekrasi.

Lebih lanjut, Frater Gaudensius menjelaskan bahwa tidak ada aturan baku yang mengatur sikap umat ketika imam mengangkat hosti dan piala. Namun, umat tetap perlu memperhatikan ketentuan liturgi serta kenyamanan umat lain yang sedang mengikuti perayaan Ekaristi.

"Pada saat imam mengangkat hosti dan piala, apakah boleh kita memilih sikap sesuai dengan hati kita, seperti berdiri, mengangkat tangan, dan semacamnya? Tentu saja tidak ada larangan yang mengatur secara baku, tetapi terkadang hal tersebut dapat mengganggu umat yang lain," jelas Frater Gaudensius.

Ia kemudian mengingatkan bahwa ketentuan liturgi perlu lebih diutamakan daripada pilihan pribadi yang dapat mengganggu keseragaman dan kekhidmatan perayaan.

"Oleh karena itu, ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan," lanjutnya.

Selanjutnya, ketika imam mengangkat hosti dan piala, umat dianjurkan memandangnya dengan penuh hormat dan khidmat. Momen tersebut menjadi bagian penting dalam perayaan Ekaristi karena Gereja Katolik mengimani kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus.

Itulah informasi mengenai konsekrasi Katolik. Semoga menambah wawasan ya, detikers!



(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads