Pernahkah muncul pertanyaan di benak detikers, 'ke mana roh pergi setelah kematian menurut ajaran Islam?'. Pertanyaan ini mungkin sering muncul, terutama saat menyaksikan jasad terbaring kaku dan nyawa telah terlepas dari tubuh.
Dilansir dari detikHikmah, dalam ajaran Islam, kematian bukanlah akhir dari segalanya tapi justru menjadi gerbang menuju kehidupan di akhirat, tempat setiap manusia memulai perjalanan menuju keabadian. Dalam perjalanan ini, roh dituntun oleh malaikat untuk menghadap Allah SWT dan mempertanggungjawabkan amal perbuatan selama hidup di dunia.
Roh dalam Ajaran Islam
Dikutip dari buku Misteri Hidup Selepas Mati karya Miftahul Asror Malik, Islam melihat roh sebagai sesuatu yang berbeda dari anggota badan maupun benda-benda yang dikenal manusia. Roh digambarkan sebagai jisim bersifat cahaya yang luhur, ringan, hidup, dan bergerak melalui elemen tubuh seperti air yang mengalir di sungai, minyak di dalam zaitun, dan api yang membara di dalam kayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penjelasan tersebut, proses pencabutan roh juga digambarkan berbeda. Ada roh yang dicabut dengan halus sebagaimana kisah Nabi Idris AS, sementara ada pula yang dicabut dengan cara yang keras sebagaimana kisah hamba kafir.
Ketika roh telah sampai di kerongkongan, malaikat maut mengambilnya. Roh dengan golongan orang yang beruntung akan disambut malaikat rahmat, sedangkan roh dengan golongan orang yang celaka akan disambut malaikat azab.
Perjalanan Roh Setelah Kematian dalam Islam
Perjalanan roh setelah kematian menurut ajaran Islam dijelaskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ar-Ruh. Dalam kitab tersebut, disebutkan bahwa perjalanan roh setelah kematian sangat bergantung pada amal perbuatan manusia selama hidup di dunia.
Hal ini dikisahkan oleh salah satu seorang sahabat Nabi, Barra' bin 'Azib yang kala itu tengah bersama jenazah di Baqi Ghardad bersama Rasulullah SAW.
Kisah ini kemudian diriwayatkan dalam hadits oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Adapun Imam An-Nasa'i dan Ibnu Majah hanya meriwayatkan bagian awalnya dari hadits tersebut.
Perjalanan Roh Orang Mukmin Setelah Kematian
Dikisahkan oleh Barra' bin 'Azib yang berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya apabila seorang hamba mukmin menghadap menuju akhirat dan terputus dari dunia, maka turunlah kepadanya para malaikat yang wajah mereka laksana matahari.
Kemudian mereka duduk sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut yang kemudian duduk di dekat kepala si hamba mukmin itu." Malaikat maut kemudian berkata, "Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dan keridhaan Allah!"
Barra bin 'Azib berkata, "Kemudian roh itu keluar mengalir seperti mengalirnya tetes air dari wadahnya, malaikat maut pun mengambil roh itu.
Ketika malaikat maut mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkan begitu saja roh itu berada di tangan malaikat maut barang sekejap, mereka langsung mengambil roh itu kemudian mereka letakkan roh itu dalam kafan dengan wewangiannya (hanuth). Lalu roh hamba mukmin itu pun keluar darinya dengan aroma kasturi yang paling semerbak di muka bumi."
Barra' bin 'Azib melanjutkan, "Para malaikat itu kemudian naik bersama roh itu dan tidak pernah mereka melewati kumpulan malaikat di tengah perjalanan bersama roh tersebut, kecuali para malaikat yang dilewati itu bertanya, "Roh siapakah yang baik itu?" Para malaikat pembawa roh menjawab, "Dia adalah Fulan bin Fulan!" dengan menyebut nama terbaik yang dimiliki roh itu ketika dia masih hidup di dunia.
Demikian mereka terus sampai akhirnya mereka tiba di langit dunia. Para malaikat itu lalu meminta agar pintunya dibuka, maka dibukalah pintu langit dunia itu demi hamba mukmin tersebut. Roh itu terus dibawa dari satu langit ke langit berikutnya oleh para malaikat. Sampai akhirnya roh itu tiba di langit yang di situ ada Allah SWT.
Allah SWT lalu berkata, "Tuliskanlah catatan hamba-Ku ini di 'illiiyyun, lalu kembalikanlah dia ke bumi karena sesungguhnya dari bumi itulah Aku menciptakan mereka, di situ Aku kembalikan mereka dan dari situ juga Aku akan keluarkan mereka sekali lagi."
Barra' bin 'Azib melanjutkan, "Roh hamba mukmin itu lalu dikembalikan ke tubuhnya. Dua sosok malaikat kemudian mendatanginya dan mendudukkannya. Dua malaikat itu lalu berkata kepadanya, "Siapakah Tuhanmu?"
