Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kaki Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara, sudah 21 hari belum padam. Petugas masih terkendala proses pemadaman.
"Kebakaran di kaki Gunung Klabat kini mendekati 400 hektare," kata Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda kepada detikcom Jumat (9/10/2026).
Joune menuturkan, petugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman. Sejumlah titik api di lokasi masih sulit dijangkau petugas.
"Kendala pemadaman akibat angin kencang dan medan yang sulit," imbuhnya.
Kebakaran Gunung Klabat yang berhari-hari turut mempengaruhi kualitas udara di Minut. Hal ini diperparah masih maraknya kejadian kebakaran di lokasi lain, termasuk tempat pembuangan akhir (TPA).
"Salah satu dampak kebakaran, menyebabkan asap pekat atau smog yang dalam beberapa hari terakhir menyelimuti wilayah Minahasa Utara," tuturnya.
"Kondisi udara yang memburuk ini ikut dipengaruhi oleh faktor cuaca dan arah mata angin, yang membawa asap dari wilayah lain," tambah Joune.
Pemkab Minut sebelumnya telah menetapkan status masa tanggap darurat karhutla. Status ini kemudian kembali diperpanjang mulai 8 hingga 21 Oktober.
"Masa tanggap darurat kami perpanjang selama 14 hari sejak kemarin 8-21 Oktober 2026, untuk mengoptimalkan penanganan lintas sektor yang terpadu," bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sulut, Reiner Dondokambey belum merinci detail lahan yang terbakar di Gunung Klabat. Pihaknya mengaku terhambat masalah teknis untuk melakukan pemantauan satelit.
"Kami kadang kesulitan karena kalau berawan alat pemantau tak bisa melacak," imbuh Reiner.
Diketahui, kebakaran di kaki Gunung Klabat dilaporkan mulai terjadi pada Sabtu (19/9). Hingga kini, tim BPBD, Damkar, TNI dan Polri serta relawan masih di lokasi melakukan pemadaman.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
(sar/hsr)