Dia menjawab,
"Tuhanku Allah!"
Dua malaikat itu lalu berkata kepadanya, "Apa agamamu?"
Dia menjawab, "Agamaku Islam!"
Dua malaikat itu lalu berkata kepadanya, "Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian itu?"
Dia menjawab, "Dia adalah utusan Allah!"
Dua malaikat itu lalu berkata kepadanya, "Apakah ilmumu?"
Dia menjawab, "Aku membaca Kitabullah. Aku beriman kepadanya dan aku benarkan ia!"
Maka kemudian terdengar penyeru dari langit yang berkata, "Telah benarlah hamba-Ku itu! Maka tempatkanlah dia di dalam surga dan bukakanlah oleh kalian untuknya satu gerbang menuju surga!"
"Maka datanglah kepada roh mukmin itu angin dan harumnya surga. Kemudian dilapangkan baginya kuburannya sejauh mata memandang. Lalu datanglah kepadanya sesosok lelaki berwajah rupawan dengan pakaian indah dan aroma harum.
Sosok itu berkata, 'Bergembiralah engkau dengan sesuatu yang menyenangkanmu! Ini merupakan hari yang dijanjikan kepadamu.
Roh mukmin itu bertanya, 'Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan!'
Sosok itu menjawab, 'Aku adalah amal salehmu!'
Perjalanan Roh Orang Kafir
Masih diceritakan oleh Barra bin 'Azib, ia melanjutkan, "Sesungguhnya seorang hamba yang kafir, apabila dia terputus dari dunia dan menuju akhirat, turunlah kepadanya dari langit rombongan malaikat berwajah hitam yang membawa kantong kulit.
Mereka lalu duduk pada hamba kafir itu sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut yang lalu duduk di dekat kepalanya kemudian berkata, 'Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah engkau menuju murka dan kemarahan Allah!"
"Maka roh si kafir itu pun berpisah dari tubuhnya. Malaikat maut mencabutnya seperti dicabutnya safud (tusuk daging untuk memanggang) dari wol basah, lalu dia mengambil roh itu.
Ketika malaikat maut mengambil roh kafir itu, para malaikat lainnya tidak membiarkannya ada di tangan malaikat maut barang sejenak, tetapi mereka langsung menempatkannya di dalam kantong kulit itu, kemudian roh itu keluar dari kantong tersebut laksana bangkai paling busuk yang ada di bumi.
Para malaikat lalu naik bersama roh itu dan tidak pernah mereka melewati kumpulan malaikat di tengah perjalanan bersama roh tersebut, kecuali para malaikat yang dilewati itu bertanya, 'Roh siapakah yang buruk itu?'
Para malaikat pembawa roh menjawab, 'Dia adalah Fulan bin Fulan!' Dengan menyebut nama terburuk yang dimiliki roh itu ketika dia masih hidup di dunia.
Demikian mereka terus sampai akhirnya mereka tiba di langit dunia. Para malaikat itu lalu meminta agar pintunya dibuka, maka dibukalah pintu langit dunia itu untuknya." Sampai di situ Rasulullah SAW membaca ayat:
"Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum." (QS Al-A'raf: 40)
Setelah itu Allah SWT berkata kepada para malaikat, "Tulislah oleh kalian catatannya dalam Neraka Sijjin di dasar terendah!" Lalu roh kafir itu pun dicampakkan. Sampai di situ, Rasulullah SAW membaca ayat:
"Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS Al-Hajj: 31)
Roh hamba kafir itu pun dikembalikan ke tubuhnya. Dua sosok malaikat kemudian mendatanginya dan mendudukkannya.
Dua malaikat itu lalu berkata kepadanya, "Siapakah Tuhanmu?"
Dia menjawab, "Hah... hah... aku tak tahu."
Dua malaikat itu lalu berkata kepadanya, "Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian itu?"
Dia menjawab, "Hah... hah... aku tak tahu."
Kemudian terdengar penyeru dari langit yang berkata, "Telah dustalah dia! Maka jerumuskanlah dia ke dalam neraka dan bukakanlah oleh kalian untuknya satu gerbang menuju neraka!"
Seketika itu pula datanglah kepada roh kafir itu panas dan kobaran neraka, sementara kuburnya dijadikan sempit hingga membuat tulang-tulang rusuknya bertumpang-tindih.
Setelah itu, datanglah kepadanya sesosok lelaki berwajah buruk dengan pakaian jelek dan bau busuk, seraya berkata, "Bergembiralah engkau dengan yang mencelakaimu! Inilah hari yang diancamkan padamu!"
Roh kafir itu bertanya, "Siapakah engkau? Sesungguhnya wajahmu adalah wajah yang mendatangkan keburukan."
Sosok itu menjawab, "Aku adalah perbuatanmu yang buruk!" Roh kafir itu pun berkata, "Wahai Tuhan, janganlah Engkau jadikan dulu kiamat!"
Wallahu a'lam.
